Petani Padi di Landungsari, Kabupaten Malang Mengeluhkan Gagal Panen akibat Kekeringan

Biyan Mudzaky Hanindito • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 15:58 WIB
Ilustrasi petani memanen padi
Ilustrasi petani memanen padi

 

KEPANJEN – Imbas kekeringan sudah dirasakan petani di Desa Landungsari, Kecamatan Dau. Mereka mengalami gagal panen. Kondisi tersebut berpotensi melanda kawasan lain jika tak segera diantisipasi oleh pemerintah.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Avicena Medisca Saniputra mengatakan, pihaknya sudah mendapat laporan kejadian gagal panen tahun ini. Yakni tanaman padi seluas 0,1 hektare di Desa Landungsari, Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

“Informasi yang kami dapat, petani mencoba dan memaksa tanam padi, padahal biasanya tanam jagung dan saat ini olah tanah untuk ditanami jagung,” ujar Avicena kemarin.

Menurutnya, setiap jenis tanaman memiliki risiko masing-masing apabila dilanda kekeringan.

“Tanaman pangan ini bisa mengalami keterlambatan panen, anakan produktif turun, pengisian bulir tidak optimal, dan gabah hampa meningkat, hingga paling parahnya bisa puspo atau gagal panen,” kata dia.

”Sementara pada tanaman holtikultura dan perkebunan, dia melanjutkan, risikonya bisa stres, kualitas hasil panen menurun, dan tanaman layu hingga mengering,” tambah pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.

Meski ancaman sudah mengintai petani, dia menyebutkan bahwa untuk standing crop atau ketersediaan tanaman hidup pada tanaman pangan, holtikultura, dan perkebunan tergolong masih aman.

“Dari penyuluh pertanian yang tersebar di 33 kecamatan, mereka menyatakan di daerah masing-masing masih aman,” katanya.

Data DTPHP menunjukkan, untuk tanaman pangan, standing crop padi dari awal Januari sampai Juli 2026 berada di angka 11.156 hektare, jagung 9.126 hektare, dan kedelai 2,5 hektare. Kemudian pada tanaman holtikultura, untuk sayur dan buah semusim seperti bayam, kangkung, sawi, cabai, tomat, dan semangka luas tanamnya 12.338 hektare.

Lalu tanaman buah tahunan seperti mangga, durian, rambutan, pisang, pepaya, dan alpukat berada di angka 42.639 hektare. Lalu untuk tanaman perkebunan semusim ada di angka 49.205,28 hektare, dan tahunan 45.834,14 hektare.

Meskipun umumnya kondisi pertanian masih aman, pihaknya menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Harapannya agar kegagalan panen di Desa Landungsari, Dau tidak terulang di lokasi lain.

“Langkah antisipasinya ya melakukan irigasi perpompaan, rehab jaringan irigasi tersier, pompanisasi, dan pipanisasi,” sebut Kabid Sarana, Prasarana dan Penyuluhan (PSP) DTPHP Kabupaten Malang Mursidin Purwanto.

Sementara untuk irigasi perpompaan sudah ada 1.400 unit yang berasal dari DTPHP. Dia mengatakan, banyak kelompok tani juga mengadakan pompa secara swadaya, namun dia belum mendata jumlahnya.

“Untuk tahun ini ada 112 lokasi di seluruh kecamatan yang kami lakukan pompanisasi. Masih akan bertambah jika diperlukan,” imbuh dia.

Untuk rehabilitasi irigasi tersier, dia mengatakan, tahun ini Kabupaten Malang mendapatkan bantuan dari Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) Kementerian Pertanian (Kementan). Bantuan itu langsung dikucurkan langsung ke kelompok tani (poktan).

“Per unit irigasi, anggarannya mencapai Rp 100 juta. Sementara ini yang tengah dikerjakan ada 70 unit di seluruh kecamatan, dengan menyesuaikan ketersediaan air di masing-masing wilayah,” tandas Mursidin.(biy/dan)

Editor : Mahmudan
Malang kekeringan kekeringan gagal panen