MALANG RAYA - Pada 9 Oktober lalu, keluarga asal Jalan Janti Barat, Kecamatan Sukun mendapat perhatian publik.
Itu setelah pihak keluarga menyerahkan jenazah Hana Rosilawati atau Tan Kiok Hwa, 76, ke Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya (UB). Tujuannya untuk mendukung dunia pendidikan.
Sebelumnya, salah satu kornea mata Hana juga sudah diberikan kepada orang yang membutuhkan.
Keputusan dari keluarga Soesanto, 77, patut diapresiasi.
Dunia pendidikan tentu berterima kasih banyak kepada Hana beserta keluarga.
Keputusan Hana untuk mendonorkan kornea mata juga patut diacungi jempol.
Sebab, masih banyak warga yang membutuhkan bantuan organ.
Untuk diketahui, di Malang Raya baru ada satu rumah sakit yang melayani donor dan tranplantasi organ.
Yakni RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Berdasar data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, ada sekitar 400 pasien yang mengantre untuk transplantasi ginjal dan kornea mata.
Sekretaris Tim Transplantasi Ginjal RSSA Malang Dr dr Besut Daryanto SpB SpU(K) menjelaskan, pihaknya pertama kali melakukan cangkok ginjal pada 2012.
Rutinitas itu sempat terhenti selama pandemi.
”Dari tahun 2012 sampai sekarang, kami sudah melakukan 28 proses cangkok ginjal,” kata dia.
Dia melanjutkan, pasien-pasien yang bisa melakukan cangkok ginjal adalah mereka yang mengalami gagal ginjal stadium akhir.
Sebab, cangkok ginjal dinilai lebih efektif dibanding terapi-terapi lainnya.
Pada penderita gagal ginjal, ada terapi pengganti ginjal.
Jenisnya ada tiga macam.
Yakni hemodialisa atau cuci darah, Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) atau cuci darah secara mandiri melalui perut.
Yang terakhir yakni cangkok ginjal.
Cangkok ginjal lebih efektif karena tidak dilakukan rutin seperti pasien cuci darah, yang harus melakukannya tiga kali.
Selain itu, alat di rumah sakit juga terbatas.
”Padahal, setiap bulan kasus baru gagal ginjal yang masuk ke kami jumlahnya bisa mencapai 30 sampai 40 pasien,” sebutnya.
Karena itu, cangkok ginjal lebih efektif.
Meski demikian, prosesnya tidak mudah karena harus mencari pendonor yang sesuai kriteria.
Sebelum melakukan cangkok ginjal, pendonor harus menjalani pemeriksaan oleh tim advokasi.
Tim advokasi tersebut terdiri dari sejumlah pihak seperti ahli hukum, masyarakat, nefrolog, hingga ahli jiwa.
Tujuannya untuk mencegah kasus jual beli ginjal.
Proses itu juga sesuai dengan ketentuan Komite Transplantasi Nasional (KTN) berdasar Permenkes Nomor 38 Tahun 2016 tentang penyelenggaraan transplantasi organ.
”Kalau sudah lolos di tim advokasi, pasien akan melakukan cangkok ginjal dengan tim eksekutor,” tambahnya.
Tim tersebut terdiri dari dokter dengan berbagai multi-disiplin ilmu.
Seperti nefrolog, dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter spesialis urologi.
Tentunya, ginjal dari pendonor harus sehat.
Tidak boleh mengalami beberapa kondisi seperti kerusakan akibat kehilangan darah, diabetes melitus, mengalami sumbatan, atau hipertensi.
Proses transplantasi ginjal kini telah mengalami perkembangan.
Semula, transplantasi ginjal dilakukan dengan metode operasi terbuka (open surgery).
Yakni dengan mengambil ginjal pendonor dan penerima.
”Biasanya, tim dokter akan mengambil ginjal bagian kiri untuk donor. Itu karena pembuluh darah di ginjal kiri lebih panjang, sehingga mempermudah proses penyambungan,” jelas dia.
Lalu, ginjal baru bakal diletakkan di perut bagian bawah penerima.
Meski demikian, Besut menyebut pada satu waktu pernah meletakkan ginjal baru di perut bagian kanan.
Itu karena pasien pernah melakukan cangkok ginjal di tempat lain dan mengalami kerusakan.
”Kerusakan bisa terjadi karena pasca operasi pasien langsung euforia, tidak menjaga diri dulu. Akibatnya, terjadi infeksi dari lingkungan di sekitarnya,” imbuhnya.
Namun, sejak 2023, RSSA mulai melakukan cangkok ginjal dengan metode laparoskopi.
Yakni memasukkan alat kecil yang memiliki fungsi pencahayaan, pemotongan, dan pemegangan ke organ tubuh yang dituju.
”Lewat metode ini, sayatan atau luka yang terjadi lebih minim,” terangnya.
Metode laparoskopi sebenarnya juga sudah diterapkan di operasi bedah lainnya.
Seperti pengangkatan tumor pada ginjal.
”Namun, untuk gagal ginjal akut yang membutuhkan cangkok ginjal baru dilakukan tahun 2023. Ini kami lakukan kepada empat pasien terakhir, yakni pasien nomor 25, 26, 27, dan 28,” bebernya.
Selain cangkok ginjal, ada pula cangkok kornea mata.
Di Malang Raya, penggagasnya yakni Bank Mata, yang sudah berdiri sejak 1988.
Ketua Bank Mata Malang dr Herwindo Dicky Putranto SpM mengatakan, peminat donor mata sebenarnya banyak.
Dia memperkirakan jumlahnya mencapai lebih dari 200 orang.
”Sayangnya, yang menjadi pendonor hanya sekitar 10 persennya saja,” kata dia.
Sama seperti cangkok ginjal, cangkok kornea juga sudah mengalami perkembangan.
Jika sebelumnya seluruh bola mata diambil, kini hanya korneanya saja atau eksisi.
”Semua orang sebenarnya bisa mendonorkan kornea, tapi jika sudah meninggal,” kata dia.
Selain itu, kini kornea bisa disimpan di alat khusus sampai 14 hari.
Berbeda dengan dulu saat donor mata harus segera dilakukan pencangkokan.
Meski begitu, ada beberapa kondisi yang membuat orang tak bisa mendonorkan kornea.
Seperti infeksi, sehingga membuat kornea menjadi keruh.
Lalu kondisi-kondisi seperti HIV/AIDS, Hepatitis C, hingga kondisi sistemik lainnya.
”Untuk memenuhi kebutuhan donor kornea, biasanya kami juga koordinasi dengan bank mata di tempat lain,” ucapnya.
Misalnya saja, bank mata di Surabaya, bahkan luar negeri.
Di tempat lain, Direktur RSSA Dr dr Mochammad Bachtiar Budianto SpB(K)Onk FINACS FICS mengatakan, ke depan pihaknya ingin mengembangkan operasi transplantasi hati.
”Saat ini masih transplantasi atau cangkok ginjal,” terangnya.
Untuk menuju ke sana, dia menyebut bila studi banding perlu dilakukan.
Selain itu, lanjut Bachtiar, perlu peningkatan kompetensi dokter ahli, penyempurnaan kamar operasi, dan penunjang lainnya. (mel/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana