Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Donor Jenazah Warga Janti Sukun Malang Diikuti Dua Orang

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Jumat, 20 Oktober 2023 | 22:00 WIB

 

Salah satu petugas di Laboratorium Anatomi UB menunjukkan contoh manekin tubuh manusia kemarin.
Salah satu petugas di Laboratorium Anatomi UB menunjukkan contoh manekin tubuh manusia kemarin.
Untuk Mendukung Kepentingan Pendidikan di Fakultas Kedokteran

MALANG RAYA - Keputusan Hana Rosilawati atau Tan Kiok Hwa, 76, mendonorkan jenazahnya untuk kepentingan pendidikan telah menginspirasi orang lain.

Sejak jenazah warga Jalan Janti Barat, Kecamatan Sukun itu diserahkan pada 9 Oktober lalu, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya (UB) mendapat permohonan donor jenazah dari dua orang.

Kabar tersebut cukup membahagiakan bagi dunia pendidikan.

Sebab, memperoleh kadaver atau jenazah yang diawetkan untuk praktikum mahasiswa kedokteran tidak mudah.

Selain membutuhkan persetujuan calon pendonor dan pihak keluarga, pengadaan kadaver harus melalui prosedur khusus dan digunakan sesuai akad.

Sebagai alternatif untuk mengatasi keterbatasan kadaver, seluruh FK di Indonesia mengombinasikan penggunaan kadaver dan manekin.

Seperti disampaikan Kepala Laboratorium Anatomi FK UB dr Nurul Hidayati.

Menurut dia, penggunaan kadaver mulai masif dilakukan sejak 2007.

”Itu setelah adanya kurikulum baru yang mengikuti perkembangan pendidikan kedokteran dunia,” kata dia.

Selain proses mendapatkannya yang tidak mudah, proses pengawetan jenazah juga harus dilakukan secara rutin menggunakan formalin.

Di samping itu, kondisi kadaver juga tidak bisa selamanya bagus.

Ada yang memiliki jangka waktu maksimal 10 tahun, lalu rusak.

”Untuk menyiasati itu, kami menggunakan manekin dengan material silikon yang fleksibel,” terang dia.

Meski begitu, pihaknya tetap mengupayakan agar mahasiswa melakukan praktik anatomi menggunakan kadaver.

Menurut Nurul, penggunaan manekin tidak bisa menggantikan orisinalitas kadaver.

Terutama dari segi struktur.

Dia memberi contoh pada bagian pembuluh darah.

Pembuluh darah di bagian kiri dan kanan memiliki interaksi yang berbeda.

Organ tubuh lainnya yakni jantung.

Jantung yang asli biasanya memiliki ukuran sebesar kepalan tangan masing-masing manusia.

Jika semasa hidup kadaver mengalami sakit seperti kelainan, maka bentuk jantung akan membesar.

Kemudian, di dalamnya ada otot yang strukturnya berupa serabut-serabut unik.

”Kalau manekin atau kami biasa sebut dengan skema tiga dimensi memiliki bentuk yang sama semua,” imbuhnya.

Seluruh orisinalitas tersebut membuat manekin tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran kadaver.

Nurul menyebut, sejak tahun 1960-an atau FK mulai berdiri, pihaknya sudah menerima sembilan kadaver.

Dari total itu, ada kadaver yang telah dikuburkan karena kondisinya yang tidak bisa digunakan lagi.

Selama ini pihaknya cenderung pasif.

Artinya, mereka menerima kadaver dengan kondisi apa pun untuk kebutuhan pendidikan.

”Kami tidak pernah menanyakan penyebab kematiannya. Cukup mengetahui saja kondisinya,” jelas dia.

Dari segi agama Islam, Nurul memastikan bila pihaknya selalu berdiskusi dengan calon pendonor.

Sejauh yang dia tahu, dalam Islam dianjurkan untuk menggunakan media lain.

Namun jika kemurniannya tidak bisa difasilitasi media lain, maka bisa menggunakan kadaver sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

”Intinya kami selalu menghormati etik legal. Kepada mahasiswa juga selalu kami tanamkan bahwa jenazah itu adalah guru. Sehingga setiap pembelajaran dilakukan dengan respek dan disiplin tinggi,” papar dia.

Sementara itu, untuk koleksi manekin, pihaknya memiliki sedikitnya 11 macam organ tubuh.

Setiap organ tubuh ada satu unit manekin.

”Misalnya saja, manekin jantung, pembuluh darah, dan banyak lainnya. Untuk kadaver sekarang kami tata per sistem. Jadi bukan tubuh utuh,” sambungnya.

