PAKISAJI – Kekeringan tidak hanya berimbas pada krisis air bersih, tetapi juga mengancam pertanian. Setidaknya itu dirasakan petani padi di Pakisaji. Musim panen sebelumnya, 1,2 hektare lahan hanya menghasilkan 3 ton padi. Merosot drastis dibanding kondisi normal yang menghasilkan 9 ton.
”Kalau airnya berkurang, pertumbuhan padi juga kurang bagus. Ada yang kerdil, ada pula yang sampai kering,” ujar Muhammad Slamet Abadi, salah seorang petani padi asal Pakisaji kemarin (3/9).
Selain produksi menurun, juga berimbas pada tertundanya musim tanam. Beberapa petani, termasuk Slamet menunda musim tanah karena kondisi lahan kering.
“Tanam pertama baru bisa dilaksanakan pada April lalu. Padahal biasanya Maret. Karena kami kan harus menunggu airnya lancar,” kata Slamet.
Imbas musim kemarau, Slamet juga mengaku menghabiskan biaya cukup besar untuk perawatan padi. Apalagi dia tidak masuk daftar petani penerima pupuk subsidi. Dia menggunakan pupuk urea, phonska, dan terkadang NPK.
Menanggapi keluhan petani, Kepala Dinas Pertanian Pangan, Holtikultura, dan Peternakan (DPTHP) Kabupaten Malang Avicenna Medisica Saniputera menegaskan, kondisi kemarau tahun ini belum sampai titik ekstrem bagi sektor padi.
”Dampak yang dirasakan petani, salah satunya berupa pergeseran atau keterlambatan masa tanam,” ujar Avicenna.
Bantuan pengairan berupa alat pompa air juga sudah disalurkan di masing-masing koramil. Alat tersebut dapat dipinjam melalui permohonan petani kepada Koramil.
“Petani bisa langsung datang ke Koramil terdekat dan meminjam alatnya,” ujarnya.
Terkait pupuk subsidi, Avicenna menjelaskan bahwa petani harus menjadi anggota kelompok tani dan terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok berbasis elektronik (e-RDKK). Itu jika petani ingin mendapat jatah pupuk subsidi.
”Petani yang belum terdaftar tidak dapat memperoleh alokasi tersebut sehingga diimbau mendaftarkan diri,” terang pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.(wb1/dan)
Editor : Mahmudan