Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mencatat, awal 2024 lalu diestimasikan ada 28.800 penderita diabetes mellitus (DM).
Itu merupakan 1,8 persen dari penduduk produktif di Kabupaten Malang yang mencapai 1,6 juta jiwa.
”Dari Januari sampai Juni 2024 lalu, 53 persen atau 15.264 penderita di antaranya sudah kami tangani,” ujar Sub Koordinator Penyakit Tidak Menular Dinkes Kabupaten Malang Paulus Gatot Kushariyanto kemarin.
Dia memaparkan beberapa faktor yang mengakibatkan terjangkit penyakit diabetes mellitus.
Selain faktor keturunan, dia melanjutkan, diabetes juga dipengaruhi oleh pola hidup yang tidak sehat.
Misalnya kurang berolahraga, gemar mengonsumsi makanan serba instan, stress, hingga kurang istirahat.
Dalam proses penanganan, pihaknya berkolaborasi dengan semua lembaga, seperti rumah sakit dan puskesmas.
Bagi yang tergabung dengan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), dia mengatakan, dapat menerima penanganan secara gratis.
Syaratnya menggunakan asuransi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Dia menambahkan, penanganan diabetes juga harus diimbangi dengan kesadaran penderita untuk menjaga pola hidup sehat ditambah dengan pengobatan rutin.
Salah satunya obat acarbose.
Namun harus tetap sesuai dengan petunjuk dokter.
”Itu untuk diabetes mellitus tipe II yang disebabkan pola hidup tidak sehat.
Era sekarang, banyak anak muda yang gemar mengonsumsi gula tambahan berlebih.
Biasanya diperoleh dari minuman dengan pemanis buatan,” kata dia.
Berbeda dengan penderita diabetes mellitus tipe I (kelainan dari lahir).
Selain harus menjaga pola hidup sehat dan pengobatan, lanjutnya, mereka harus rutin suntik insulin.
Sebab, pankreasnya sudah tidak memproduksi insulin lagi.
“Penderita diabetes tipe I itu biasanya memang ada kelainan bawaan. Di Kabupaten Malang sangat jarang. Mungkin hanya sekitar 1.000 orang, tidak seperti diabetes tipe II yang jumlahnya sangat banyak,” lanjut Gatot.
Sementara untuk menekan pertumbuhan diabetes, Dinkes Kabupaten Malang aktif melakukan promosi kesehatan (promkes) CERDIK sesuai anjuran Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Yakni cek kesehatan secara rutin, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres.
“Selain itu, kami juga melakukan deteksi dini PTM (penyakit tidak menular) melalui skrining,” kata Gatot.
Kemudian ketika ditemukan warga yang berpotensi menderita diabetes, petugas skrining akan mengarahkan untuk pemeriksaan lebih lanjut dan pengobatan.
Sebab, yang berhak mendiagnosis penyakit hanya dokter. (yun/dan)