Terpisah, Dekan FK Universitas Islam Malang (Unisma) Dr Rahma Triliana MKes PhD mengungkapkan, sejak FK Unisma berdiri pada 2005, pihaknya pernah menggunakan lima kadaver.

Kadaver itu dibeli dari luar negeri seperti China, Taiwan, dan Jepang.

Namun mulai 2017 mereka menggunakan kadaver plastinasi sebanyak dua buah.

Yakni kadaver yang diawetkan menggunakan teknologi dalam preservasi tubuh.

Teknologi itu memakai bahan plastik sebagai pengganti air dan lemak dalam sel tubuh dan jaringan.

”Sehingga sel, jaringan, dan organ tetap utuh seperti aslinya saat manusia baru saja meninggal,” ucapnya.

Kadaver dengan plastisin lebih aman. Sebab tidak bau, pedih, dan perawatannya mudah.

”Tapi harganya mahal, mencapai Rp 1,25 sampai 1,7 miliar,” beber dia.

Tak Bisa Andalkan Penemuan Mayat tanpa Identitas

Dosen Anatomi FK Universitas Negeri Malang (UM) dr Didiek Darmadi Tri Setyo SpB menyebut bila pengadaan kadaver tak harus dilakukan satu tahun sekali.

Sebab, saat ini kampus-kampus sudah tak bisa mengandalkan pengadaan dari penemuan-penemuan mayat tanpa identitas.

Itu berkat perkembangan teknologi yang semakin masif.

”Kasus-kasus penemuan mayat masih tetap ada saja. Namun jarang, bahkan hampir tidak ada yang tidak memiliki identitas,” kata dia.

Lebih lanjut, Didiek mengatakan bila jenazah tanpa identitas bakal diproses lewat prosedur tertentu.

Muaranya, jenazah tanpa identitas itu akan menjadi milik negara.

”Jadi ada tempat khusus yang resmi kalau kita mau beli kadaver itu,” ucapnya.

Didiek menyampaikan, saat ini UM memiliki dua kadaver yang disimpan di laboratorium.

Ada dua cara penyimpanannya.

Yang pertama disimpan dalam bentuk utuh.

Berikutnya disimpan secara terpisah.

”Biasanya tiap bagian itu disimpan sendiri dalam botol-botol khusus,” ucapnya.

Itu bertujuan agar kadaver awet lebih lama.

Pria yang merupakan dokter spesialis bedah di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan itu juga mengatakan bila penggunaan kadaver sebagai media pembelajaran bertujuan agar mahasiswa mengetahui gambaran riil terkait anatomi manusia yang sesungguhnya.

Kendati begitu, pembelajaran anatomi tubuh manusia juga bisa ditunjang dengan kadaver plastinasi, manekin, video, dan gambar.

Didiek mengatakan, pembelajaran anatomi biasanya dilakukan pada semester-semester awal.

”Sebab, itu pengetahuan basic,” kata dia.

Selama ini dia menyebut bila di UM sudah dilakukan enam kali praktikum.

Dalam satu sesi, maksimal ada 10 mahasiswa yang ambil bagian.

Di tempat terpisah, Dosen FK Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dr Anung Putri Illahika MSi tak lama ini mendapat kabar baik.

Sudah ada pihak yang menyampaikan niatnya mendonasikan jenazah untuk kepentingan pendidikan kedokteran di sana.

Kendati begitu, dia menyebut bila itu masih sebatas obrolan ringan.

”Kalau itu jadi terealisasi, itu akan menjadi pengalaman pertama bagi kami,” kata dia.

Anung mengatakan rencana itu disampaikan secara personal kepada pihak universitas.

Sebelum itu terjadi, prosedur serah terima donasi harus disusun terlebih dahulu.

Anung menyampaikan, ada perbedaan kebutuhan kadaver sebelum dan sesudah pandemi.

Sebelum pandemi, kebutuhan kadaver lebih tinggi.

Setiap dua tahun sekali setidaknya butuh dua kadaver baru.

”Dua itu, satu laki-laki dan satu perempuan,” tambahnya.

Namun, sekarang kadaver yang ada sebisa mungkin bisa digunakan untuk jangka panjang.

Anung mengatakan, saat ini UMM memiliki tiga kadaver utuh.

Selama ini pihaknya mendapatkan kadaver dari kampus lain dan RS yang menjadi mitra.

Seperti dari Universitas Airlangga (Unair) dan RS dr Soetomo Surabaya. (mel/dre/by) 

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#jenazah #Donor #malang