Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tiga Bulan, DBD Renggut 10 Nyawa, Begini Kata Pejabat Dinkes Kabupaten Malang

Ahmad Yani • Senin, 1 April 2024 | 20:15 WIB
Kantor Dinkes Kabupaten Malang di Kepanjen
Kantor Dinkes Kabupaten Malang di Kepanjen

KEPANJEN – Peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Malang patut mendapat perhatian lebih.

Karena sejak bulan Januari hingga pertengahan Maret saja, jumlah warga yang terpapar DBD mencapai 905 orang.

Dari jumlah tersebut, dilaporkan 10 pasien DBD meninggal dunia.

Banyaknya warga yang telah terpapar DBD dalam tiga bulan jelas menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan.

Apalagi jika dibandingkan dengan data keseluruhan kasus DBD sepanjang tahun 2023.

Karena akumulasi kasus DBD dalam tiga bulan terakhir hampir mendekati kasus yang ditemukan sepanjang tahun lalu.

Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, per 23 Maret lalu, kasus DBD sudah menyerang 905 orang. Sementara kasus DBD sepanjang tahun 2023 lalu menyerang 1.009 orang.

Untuk mencegah sekaligus mengendalikan penyebaran penyakit tersebut, Pemkab Malang pun menggelar rapat koordinasi (rakor) kemarin (28/3) di Pendapa Panji, Kecamatan Kepanjen.

Wakil Bupati (Wabup) Malang Didik Gatot Subroto mengatakan, peningkatan kasus DBD harus segera dilakukan penanganan.

Terutama ketika awal-awal musim hujan.

Sehingga, melalui koordinasi yang melibatkan camat, dinkes, kepala rumah sakit, hingga kepala puskesmas, diharapkan penyebarannya dapat dikendalikan.

“Hal terpenting itu edukasi kepada warga supaya tidak membuang sampah sembarang. Utamanya sampah-sampah plastik atau kaleng,” ucapnya.

Ketika musim hujan, plastik maupun kaleng tersebut dapat menampung air hujan.

Sehingga, berpotensi sebagai tempat berkembang biak bagi nyamuk.

Oleh karena itu, perilaku masyarakat dalam membuang sampah perlu diperhatikan.

Lebih lanjut, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Malang Tri Awignami Astoeti menyebutkan, pada 2024 memang terjadi peningkatan kasus DBD yang signifikan.

Bahkan, menurut data yang dikumpulkan, setiap hari selalu ada minimal satu orang yang terkena DBD.

Sedangkan, tertinggi, terdapat 25 kasus, dengan rata-rata 11 kasus setiap hari.

“Kalau ditotal, sudah ada 905 kasus DBD per 23 Maret. Padahal ini masih triwulan pertama. Kalau tren ini terus berlanjut, bisa-bisa di akhir tahun mencapai 3.600 kasus,” ujarnya.

Dari data tersebut, sudah ada 10 orang yang telah meninggal.

Sementara itu, pada 2023 lalu, dari 1.009 orang yang menderita DBD, hanya terdapat sembilan orang yang meninggal.

Sebagai pencegahan, Awig menyebutkan jika pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk Menguras, Menutup Mengubur (PSN 3M Plus) masih upaya paling efektif.

Sedangkan, fogging hanya dilakukan secara selektif sesuai hasil penyelidikan epidemiologi (PE) positif oleh puskesmas.

“Karena, fogging hanya mampu membunuh nyamuk dewasa. Sedangkan, jentik-jentiknya masih bisa berkembang,” pungkasnya.

(yun/nay)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang #DBD