Malang – Diet telur rebus diklaim efektif menurunkan berat badan dalam waktu singkat.
Pasalnya, Anda akan mengalami defisit kalori selama menjalani diet ini.
Apa itu defisit kalori?
Defisit kalori terjadi ketika jumlah asupan kalori yang lebih sedikit ketimbang kalori yang dibakar selama aktivitas sehari-hari dan proses metabolisme.
Untuk mencapai defisit kalori, seseorang biasanya mengurangi asupan kalori melalui diet, meningkatkan aktivitas fisik, atau kombinasi keduanya. Ini dapat membantu memaksa tubuh untuk menggunakan cadangan energi (seperti lemak tubuh) sebagai sumber bahan bakar yang kemudian dapat mengarah pada penurunan berat badan.
Diet telur rebus merupakan jenis diet yang mengandalkan telur rebus sebagai sumber protein utama.
Diet telur rebus dengan cara mengonsumsi beberapa porsi telur rebus per hari.
Padahal, Anda juga dapat mengkombinasikan dengan sumber protein yang non lemak, sayuran, atau pun buah-buahan.
Contohnya, untuk sarapan Anda perlu mengonsumsi dua butir telur rebus, seporsi sayuran tanpa tepung, dan buah-buahan yang rendah karbohidrat.
Untuk makan siang dan makan malam, Anda perlu mengonsumsi satu butir telur, sayuran, dan seporsi kecil protein tanpa lemak seperti ikan atau dada ayam tanpa kulit.
Karena ini termasuk diet yang ketat, tidak disarankan untuk melakukannya dalam jangka waktu yang panjang, maksimal lakukan selama dua minggu.
Jika Anda tertarik untuk melakukan diet telur rebus, alangkah lebih baiknya ketahui fakta-faktanya terlebih dahulu. Berikut empat fakta tentang diet telur rebus:
- Makanan Lain yang Boleh Dikonsumsi
Saat melakukan diet telur rebus, Anda tetap boleh mengonsumsi makanan lain dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Selain itu, Anda juga boleh mengonsumsi minuman bebas kalori, seperti teh atau kopi tanpa pemanis, susu, dan krim.
Berikut makanan lain yang boleh Anda konsumsi:
- Protein tanpa lemak, seperti daging unggas tanpa kulit dan ikan.
- Sayuran non-tepung, seperti brokoli, kubis, kembang kol, seledri, terong dan tomat.
- Buah rendah karbohidrat, seperti jeruk bali, jeruk nipis, jeruk limau, lemon, semangka dan beri.
- Minyak kelapa, mentega, dan mayones dalam porsi sedikit.
- Air putih, soda diet, dan teh atau kopi tanpa pemanis tambahan.
- Bumbu dan rempah-rempah, seperti bawang merah, bawang putih, kemangi, kunyit, jahe, lada, dan oregano.
- Susu rendah lemak, seperti susu skim dan yoghurt rendah lemak, dan keju.
- Makanan yang Tidak Boleh Dikonsumsi
- Daging berlemak.
- Sayuran bertepung, seperti kentang, ubi jalar, kacang-kacangan, jagung, dan kacang polong.
- Buah yang tinggi karbohidrat, seperti pisang, nanas dan mangga.
- Biji- bijian, contohnya roti, pasta, quinoa, couscous, farro, soba, dan barley.
- Makanan olahan, makanan ringan dan makanan cepat saji.
- Minuman dengan pemanis tambahan, seperti soda, jus, teh manis, dan minuman olahraga.
- Cukup Efektif untuk Defisit Kalori
Diet ini efektif menurunkan berat badan karena hampir semua pilihan makanannya rendah kalori.
Dengan demikian, Anda mudah mendapatkan defisit kalori, yakni mengonsumsi lebih sedikit kalori daripada yang dibakar tubuh sepanjang hari.
Selain rendah kalori, diet ini juga rendah karbohidrat sehingga peluang keberhasilannya cukup tinggi. Diet rendah karbohidrat dalam jangka pendek mampu menurunkan berat badan secara efektif.
- Kekurangan dari Diet Telur Rebus
Diet telur rebus termasuk diet ketat, sehingga Anda tidak boleh melakukannya dalam jangka panjang.
Karena termasuk diet ketat, Anda juga berisiko mengalami kekurangan nutrisi.
Maka dari itu, pantang untuk melakukannya lebih dari dua minggu.
Diet ini juga berisiko membentuk kebiasaan makan yang tidak sehat.
Pasalnya, Anda perlu menghindari berbagai jenis makanan.
Itulah sekilas info tentang diet telur rebus.
Jika Anda yang memiliki berat badan yang berlebih dan tertarik untuk melakukan program diet telur rebus, disarankan untuk benar-benar mengetahui tentang informasi telur diet rebus secara detail supaya tidak berisiko tinggi untuk kesehatan tubuh Anda.
Diet boleh asal tetap mengutamakan kesehatan tubuh. (Nadiatus Sholeha)