JUARIYAH mengalami keguguran saat mengandung anak ketiga. Itu berlangsung tahun 2015. Selain keguguran, tubuh Juairiyah juga terasa nyeri hingga ke persendian.
Di wajahnya terdapat bengkak dan muncul bintik hitam di sekitar pipi. Dia pun mencoba memeriksakan diri ke dokter umum, tapi diagnosisnya hanya flu tulang.
Satu tahun kemudian, Juariyah baru mengetahui kalau nyeri yang dirasakannya adalah salah satu gejala lupus. Hal tersebut diketahui setelah Juariyah dirujuk ke RSUD dr Saiful Anwar (RSSA).
”Gejalanya semakin parah. Saya kejang, sehingga harus rawat inap selama 15 hari di RSSA,” ungkap perempuan asal Malang tersebut.
Baca Juga: Harapan Hidup Pasien Lupus di Malang Raya Hampir 100 Persen
Setelah didiagnosis mengidap Systemic Lupus Erythematosus (SLE), Juariyah diminta kontrol dua minggu sekali ke rumah sakit dan mengonsumsi obat rutin. Kondisinya pun semakin membaik.
Namun, dokter melarangnya untuk hamil lagi karena berpotensi terjadi komplikasi. Jika ingin memiliki anak lagi, pasien lupus biasanya harus diawasi oleh dokter.
Karena ingin memiliki anak lagi, Juariyah dan suaminya rajin kontrol ke dokter. Kesabaran keduanya akhirnya terjawab 1,5 tahun kemudian. Saat itu, Juariyah dinyatakan hamil.
”Beruntung selama kehamilan sampai kelahiran tidak ada keluhan yang signifikan,” cerita perempuan yang sehari-hari berjualan sayur dan kue itu.
Baca Juga: Rumah Sakit Saiful Anwar Catat Peningkatan 100 Pasien Lupus Per Tahun
Namun, dokter memintanya untuk mengonsumsi obat penguat kandungan, vitamin, dan kalsium. Perjuangan untuk memiliki anak dalam kondisi lupus juga dialami oleh Pradita Dewi Larasati.
Perempuan yang berprofesi sebagai guru TK itu kini sedang menjalani program kehamilan pertama.
Dia pun sudah memahami konsekuensi hamil dalam kondisi lupus karena sudah menjadi penyintas sejak tahun 2017.
Untuk memastikan program kehamilannya berjalan lancar, Pradita sekarang menjalani serangkaian tes.
”Tinggal menunggu hasilnya bulan depan. Kalau masih stabil nanti bisa untuk program kehamilan,” imbuh perempuan kelahiran Pati tersebut.
Pradita kemudian mengisahkan kondisi awal saat dirinya divonis mengidap lupus oleh dokter. Gejala awal muncul pada September 2017.
Saat itu dia bangun tidur dalam kondisi telapak kaki nyeri.
Terutama jika dibuat jalan. Semula Pradita menganggap nyeri di kaki yang dirasakannya karena kelelahan bekerja.
Baca Juga: Mengenal Vaksin HPV: Perlindungan dari Kanker Serviks dan Penyakit Menular Seksual
Namun karena berlangsung selama beberapa hari, dia memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter klinik. Menurut dokter, kondisi itu terjadi akibat efek berat badan.
Namun, dokter tetap memberi obat dan menyarankan Pradita agar menggunakan sandal yang agak tinggi untuk menopang badannya. Sayangnya, badan Pradita malah semakin bengkak.
Dia sempat mengira bengkak pada badannya karena terlalu banyak makan. Bobotnya pun meningkat dari 45 kilogram ke 55 kilogram.
Untuk mengatasi itu, Pradita mencoba diet dan hanya mengonsumsi makanan bergizi.
Baca Juga: Mengenal Pneumonia Ganda: Penyakit yang Menyerang Paus Fransiskus dan Tingkat Bahayanya
Tapi kondisinya tetap tak membaik. Saking sakitnya, Pradita sampai diantar temannya ke rumah sakit pada pukul 02.00.
Pradita akhirnya mendapatkan penanganan di RS Moewardi Solo. Dia mendapat tindakan tranfusi darah dan injeksi berupa tranfusi albumin.
Selain itu, dia harus rawat inap selama seminggu. Kondisinya pun perlahan membaik.
Meski membaik, Pradita diminta menjalani tes ANA IF untuk mengetahui adanya lupus dan dinyatakan positif.
”Awalnya tidak terima. Namun lama-kelamaan bisa menerima. Saya juga menjalani pengobatan rutin. Termasuk saat pindah ke Malang tahun 2021,” ucapnya. (mel/fat)
Editor : Aditya Novrian