Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sedih, Ada Anak-Anak Gagal Ginjal! 1.500 Warga di Malang Raya Rutin Jalani Cuci Darah

Bayu Mulya Putra • Rabu, 4 September 2024 | 20:00 WIB

Infografis Layanan Hemodialisa di Sejumlah RS
Infografis Layanan Hemodialisa di Sejumlah RS

Mayoritas Pasien Dewasa, Ada Beberapa yang Anak-Anak

MALANG RAYA – Jumlah warga Malang Raya yang mengalami gagal ginjal akut cukup banyak.

Itu terlihat dari rekapitulasi layanan cuci darah atau hemodialisa di tujuh rumah sakit (RS) (selengkapnya baca grafis).

Bila diestimasi, ada sekitar 1.500-an pasien dalam satu tahun.

Angka itu bisa lebih tinggi lagi. Sebab, di Malang Raya ada 12 RS yang memiliki layanan hemodialisa.

Apa yang terjadi di Malang Raya itu juga terjadi di daerah-daerah lainnya.

Dari data Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) sejak 2007 sampai 2023 lalu tercatat ada 239.086 orang yang menjalani tindakan untuk pengobatan gagal ginjal.

Sebagian di antaranya memilih cuci darah.

Ketua Tim Pengampu Jejaring Uro-Nefro RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Dr dr Besut Daryanto SpB SpU(K) menjelaskan, cuci darah merupakan tindakan yang dilakukan jika pasien sudah mencapai stadium kronis (Chronic Kidney Disease).

Baca Juga: Ditinggal Pergi Cuci Darah, Rumah Warga Pakis, Malang Ini Hangus Terbakar

Ditandai dengan kerusakan ginjal atau laju penyaringan darah (filtrasi glomerulus) yang kurang dari 60 ml/menit/1,73 m².

Kondisi tersebut berlangsung selama tiga bulan atau lebih.

Akibat ginjal yang rusak, perlu ada terapi untuk menggantikan fungsinya.

Salah satunya dengan hemodialisa.

”Khusus untuk yang memilih melakukan hemodialisa di kami, jumlahnya mencapai 670 pasien,” kata dia.

Untuk prosesnya, pasien akan dipasangi selang di bagian lengan atau sekitar leher.

 Selang itu, akan terhubung ke mesin pencuci darah. Kemudian, akan terjadi perputaran darah di mesin.

Darah kotor akan masuk ke mesin.

Agar darah tidak menggumpal, pasien akan mendapat obat pengencer.

 Proses tersebut berlangsung selama empat sampai lima jam.

Umumnya, satu pasien menjalani cuci darah dua kali dalam sepekan.

Bila ditotal, ada sekitar 64 ribu tindakan cuci darah yang dilakukan RSSA selama satu tahun.

Yang menjalani tindakan cuci darah itu tidak hanya dewasa, juga ada beberapa anak-anak.

Besut melanjutkan, ada beberapa kondisi yang membuat orang menjalani cuci darah.

Baca Juga: Yang Jarang Minum Air Putih Ayo Tobat! 1.283 Orang Kabupaten Malang Menderita Gagal Ginjal

Untuk dewasa, kebanyakan disebabkan hipertensi dan diabetes.

Sementara pada anak-anak, penyebab umum penyakit ginjal adalah hipertensi.

Dari penelitian yang pernah dilakukan RSSA pada 2016 lalu menyebut ada 41 pasien anak dengan hipertensi yang usianya 5 sampai 10 tahun.

Mereka sampai mengalami kelainan ginjal.

Beranjak dari contoh kasus itu, masyarakat perlu mewaspadai sejumlah kondisi.

Untuk orang dewasa, gejala yang perlu diwaspadai seperti nyeri punggung bawah, lelah setiap saat, pusing, sesak napas, dan hipertensi.

 Lalu pada anak-anak, kondisi yang perlu diwaspadai berupa perubahan warna urine menjadi kecokelatan serta pembengkakan di seluruh tubuh.

 Selain hemodialisa, ada juga pasien yang memilih Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). Ini merupakan cuci darah mandiri.

Caranya dengan memasang kateter dalam perut untuk jalur cairan dialisat. Terapi lain berupa transplantasi ginjal.

Cara itu sebenarnya lebih murah karena masyarakat tidak perlu melakukan terapi setiap minggu.

Namun, perlu menemukan pendonor dan ginjal yang cocok.

