MALANG RAYA - Dari total 3.823.871 peserta BPJS di Malang Raya, 445.921 di antaranya mengidap penyakit hipertensi atau darah tinggi. Dengan jumlah itu, hipertensi menempati posisi tertinggi untuk penyakit yang dikeluhkan warga Malang Raya.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Malang Roni Hadi Kurnia mengatakan, dari tiga daerah di Malang Raya, penderita hipertensi terbanyak ada di Kabupaten Malang. Jumlahnya mencapai 216.491 peserta. ”Lalu dilanjutkan Kota Malang dengan 181.502 peserta dan Kota Batu sebanyak 47.928 peserta,” ujar dia.
Untuk mendeteksi penyakit kronis yang dialami peserta BPJS Kesehatan, pihaknya memiliki layanan skrining kesehatan. Layanan itu bisa diakses melalui situs maupun aplikasi resmi. ”Hingga akhir Oktober, total ada 326.022 peserta yang mengakses layanan skrining,” tambah Roni.
Rinciannya terdiri dari 173.577 peserta dari Kabupaten Malang, 121.505 peserta dari Kota Malang, dan 30.940 peserta dari Kota Batu. Selain layanan skrining, peserta yang mengidap penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes juga diarahkan mengikuti penyuluhan kesehatan. ”Kemudian senam dan pemeriksaan laboratorium setiap enam bulan,” imbuh Roni.
Di tempat lain, dokter spesialis penyakit jantung RSUD Kanjuruhan dr Fahmy Rusnanta SpJP menyebut, penyakit hipertensi di Indonesia memang menunjukkan peningkatan yang signifikan. Terutama pada masyarakat yang berusia di atas 18 tahun. Dari data Riskesdas 2018, kasus hipertensi tercatat sebanyak 25,8 persen dan meningkat hingga 34,1 persen.
”Data itu juga menunjukkan kesesuaian prevalensi yang ditemukan di Kota Malang hingga 26 persen. Sementara Kabupaten Malang secara estimasi lebih tinggi dari rata-rata nasional, hingga 40 persen pada 2022,” sebutnya. Persentase itu menjadikan Kabupaten Malang sebagai daerah dengan prevalensi hipertensi tertinggi kedua dari seluruh daerah di Jawa Timur. Berada di bawah Kabupaten Kediri.
Untuk itu, pencegahan perlu dilakukan. Sebab, hipertensi masih menjadi fenomena gunung es. Fahmy menyebut bahwa masih ada kasus hipertensi yang mungkin tidak diketahui penderitanya. ”Dengan demikian, skrining kesehatan pada masyarakat atau populasi yang berisiko perlu dilakukan,” terangnya.
Selain skrining kesehatan, masyarakat perlu menjaga pola hidup dari berbagai faktor seperti stres hingga lingkungan atau sosial. ”Pola hidup bersifat preventif menjadi sangat efektif untuk mengurangi kejadian hipertensi,” imbuhnya. Hal itu harus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk pihak di lingkup terkecil seperti keluarga, RT, RW, kelurahan, kecamatan, hingga Puskesmas.
Jika kasus hipertensi terkendali, morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) bisa ditekan. Di samping itu, juga bisa menurunkan beban pemerintah dalam menanggulangi biaya perawatan pasien hipertensi. ”Yang perlu dipahami bahwa hipertensi adalah penyakit tidak dapat diobati, tapi dapat dikontrol dengan baik melalui gaya hidup sehat, bahkan tanpa obat,” pungkas dia. (mel/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana