Sepak Terjang Tri Maharani Mengedukasi Bahaya Gigitan Ular selama 13 Tahun.
Pengalaman gagal menyelamatkan petugas PLN dari bisa ular jadi satu alasan Dr dr Tri Maharani MSi SpEM totalitas dengan profesinya sekarang. Alumnus Universitas Brawijaya itu pernah merelakan gajinya untuk membeli antibisa ular.
Telepon Tri Maharani jarang berhenti berdering. Setiap hari ada sekitar 30-an panggilan masuk. Isi semua panggilan telepon yang tertuju kepadanya terkait penanganan gigitan ular.
Saat wartawan koran ini menemui Maha-panggilan Tri Maharani-pada Minggu lalu (1/6), dia menerima telepon dari tenaga medis RSUD Batusangkar, Provinsi Sumatera Barat.
Mereka berkonsultasi dengan Maha karena tengah menangani pasien perempuan yang digigit ular. Saat itu, pasien tersebut mengalami pendarahan.
Trombositnya menurun dan hasil uji keenceran darahnya meningkat. Beruntung, keluarga dan tenaga medis bertindak cepat pada waktu itu. Sehingga pasien perempuan tersebut tertolong.
Penyelamatan dilakukan dengan cara menjaga bagian tubuh yang digigit ular tidak bergerak. Lalu diberi obat analgesik dan selama 24 jam dalam pengawasan dokter.
Selain pihak RSUD Batusangkar, hari itu Maha juga menerima belasan telepon lain dari berbagai daerah.
”Pernah dalam satu hari mendapatkan panggilan telepon sampai 50 kali,” katanya. Penanganan gigitan ular lebih cepat sekarang.
Itu berkat WhatsApp group yang menghubungkan perwakilan tenaga medis dari seluruh provinsi di Indonesia. Ditambah adanya Virtual Poison Center atau layanan konsultasi online untuk keracunan yang diinisiasi Maha.
Kondisi itu berbeda dengan 16 tahun silam. Maha yang berstatus chief sekaligus mahasiswa PPDS Kedokteran Emergensi Universitas Brawijaya (UB) punya pengalaman tidak menyenangkan dalam penanganan orang tergigit ular.
Akibat belum memiliki keterampilan yang mumpuni, dirinya dan tenaga kesehatan dr Saiful Anwar (RSSA) gagal menyelamatkan petugas PLN yang terkena bisa ular.
”Saat itu petugas tersebut memegang tangan saya sembari minta diselamatkan,” kenang Maha.
Permohonan itu disampaikan kepadanya karena petugas PLN itu memiliki anak kecil dan istri. Dari pengalaman itu, dia menyadari Indonesia minim pengetahuan perihal gigitan ular.
Bermula pada tahun 2012, Maha mencoba menghimpun jumlah kasus gigitan ular. Hasilnya, mencapai 130 ribu per tahun dan jumlahnya meningkat jadi 135 ribu orang per tahun pada 2016.
Dalam usahanya itu, perempuan yang kini berusia 53 tahun itu mendapati fakta jika Indonesia baru memiliki tiga jenis Anti-Snake Venom (ASV).
Serum antibisa ular itu, hanya untuk mengobati gigitan ular kobra Jawa (spitting cobra), ular welang (banded krait), dan ular tanah (malayan pit viper). Demi menyelamatkan pasien, Maha kerap merogoh kocek pribadi untuk membeli ASV.
Itu dilakukan sejak 2014 sampai 2023. Satu vial ASV yang diperuntukkan untuk satu orang itu dibanderol dengan harga sekitar Rp 1,6 juta.
”Hampir 90 persen gaji sebagai PNS saya belikan anti-venom,” kenang perempuan asli Kediri tersebut. Membeli anti-venom pun tidak bisa sembarangan.
Maha bisa membeli karena sudah berstatus advisor dari World Health Organization (WHO).
Selain itu, Maha juga memiliki kenalan penyedia anti-venom di Australia dan Thailand. Khusus untuk penyedia di Thailand bergerak secara nirlaba. Karena itu, pengambilan ASV harus disertai Letter of Intent (LoI).
Dengan adanya LoI, barang yang sudah dibeli tidak boleh dikomersialkan kecuali memiliki izin importase. Jumlah yang dibeli juga dibatasi.
Dalam satu kali pembelian, biasanya hanya mendapat 30 vial sampai 40 vial. Selain penyediaan ASV, Maha membuat dua buku pedoman.
Isinya mengenai hewan, tumbuhan, dan jamur beracun pada tahun 2023. Lalu, membuat program penanganan gigitan ular untuk desa-desa di Papua pada tahun yang sama.
Maha biasanya memberi edukasi dan training penanganan gigitan ular di Papua sembari menyalurkan antikolinesterase sebanyak 10 ribu ampul. Obat itu mencegah otot agar tidak lumpuh akibat bisa ular. Jenis ular di sana berbisa dengan taring pendek.
”Tahun lalu saya sudah 10 kali memberi training di Papua. Sementara tahun ini sebanyak lima kali,” jelas dia.
Penyaluran obat akibat gigitan ular tidak sekadar di Papua. Maha juga menyalurkan obat itu di wilayah Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Bali.
Di samping penyaluran obat, Maha mengadakan training untuk ribuan tenaga medis melalui daring. Dia ingin mewariskan ilmu penanganan gigitan ular. Tujuannya, supaya lebih banyak korban yang bisa diselamatkan.
Tidak berhenti di situ, Maha berusaha mendorong Indonesia bisa memproduksi ASV sendiri. Proses itu sudah dia gagas pada tahun 2022. Dia mengusulkan Bali Reptile Park untuk menjadi snake farm yang bisa memproduksi ASV.
Agar tempat itu bisa menjadi snake farm, Maha merekomendasikan tiga tenaga Bali Reptile Park untuk sekolah lagi di Thailand. Tujuannya, supaya mendapat sertifikasi. Tenaga yang tersertifikasi merupakan salah satu syarat pendirian snake farm.
Selain tempat itu, snake farm lain berdiri di Kelurahan Cibubur, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur. Luas snake farm tersebut 10 hektar. Tenaga di sana juga sedang dipersiapkan.
Sedangkan, riset pembuatan ASV itu mendapat support dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Di antaranya, Universitas Gajah Mada untuk ASV ular kobra Jawa, Universitas Papua untuk jenis ular Australia, dan Universitas Airlangga membuat ASV dalam bentuk patch atau koyo.
Dalam pengembangan ASV, ada dua perusahaan yang digandeng. Yakni PT Biofarma yang memiliki kapasitas produksi 70 ribu dosis per tahun dan PT Biotis Prima Agrisindo dengan 100 ribu dosis per tahun.
”Selain dana yang besar, proses pengembangan (ASV) minimal membutuhkan waktu 10 tahun. Karena harus melalui tiga tahap,” kata Maha. (gp)
Editor : A. Nugroho