Baca Juga: Perjalanan Michael Setiawan Membangun Perusahaan Hospitality serta F&B, Penyakit Ginjal Tak Surutkan Semangat Merintis Usaha

Juga tidak boleh mengalami beberapa kerusakan seperti diabetes, sumbatan, atau hipertensi. Prosedurnya pun harus melalui advokasi dari tim yang terdiri dari ahli hukum, masyarakat, nefrolog, hingga ahli jiwa.

”Kami sudah melakukan transplantasi ginjal sejak 2012. Saat ini sudah ada 28 pasien yang ditangani dan rencananya ada lima pasien yang masuk daftar tunggu,” imbuh Besut.

Selain RSSA, ada beberapa rumah sakit lain yang memiliki layanan cuci darah. Misalnya saja Persada Hospital.

 Humas Persada Hospital Malang Sylvia Kitty Simanungkalit menyebut kalau jumlah kunjungan pasien dalam setahun mencapai belasan ribu.

 Sebagai contoh, sepanjang 2023 Persada Hospital menerima 14.171 kunjungan.

 Itu terdiri dari pasien tetap sebanyak 236 pasien dewasa dan satu anak-anak.

”Kami juga sudah melayani pasien cuci darah menggunakan BPJS Kesehatan,” terang Sylvia.

Rumah sakit lainnya yakni RS Panti Waluya Sawahan (RKZ).

Menurut perawat dari Divisi Hemodialisa RS Panti Waluya Sawahan Riko Prasetyo, selama delapan bulan pada tahun ini, pihaknya sudah melayani 1.592 kunjungan cuci darah.

”Tapi kami belum melayani anak-anak. Usia yang paling muda 19 tahun dan yang paling tua 94 tahun,” sebut dia.

Rumah sakit yang baru melayani pasien dewasa adalah RS Panti Nirmala dan RSUD Karsa Husada Kota Batu.

 Kepala Bagian Pemasaran RS Panti Nirmala dr Engelbert Hariyanto menyebut, setiap tahun selalu ada penambahan pasien cuci darah.

”Sebagai contoh, tahun 2023 ada 155 kasus baru, sementara tahun 2024 ada 109 kasus baru,” kata dia.

Terpisah, Kepala Divisi Hemodialisa RSUD Karsa Husada Kota Batu Astri Ulia Rahmawati SpPD menyebut, ada 245 kunjungan cuci darah yang diterima pihaknya pada 2023.

Sementara tahun ini, sampai bulan Agustus sudah ada 185 kunjungan.

Baca Juga: 29 Pasien Berhasil Transplantasi Ginjal di RSSA

”Kunjungan kami berasal dari 133 pasien reguler. Selebihnya pasien yang nonrutin,” terangnya.

Di tempat lain, Sub Koordinator Humas dan Pemasaran RSUD Kanjuruhan Lukito Condro Winoto menyampaikan, pada 2024 jumlah pasien rutin cuci darah berjumlah 77 orang.

Jumlah tersebut meningkat sekitar 27 pasien sejak 2021. Sebab pada 2021 lalu ada sekitar 50 pasien.

”Dengan jumlah pasien itu, per bulan ada sekitar 500 kunjungan pasien yang membutuhkan layanan cuci darah,” ucapnya, kemarin (3/9).

Lukito menambahkan, RSUD Kanjuruhan belum bisa melayani cuci darah anak-anak.

Sebab, mereka belum memiliki SDM spesialis anak konsultan nefrologi. Sehingga, untuk pasien cuci darah anak-anak akan dirujuk ke RSSA Malang.

”Data laporan bulanan pasien paling muda yang pernah dilayani berusia 21 tahun. Di bawah usia tersebut belum ada,” imbuhnya.

Baca Juga: 400 Pasien RSSA Malang Antre Transplantasi Ginjal-Kornea

Sementara itu, Kepala Bagian (Kabag) Marketing RS Wava Husada Rini Minarsih SKep Ners menyampaikan, terdapat 149 pasien cuci darah dengan kunjungan 9.208 pasien hingga Juli 2024.

”Hingga saat ini, belum ada pelayanan cuci darah untuk anak-anak,” kata dia.

Meski menjalani cuci darah, gagal ginjal kronis tidak dapat sembuh.

Sehingga perlu dilakukan secara teratur seumur hidup.

Walau begitu, cuci darah dapat membantu mengurangi gejala gagal ginjal kronis. Seperti sesak, bengkak, mual, dan muntah.

”Dengan cuci darah, ada yang ketahanannya kurang dari satu tahun. Namun, ada juga yang lebih dari 15 tahun, tergantung bagaimana pasien menerapkan gaya hidup ketika menjalani cuci darah rutin,” tambah Rini. (mel/yun/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#cuci darah #Malang Raya #Hemodialisa #gagal ginjal #anak - anak