MALANG - MMPI dikembangkan dengan tujuan untuk menyediakan instrument / alat ukur objektif yang dapat digunakan untuk membantu menilai ciri-ciri kepribadian yang bersifat relatif menetap (personality traits) dan psikopatologi seseorang. Para profesional di bidang kesehatan mental pada awalnya seringkali menggunakan MMPI untuk membantu menilai dan mendiagnosis adanya gangguan jiwa. Namun, seiring berjalannya waktu MMPI juga digunakan sebagai instrumen penyaringan untuk profesi tertentu (fit dan proper test), kasus hukum pidana, dan hukum perdata.
Tes psikometri yang dikembangkan oleh psikolog klinis Starke R. Hathaway dan ahli neuropsikiatri J. Charnley McKinley ini memiliki 2 skala utama yaitu skala validitas dan skala klinis. Skala validitas terdiri dari beberapa skala, yaitu cannot say (?), Lie (L), Infrequent (F), dan defensiveness (K). Skala klinis terdiri dari 10 skala, yaitu Hypocondriasis (Hs), Depression (D), Conversion Hysteria (Hy), Psychopathic Deviate (Pd), Masculinity-femininity (Mf), Paranoia (Pa), Psychastenia (Pt), Schizophrenia (Sc), Hypomania (Ma), dan Social Introvension (So). Skala validitas digunakan untuk membantu mengetahui pengerjaan tes, menilai apakah peserta tes bersikap kooperatif (serius), berbohong (ingin terlihat baik atau terlihat buruk), atau peserta tes mengalami kesulitan untuk memahami dan membaca soal. Skala klinis digunakan untuk membantu dalam mengidentifikasi tipe dan tingkat keparahan kondisi abnormal peserta tes.
Terkait jenis dari instrument MMPI, ternyata terdapat beberapa jenis, di antaranya; (1) MMPI-1; (2) MMPI-2; (3) MMPI-2 RF (Retracted Form); (4) MMPI-A (Adolescent); (5) MMPI-A RF; dan (6) MMPI-3. Namun, di Indonesia instrument MMPI yang seringkali digunakan dan sudah diadaptasi adalah MMPI-1 dan MMPI-2. Pemeriksaan dengan menggunakan instrumen MMPI biasanya membutuhkan waktu sekitar 30 – 90 menit. Pemeriksaan MMPI dapat dilakukan secara individu atau berkelompok.
Dalam prosesnya, peserta tes akan diminta untuk menjawab pertanyaan yang diberikan pada tes MMPI dan menuangkan jawaban tersebut dalam lembar jawaban. Peserta tes juga diminta menuliskan identitas diri secara lengkap (nama lengkap, jenis kelamin, tempat dan tanggal lahir, alamat, nomer telepon, status perkawinan, dan jenjang pendidikan terakhir), tanggal pemeriksaan, waktu memulai dan menyelesaikan pemeriksaan MMPI.
MMPI merupakan instrumen yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Hal ini ditunjukkan pada tes MMPI awal, yang hingga saat ini masih sering digunakan karena terbukti masih valid dan reliabel. Penelitian meta-analisis yang dilakukan oleh Hunsley, Hanson, dan Parker pada tahun 1988 terhadap studi-studi yang dilakukan terhadap MMPI antara tahun 1970 - 1981 didapatkan bahwa semua skala MMPI cukup reliabel, nilai-nilainya berkisar mulai serendah 0,71 (Skala Ma) sampai setinggi 0,84 (Skala Pt).
Analisis mereka didapatkan dari studi-studi yang memasukkan berbagai macam populasi, intervalnya berkisar mulai satu hari sampai dua tahun, dan ukuran sampel gabungannya lebih dari 5.000. Sedangkan reliabilitas MMPI-2 dilaporkan menunjukkan realibilitas tes-retes yang sedang saja. Namun, meski instrument MMPI memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi, perlu untuk dipahami bahwa MMPI merupakan alat bantu. Oleh karena itu pemeriksaan berupa wawancara dan pemeriksaan fisik oleh tenaga professional kesehatan mental sebagai standar baku emas diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan yang ada.
Pelayanan pemeriksaan dengan menggunakan MMPI-1 saat ini sudah tersedia di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang. Bagi Anda yang membutuhkan layanan pemeriksaan dengan MMPI-1 dapat melakukan konsultasi lebih lanjut dengan dokter kejiwaan kami. Anda dapat melakukan reservasi online terlebih dahulu melalui Whatsapp di nomor 0812-3432-9097. Untuk informasi lebih lanjut dapat mengunjungi instagram kami @rkz_malang.(jprm2)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana