Bangun Jaringan Pipa Air untuk Atasi Kekeringan

Ramizard Rafsanjani • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 09:20 WIB
SOLUSI SEMENTARA: Petugas BPBD Kabupaten Malang melakukan dropping air bersih di Panggung Weru, Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, Sabtu (3/10).
SOLUSI SEMENTARA: Petugas BPBD Kabupaten Malang melakukan dropping air bersih di Panggung Weru, Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, Sabtu (3/10).

KABUPATEN, RADAR MALANG – Dropping air masih menjadi tumpuan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Malang yang terdampak kekeringan. Namun, distribusi menggunakan armada tangki dinilai belum cukup untuk menyelesaikan persoalan dalam jangka panjang. Pemerintah mulai mendorong pembangunan jaringan perpipaan dari sumber air menuju permukiman yang rawan kekurangan air.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, pembangunan jaringan perpipaan dapat menjadi alternatif apabila terdapat sumber air yang memungkinkan untuk di alirkan ke wilayah terdampak. Skema tersebut dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan mengandalkan distribusi air tangki setiap kali musim kemarau.

Baca Juga: El Niño Sangat Kuat Picu Kekeringan Ekstrem dan Ancaman Karhutla di Indonesia

“Kalau aksesnya memungkinkan, kita bisa melakukan piping dari sumber air terdekat,” ujar Khofifah saat menyalurkan bantuan air bersih di Kecamatan Pagak, Sabtu (3/10).

Menurut Khofifah, pembangunan jaringan air baku hingga Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) perlu dipertimbangkan di wilayah yang berulang kali mengalami krisis air. Infra struktur tersebut memungkinkan kebutuhan air dipenuhi melalui jaringan yang lebih permanen.

“SPAM ini sustainability-nya bisa lebih terjamin dan lebih strategis jangka panjang,” katanya.

Baca Juga: Update Kekeringan: Satu Lagi Desa di Kabupaten Malang yang Alami Krisis Air Bersih

Kebutuhan solusi permanen itu terlihat dari masih berlangsungnya distribusi air bersih di Kabupaten Malang. BPBD Kabupaten Malang mencatat, sejak 8 Agustus hingga Sabtu (3/10), sebanyak 3.636.250 liter air telah didistribusikan ke desa-desa terdampak. Krisis air tersebut melanda 13 desa di enam kecamatan dengan total sekitar 5.852 kepala keluarga atau 18.531 jiwa terdampak.

Distribusi dilakukan secara berkala menyesuaikan kebutuhan masing-masing wilayah.

Kalaksa BPBD Kabupaten Malang Purwoto mengatakan, dropping air masih dilakukan karena sejumlah desa mengalami keterbatasan sumber air. Penyaluran juga disesuaikan dengan permintaan pemerintah desa dan kondisi di lapangan.

“Distribusi terus kami lakukan ke wilayah yang mengalami kekurangan air bersih. Penyaluran disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan,” terang Purwoto.

Pada Sabtu (3/10), misalnya, BPBD menyalurkan 114.400 liter air menggunakan delapan armada dengan 23 kali perjalanan. Bantuan dikirim ke sejumlah wilayah di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Gedangan, Sumberpucung, Donomulyo, Kalipare, dan Pagak.

Khofifah mengatakan, persoalan kekeringan tidak hanya terjadi di Kabupaten Malang. Berdasarkan laporan yang diterimanya, terdapat 25 kabupaten/kota di Jawa Timur yang juga membutuhkan dropping air bersih.

Selain pembangunan jaringan air, pemerintah juga menyiapkan langkah lain menghadapi kemarau panjang dan fenomena El Nino. Salah satunya operasi modifikasi cuaca (OMC) ketika kondisi tutupan awan memungkinkan.

Namun, pembangunan infrastruktur air dinilai menjadi langkah yang lebih penting untuk menghadapi persoalan berulang. Dengan jaringan perpipaan dari sumber air dan SPAM, kebutuhan air warga diharapkan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pengiriman menggunakan kendaraan tangki setiap kali musim kemarau. (ram/adn)

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Radar Malang
Bangun Jaringan Pipa Air Atasi Kekeringan SPAM BPBD