Digitalisasi Bank Sampah Banjararum Didorong untuk Jaga Partisipasi Warga

Andika Satria Perdana • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 15:01 WIB
Tim EIIS Departemen PWK Fakultas Teknik UB memberikan sosialisasi mengenai sistem digitalisasi bank sampah kepada Warga Banjararum, Kecamatan Singosari
Tim EIIS Departemen PWK Fakultas Teknik UB memberikan sosialisasi mengenai sistem digitalisasi bank sampah kepada Warga Desa Banjararum, Kecamatan Singosari

MALANG – Bank sampah tidak cukup hanya dibentuk dan dijalankan. Keberlanjutannya sangat bergantung pada kemampuan pengelola menjaga partisipasi warga secara konsisten. Hal itu mendorong tim Laboratorium Environmental, Infrastructure, and Information System (EIIS), Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB), mengembangkan sistem digital untuk mendukung pengelolaan Bank Sampah Banjararum, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) tersebut diketuai Dr. Mustika Anggraeni, S.T., M.Si., bersama Dr. Kartika Eka Sari, S.T., M.Si., Nailah Firdausiyah, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., dan Dadang Meru U., S.T., MURP., Ph.D. Kegiatan ini juga melibatkan satu asisten laboratorium dan lima mahasiswa S1 PWK UB sebagai fasilitator di lapangan.

Ketua Tim PkM Dr. Mustika Anggraeni, mengatakan keberlanjutan bank sampah sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Menurutnya, menjaga keterlibatan warga dalam jangka panjang menjadi tantangan tersendiri.

“Bank sampah merupakan inisiatif yang sangat bergantung pada partisipasi warga. Kita sering menganggap setelah masyarakat bersedia berpartisipasi, partisipasi itu akan selalu ada. Padahal, mempertahankannya dalam jangka panjang justru menjadi tantangan penting,” ujarnya.

Dalam asesmen awal, tim memetakan proses operasional Bank Sampah Banjararum, termasuk pencatatan identitas nasabah, jenis dan berat material, harga, nilai transaksi, hingga saldo. Pencatatan manual dinilai berpotensi menambah beban kerja pengelola, terutama ketika jumlah nasabah dan transaksi meningkat.

Karena itu, tim mengembangkan sistem pencatatan berbasis website yang disesuaikan dengan kebutuhan bank sampah. Sistem tersebut mengintegrasikan data nasabah, jenis material, berat, harga, transaksi, dan saldo. Data juga dapat ditampilkan melalui dashboard berupa ringkasan, grafik, dan diagram sehingga aktivitas bank sampah lebih mudah dipantau.

“Kalau pencatatan digital justru menambah pekerjaan pengelola, maka tujuan kita tidak tercapai. Teknologi seharusnya mengurangi beban administrasi, membuat transaksi lebih mudah ditelusuri, dan meningkatkan akuntabilitas kepada nasabah,” kata Mustika.

Sistem tersebut juga dirancang untuk membantu pengelola membaca pola partisipasi masyarakat. Data transaksi dapat dikaitkan dengan identitas nasabah dan lokasi tempat tinggal hingga tingkat RT dan RW. Dengan Banjararum yang terdiri dari 16 RW dan 93 RT, data tersebut dapat membantu melihat nasabah aktif, frekuensi setoran, jenis material yang terkumpul, serta wilayah dengan aktivitas bank sampah.

Informasi itu juga dapat menjadi indikator awal ketika aktivitas nasabah atau wilayah tertentu mulai menurun. Pengelola kemudian dapat melakukan tindak lanjut sebelum partisipasi masyarakat semakin berkurang.

Digitalisasi tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung ekonomi sirkular. Material yang telah dipilah dapat dipertahankan nilai ekonominya melalui penjualan, pemanfaatan kembali, maupun daur ulang.

“Di sinilah partisipasi masyarakat dan ekonomi sirkular bertemu. Ekonomi sirkular tidak akan berjalan hanya karena material memiliki nilai jual. Material harus dipilah dan dikembalikan ke siklus pemanfaatan, dan itu membutuhkan partisipasi warga yang terus berlangsung,” jelasnya.

Sosialisasi Tim EIIS Departemen PWK Fakultas Teknik UB kepada warga Desa Banjararum, Kecamatan Singosari
Sosialisasi Tim EIIS Departemen PWK Fakultas Teknik UB kepada warga Desa Banjararum, Kecamatan Singosari

Selain mengembangkan sistem, tim PkM juga melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada pengelola serta nasabah. Pengelola mendapatkan pendampingan terkait pencatatan transaksi dan pengelolaan data, sedangkan nasabah diperkenalkan dengan informasi yang tersedia melalui sistem digital.

Mustika menegaskan teknologi bukan pengganti partisipasi masyarakat. Bank sampah tetap membutuhkan warga yang aktif memilah dan menyetorkan sampah, pengelola yang menjalankan kegiatan, serta kepercayaan antara keduanya.

“Teknologi memang tidak dapat menciptakan partisipasi dengan sendirinya, tetapi dapat membantu membuat partisipasi lebih mudah dikelola dan dipertahankan,” pungkasnya.

Program ini juga mendukung sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, SDG 12 terkait konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, SDG 9 melalui pemanfaatan teknologi, serta SDG 17 yang menekankan pentingnya kemitraan dalam pembangunan berkelanjutan.

Editor : Andika Satria Perdana
Tim EIIS Departemen PWK UB singosari bank sampah Digitalisasi