Sehingga PERKI Malang bersama dengan Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA), Fakultas Kedokteran UB, Dinas Pendidikan Kabupaten Malang dan Yayasan Jantung Indonesia berinisiasi untuk menggelar rangkaian kegiatan dalam memperingati Congenital Heart Disease (CHD) Awareness Week 2023. Rangkaian acara yang diselenggarakan diantaranya yaitu Promosi Kesehatan melalui radio, instagram live, podcast YouTube, Talkshow Interaktif melalui Zoom Live dan Webinar Ilmiah serta PERKI Goes to School. Dengan kegiatan ini diharapkan agar generasi muda bisa terselamatkan dan beban negara lebih ringan karena anak nantinya bisa bekerja dan tidak menjadi beban masyarakat.
Dalam acara PERKI Goes to School, Sekertaris PERKI Malang dr. Budi Satrijo, Sp.JP(K), FIHA mengatakan bahwa ada beberapa rangkaian pemeriksaan yaitu pengenalan awal penyakit jantung bawaan, USG jantung atau ekokardiografi. Jika terdapat kelainan jantung pada anak saat skrining tim dokter akan menindaklanjuti ke Rumah Sakit untuk diberikan perawatan. Namun menurutnya saat ini banyak kendala dalam penanganan kasus jantung pada anak ini.
"Masalahnya susah terdeteksi, pelayanan juga belum terlalu luas. Dokter jantung juga belum terlalu banyak dan kewaspadaan masyarakat belum terlalu tinggi terhadap penyakit jantung bawaan pada anak ini,"terangnya.
Dalam acara ini sekaligus dilaksanakan program launching kriteria "Biru" untuk mengenali tanda-tanda penyakit jantung bawaan pada anak. Kriteria "Biru" yang dicanangkan oleh PERKI Malang yaitu bibir dan ujung jari berwarna biru pucat, batuk, demam, infeksi paru berulang dan tubuh stunting. Selain itu dapat disertai dengan gejala penyerta seperti sering tidak masuk sekolah, solit fokus, mudah lelah atau sesak.
Sementara itu, dr. Valerina Sp.JP (K) Koordinator acara mengatakan bahwa kegiatan ini pertama kali digelar dengan target 1071 siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Malang. Dalam hal ini yaitu SD N 1 Krebet, SD N 1 Pagelaran, SD N 5 Ngajum dan SD N 4 Panggungrejo. Hasilnya bahwa belum adanya kondisi penyakit jantung bawaan berat. Namun adanya temuan kondisi anak yang stunting di beberapa SD dan sudah ditangani degan tepat.
"Hasilnya mereka sudah menangkap penyakit jantung bawaan itu apa gejalanya seperti apa mereka menangkap. Terbukti dengan gejala berat tidak ada yang kita resahkan kondisi stunting di SD Pagelaran namun sudah ditangani dengan tepat. Tapi kami rujuk ke RS kanjuruhan untuk periksa secara lanjut,"jelas dia.