MALANG RAYA – Angka kematian bayi di Malang Raya cukup tinggi. Dalam kurun enam bulan, tercatat ada 96 anak yang meninggal dunia. Terbanyak dari Kabupaten Malang. Disusul Kota Batu dan Kota Malang.
Dalam data Dinas Kesehatan (Dinkes) di Malang Raya, kematian bayi itu terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama yakni kematian yang terjadi saat bayi dalam 28 hari pertama kehidupan (neonatal). Selanjutnya kematian bayi usia 29 hari sampai satu tahun (postnatal).
Di Kota Malang, data pasti kematian bayi pada 2024 masih terus didata. Namun, berdasar survei yang dilakukan di tiga puskesmas, yakni Puskesmas Kendalkerep, Puskesmas Rampal Claket, dan Puskesmas Cisadea, sedikitnya sudah ada enam kematian bayi dalam enam bulan terakhir.
Untuk masalah kesehatan lain seperti infeksi juga memiliki gejala yang bervariasi. Mulai demam tinggi dan gejala infeksi pada saluran kemih atau vagina. ”Kemudian, berat badan ibu yang sangat rendah atau tinggi bisa menunjukkan masalah nutrisi,” bebernya.
Yang tidak kalah penting, ibu juga perlu memperhatikan gerakan janin. Jika gerakan janin berkurang, bisa menjadi tanda masalah dengan kesehatan janin.
Selain mewaspadai gejala, ada tindakan-tindakan yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan anak. Seperti melakukan pemantauan rutin kehamilan sejak dini, mengkonsumsi nutrisi yang cukup, melakukan perawatan jika ibu memiliki penyakit kronis, menjalani pengobatan, dan pemberian edukasi.
Infeksi Dominasi Kematian Bayi di Kabupaten
Di Kabupaten Malang, dinkes mencatat ada 11 permasalahan kehamilan yang sering dikeluhkan. Seperti Kekurangan Energi Kronis (KEK), anemia, preeklamsi, diabetes mellitus (DM), penyakit jantung, infeksi tuberculosis (TB), HIV reaktif (AIDS), dan HBsAg reaktif (hepatitis B). Selanjutnya juga ada sifilis reaktif dan obesitas.
Menurut data Dinkes Kabupaten Malang, jumlah kematian bayi neonatal pada 2023 mencapai 37 anak. Kemudian, jumlah kematian bayi postnatal mencapai 17 anak. Jika ditotal, terdapat 54 bayi yang meninggal saat itu. ”Dari jumlah tersebut, 27 bayi meninggal karena terlahir prematur,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Malang Gunawan Djoko Untoro.
Yakni kelahiran yang terjadi sebelum minggu ke-37 kehamilan. Padahal, idealnya, ibu hamil melahirkan pada usia kehamilan 40 minggu. Penyebabnya pun sulit diprediksi. Namun, terdapat beberapa kondisi ibu hamil yang menyebabkan kelahiran prematur. Seperti diabetes dan penyakit jantung.
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana