Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ribuan Bayi Tak Dapat ASI Eksklusif

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Kamis, 3 Agustus 2023 | 21:00 WIB
Ilustrasi foto bayi
Ilustrasi foto bayi
Kondisi Sosial dan Dukungan Suami Punya Peranan Penting

MALANG RAYA - Jumlah bayi yang belum mendapat ASI eksklusif di Malang Raya masih cukup banyak. Angkanya mencapai ribuan. Fakta tersebut cukup miris. Sebab, pekan ini diperingati sebagai pekan ASI sedunia atau world breastfeeding week (WBW).

Peringatan tahunan itu biasa berlangsung mulai 1 sampai 7 Agustus. Untuk diketahui, ASI eksklusif adalah pemberian ASI untuk bayi sejak baru lahir hingga berusia 6 bulan. Secara persentase, capaian ASI eksklusif di Malang Raya sebenarnya cukup baik. Namun tetap saja masih ada ribuan bayi yang tak mendapatkannya.

Contohnya di Kota Malang. Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang per 20 Januari 2023 lalu, tercatat ada 2.544 bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif. Sementara yang mendapatkannya tercatat di angka 6.824 bayi. Saat itu, total ada 9.368 bayi yang diperiksa.

Sub Koordinator Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kota Malang Sri Wahyuni mengatakan, masih adanya bayi yang belum mendapat ASI eksklusif karena umumnya bayi diasuh pihak ketiga. ”Bisa jadi karena ibunya bekerja, sehingga tidak bisa konsisten menyusui anaknya,” kata dia.

Untuk itu, pihaknya rutin melakukan sosialisasi. Terutama saat mengadakan pertemuan dengan ibu-ibu. Misalnya saja di Posyandu, pertemuan pra-nikah, hingga pemeriksaan Antenatal Care (ANC). Di pertemuan-pertemuan itu, biasanya ibu-ibu akan diajarkan cara merawat payudara hingga posisi menyusui yang benar. ”Karena ASI mengandung kolostrum yang berfungsi memberi antibodi kepada bayi secara maksimal,” tambahnya.

Di tempat lain, Ketua Tim Rumah Sakit Sayang Ibu Bayi (RSSIB) RSUD Dr Saiful Anwar RSSA dr Brigitta Ida Resita Vebrianti Corebima SpA(K) menjelaskan, ada banyak faktor yang membuat pemberian ASI eksklusif belum maksimal.

Sebagai contoh, di RSSA hampir 80 persen pasien yang datang mengalami kondisi gawat darurat. Termasuk pada pasien ibu dan bayi. ”Banyak bayi yang menggunakan alat bantu napas atau ibunya masuk ICU. Sehingga pemberian ASI tertunda, tapi bukan berarti tidak bisa,” kata Brigitta.

Dia menyebut ada sejumlah langkah yang perlu dilakukan ibu agar bayi mendapatkan ASI. ”Yang terpenting bayi dan ibu harus saling bersentuhan dulu untuk saling mengenal dengan posisi yang benar,” terangnya.

Dia menjelaskan, posisi pemberian ASI yang benar adalah posisi tubuh bayi harus lurus menghadap ibunya. Selanjutnya, ibu harus menata posisi perlekatan, yakni mulut bayi harus menempel sepenuhnya pada areola. Ditandai dengan dagu bayi yang menempel di payudara. ”Kalau posisinya sudah pas tidak akan sakit dan mengeluarkan bunyi decapan,” imbuhnya.

Setelah memastikan posisi perlekatan benar, ibu harus dalam kondisi rileks. ”Kalau ibu tidak stress, akan memberikan rangsangan positif ke otak yang kemudian mengeluarkan hormon prolaktin dan oksitosin,” jelasnya.

Agar ASI keluar dengan lancar, Brigitta melanjutkan, perlu dukungan dari lingkungan sekitar. Termasuk orang terdekat seperti suami.

39 Puskesmas di Kabupaten Maksimalkan Konselor ASI

Di tempat lain, berdasar data Dinkes Kabupaten Malang, dari 5.445 bayi berusia 0-6 tahun yang menjadi objek survei, tercatat ada 3.419 bayi yang mendapat ASI eksklusif. Sedangkan 2.025 bayi lainnya atau 37,2 persen belum mendapat ASI eksklusif.

Rita Handayani, petugas dari Seksi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kabupaten Malang menyebut, hal tersebut wajar terjadi. Sebab, setiap ibu dan bayi memiliki kondisi yang berbeda. ”Setelah persalinan, nakes (tenaga kesehatan) yang bertugas selalu memberikan konseling,” ujarnya.

Sebagai konselor, para nakes tentu mendorong ibu untuk memberikan ASI. Namun, keputusan akhir tetap berada pada ibu dan keluarganya. Sebab, dukungan keluarga, utamanya suami, menjadi salah satu faktor pendukung pemberian ASI eksklusif. ”Jika seorang ibu memiliki permasalahan, konselor pasti memberikan alternatif atau saran yang paling nyaman diterapkan,” imbuhnya.

Dia menyebut, hampir 39 puskesmas di Kabupaten Malang telah memiliki konselor menyusui maupun Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA). Dinkes Kabupaten Malang juga terus promosi pentingnya ASI setiap satu bulannya. Promosi tersebut dilakukan mulai dari tingkat puskesmas, desa, hingga posyandu.

”Bentuknya KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi). Kami memberikan informasi terkait keuntungan pemberian ASI bagi anak,” kata dia. Upaya lainnya yakni melengkapi fasilitas umum dengan pojok laktasi.

53 Persen Bayi di Batu Belum Dapat ASI Eksklusif

Persentase paling rendah untuk capaian ASI eksklusif ada di Kota Batu, Sampai akhir Juli lalu, persentase bayi yang mendapatkan ASI ekslusif berkisar 46,63 persen atau 374 bayi. Sedangkan sisanya 53,37 persen atau 428 bayi belum mendapatkan ASI eksklusif.

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu dr Yuni Astuti menjelaskan, faktor penyebab mengapa ibu tidak memberikan ASI eksklusif cukup beragam. Seperti puting payudara ibu mengalami lecet, tidak adanya dukungan dari keluarga, ibu yang sibuk bekerja, dan lain-lain.

Tak hanya itu, faktor lainnya seperti ibu yang tidak menyusui karena mengidap penyakit menular seperti human immunodeficiency virus (HIV) juga ada. ”Terkadang usia ibu muda juga yang penuh tuntutan sosial juga memengaruhi produksi ASI,” kata Yuni kepada wartawan koran ini.

Dia menyebut, temuan Dinkes Kota Batu juga menyebut bila pemberian ASI eksklusif juga berkaitan dengan tingkat pendidikan yang rendah. Akibatnya, mereka sulit menerima informasi dan mengimplementasikan dalam pemberian ASI.

Untuk mengoptimalkan ASI eksklusif, Kepala Dinkes Kota Batu drg Kartika Trisulandari menyebut di 19 desa dan 5 kelurahan di Kota Batu telah dibentuk Kelompok Pendukung (KP) ASI. ”Kami juga memberi suplemen (vitamin) khusus Ibu menyusui untuk meningkatkan produksi ASI,” pungkasnya. (mel/ifa/yun/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#malang #asi eksklusif