Update: Kondisi Terbaru Pembangunan JLS di Malang

Biyan Mudzaky Hanindito • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 14:56 WIB
Jalur lintas selatan (JLS) di Malang (Biyan Mudzaky Hanindito/Radar Malang)
Jalur lintas selatan (JLS) di Malang (Biyan Mudzaky Hanindito/Radar Malang)

 

SUMBERMANJING WETAN - Pembangunan Jalan Lintas Selatan (JLS) terus berlanjut. Penuntasannya diperkirakan prioritas ke arah Barat alias Blitar. Setelah itu baru menyambung di sisi timur, arah Lumajang. Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga (DPUBM) Kabupaten Malang Khairul Isnaidi Kusuma.

Pembangunan sisi barat, dari pantai Modangan di Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo sampai jembatan perbatasan Malang-Blitar rampung pada 2022 lalu. Sementara sisanya, dari perbatasan sampai pantai Jolosutro belum diaspal. Masih berupa tanah.

Sedangkan untuk lintas ke arah Lumajang, dari simpang Pantai Sendang Biru di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan tidak ada jalan lurus ke arah timur. Yang ada hanya jalan ke utara menuju Turen dan Dampit, alias masih berupa trase jalan lama.

Kepala DPUBM Kabupaten Malang Khairul Isnaidi Kusuma mengungkap alasan pemerintah lebih memprioritaskan penuntasan JLS ke arah Blitar. Salah satunya, jarak ke arah Blitar lebih pendek.

"Ke Blitar kan sisa 5 kilometer lagi itu. Insyaallah tahun ini sudah selesai yang ke sana (Blitar) ” ucap dia.

Dia menerangkan, pembangunan konstruksi JLS itu tidak dilakukan oleh DPUBM Kabupaten Malang, melainkan Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (B2PJN) Jatim-Bali Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen-PU).

Sementara yang ke arah timur masih belum diketahui kapan akan dimulai pembangunannya. Dia menyebut, lintas ke Lumajang masih dalam tahap pengkajian trase. Lantaran medan yang dilalui tergolong ekstrem ketimbang ke arah barat.

“Panjang ke timur itu sekitar 35 sampai 40 kilometer,” ucap pria yang biasa disapa O'ong itu.

Di samping jaraknya lebih panjang, kondisi medan juga lebih sulit. Yakni khas pegunungan kapur dan berliku. Lalu ada juga jembatan panjang untuk sungai yang menjadi aliran lahar dingin.

Juga terdapat lereng galian dan timbunan tinggi. Serta adanya kawasan hutan, baik lindung maupun hutan produksi milik Perhutani membuat Kemen-PU, sekaligus DPUBM dua daerah harus memutar otak untuk mencari trase yang aman dan biaya pembebasan lahan irit.

Salah satunya, hanya sebagian trase yang membuka. Dengan demikian, sebagian rute memanfaatkan akses lama, yakni jalur Turen-Sendang Biru.

“Sempat ada rencana dari Druju (Sumawe) naik ke atas sedikit dan langsung belok ke timur. Artinya akan dibuka lahan dan trase baru ke arah timur. Tapi semuanya masih dalam pengkajian,” ujar Oong.

Sementara rencana lain adalah membuka lahan baru penuh dari simpang Sendang Biru, sampai perbatasan Malang-Lumajang, hingga titik akhirnya di Pasirian, Lumajang. Panjang total sekitar 69,682 kilometer. Terdiri atas 2 ruas jalan, Sendang Biru - batas Kabupaten Malang sepanjang 43,31 kilometer dan batas Malang - Lumajang 26,572 kilometer. Namun rencana mana yang akan dipakai, Pemkab menanti keputusan pusat. (biy/dan)

Editor : Mahmudan
Malang JLS Proyek JLS jalur lintas selatan