Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Penderita 3 Jenis Kanker di Kota Malang Mengalami Peningkatan

Bayu Mulya Putra • Minggu, 9 Februari 2025 | 01:05 WIB
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Malang
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Malang

Sepanjang Bulan Januari, Dinkes Catat Ada 132 Pengidap

MALANG KOTA – Jumlah kasus kanker yang dicatat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang terpantau mengalami peningkatan.

Pada tahun ini saja, dalam satu bulan, tepatnya Januari lalu, sudah ada 132 pasien kanker yang tercatat (selengkapnya baca grafis).

Berdasar data dinkes, kanker yang diidap pasien berbeda.

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Malang
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Malang

Ada tiga penderita kanker yang tercatat di dinkes.

Yakni penderita kanker leher rahim (serviks), kanker payudara, dan kanker usus besar (kolorektal).

Namun yang paling mendominasi adalah penderita kanker payudara.

”Kebanyakan ditemukan pada pasien dengan jenis kelamin perempuan,” kata Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif, kemarin (7/2).

Sebagai contoh pada Januari 2025, sudah ada 110 pasien kanker payudara.

Disusul 16 pasien kanker serviks dan 6 pasien kanker kolorektoral.

Seluruhnya adalah perempuan.

Kendati didominasi perempuan, ada juga laki-laki yang menderita kanker.

Seperti tahun 2024, ada 610 pasien kanker payudara.

Diantara ratusan pasien itu, tercatat ada sembilan laki-laki yang menderita kanker payudara.

Kemudian yang mendominasi selanjutnya adalah kanker serviks dengan 141 pasien.

Selanjutnya kanker kolorektoral yang terdiri dari enam pasien laki-laki dan tujuh pasien perempuan.

Pasien laki-laki yang menderita kanker juga ditemukan pada 2023.

Untuk kanker payudara terdiri dari 428 pasien perempuan dan 14 pasien laki-laki.

Lalu kanker serviks sebanyak 141 pasien perempuan.

Husnul menjelaskan, setiap kanker timbul karena berbagai faktor.

Misalnya saja kanker payudara.

Sampai saat ini, penyebab kanker payudara belum diketahui pasti.

Namun ada faktor-faktor risiko yang bisa meningkatkan terjadinya kanker itu.

Faktor risiko yang dimaksud seperti rokok, pola makan yang buruk, menstruasi lebih awal, menopause setelah usia 50 tahun, melahirkan anak pertama di atas usia 35 tahun, dan tidak pernah menyusui.

Selain itu, juga faktor anggota keluarga yang memiliki riwayat menderita kanker payudara.

Agar kanker tidak sampai menyebar ke bagian tubuh lain, dinkes rutin melakukan skrining.

Yang sering dilakukan adalah skrining melalui Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) untuk mendeteksi kanker serviks.

 ”Lalu untuk kanker payudara bisa melalui pemeriksaan secara mandiri maupun tenaga kesehatan terlatih,” imbuh pejabat eselon II B Pemkot Malang tersebut.

Jika kanker diketahui sejak dini, tenaga kesehatan bisa melakukan terapi awal.

Seperti krioterapi untuk mengobati kanker serviks.

”Untuk kanker lainnya, setelah diketahui bisa dirujuk ke rumah sakit sedini mungkin,” tegas Husnul.

Terpisah, spesialis kanker RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) dr Herwindo Pudjo Brahmantyo SpPD menjelaskan, penanganan pasien kanker secara umum yang harus dilakukan terlebih dulu adalah diagnosa.

Di beberapa rumah sakit, penentuan diagnosa bisa dilakukan dengan biopsi.

Biopsi adalah proses pengambilan sampel jaringan tubuh dari kulit, organ, atau sumsum tulang.

Caranya bisa menggunakan jarum halus atau jarum besar.

”Jarum tersebut ditusuk ke jaringan tubuh. Lalu akan didapatkan sampel tumor nya,” jelas Herwindo.

Selain biopsi, ada pemeriksaan penunjang lain seperti cek darah, radiologi, CT scan, atau MRI.

Setelah dilakukan pemeriksaan penunjang baru bisa ditentukan pasien mengalami kanker dengan stadium tertentu.

Terkadang ada beberapa kanker yang sulit dideteksi karena mirip dengan kanker lainnya.

Misalnya saja kanker otot dan kanker darah.

Kalau sudah begitu, dokter harus melakukan analisa tambahan melalui pemeriksaan imunohistokimia.

Itu untuk melihat sampel dari biopsi di bawah mikroskop untuk mengetahui penanda khusus pada kanker.

”Satu lagi pemeriksaan molekuler. Pemeriksaan molekuler dilakukan dengan cara memasukkan sampel dari biopsi ke sebuah alat,” tuturnya. (mel/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#rekapitulasi #dinas kesehatan #penyakit kanker #dinkes #dinas kesehatan kota malang #Kanker