Rest Area Wringinanom Segera Kembali ke Tangan Pemkab

Biyan Mudzaky Hanindito • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:54 WIB
UNTUK WISATAWAN: Rest Area di Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo rampung dibangun pada September 2025
UNTUK WISATAWAN: Rest Area di Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo rampung dibangun pada September 2025.

PONCOKUSUMO, RADAR MALANG - Pembangunan rest area Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo rampung. Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen-PU) akan segera menyerahkan aset tersebut ke Pemkab Malang. Jika tak ada aral, Berita Acara Serah Terima (BAST) diteken September depan.

"Rencananya pada 9 September nanti di BAST,” kata Camat Poncokusumo Didik Agus Mulyono.

Baca Juga: Rest Area Jalur Malang-Bromo Ditutup Lagi

Seperti diberitakan, rest area di jalur utama menuju wisata Gunung Bromo itu mulai dibangun awal 2024. Biaya pembangunannya menghabiskan Rp 83,36 miliar. Semuanya ditanggung Kemen-PU menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pengerjaan membutuhkan waktu setahun lebih. Pada awal September 2025 dinyatakan proyek rampung.

Kemudian Maret lalu ditanda tangani Berita Acara Serah Terima Operasional (BASTO) dan dikelola Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma) Tri Makmur.

BUMDes tersebut gabungan dari tiga desa di dua kecamatan. Yakni Desa Wringi nanom dan Gubugklakah di Kecamatan Poncokusumo. Kemudian Desa Duwet, Ke camatan Tumpang.

Baca Juga: Kasus Jukir Rest Area Karangploso 'Malak' Sopir Truk Rp 20 Ribu Berakhir di Kepolisian: Saling Maaf-Maafan

Dia mengatakan, ada dua hal yang perlu diperhatikan sebelum penandatanganan BAST. Yakni kemampuan Bumdesma dalam mengelola fasilitas tersebut. Termasuk kemampuan finansial.

Didik menyebut, penyertaan modal dari 3 desa tersebut totalnya di angka Rp 30 juta. “Pendapatannya juga minim sekali dari parkir itu. Tidak mampu membayar listrik yang per bulannnya mencapai Rp 12 juta," katanya. "Juga air walau pakai sumur bor tapi pompanya pakai genset,” tambahnya.

Peraoalan lain, dia meng atakan, Bumdesma juga dengan keadaan kesulitan membayar petugas penjaga. Apalagi akhir-akhir ini Bumdesmaidak mendapat kucuran dana dari tiga desa lantaran terimbas efisiensi.

Masalah kedua yakni aliran listrik. Sejak 2025 lalu, PLN sudah mencabut aliran listrik untuk rest area tersebut. “Informasi dari Balai Kemen-PU yang membawahi ini, mau berkoordinasi dengan PLN untuk pasang jaringan lagi, dengan kapasitas 16 ribu watt,” sebut Didik.

Keadaan tersebut juga diperparah dengan adanya kerusakan di banyak titik rest area. Mulai dari ornamen yang rusak, cor beton retak, sampai barang-barang yang dicuri. (biy/dan)

Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang
BASTO Kemen-PU BAST Rest area