Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

7 Bulan, 173 Anak di Kabupaten Malang Positif Idap PD3I, Mayoritas karena Belum Mendapat Imunisasi Lengkap

Bayu Mulya Putra • Selasa, 12 Agustus 2025 | 16:55 WIB
Monitoring PD3I di Malang Raya.
Monitoring PD3I di Malang Raya.

MALANG RAYA - Inilah alasan pemerintah selalu menyalurkan sejumlah vaksin untuk anak-anak pada bulan Agustus. Diketahui, selalu ada temuan Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Meski jumlah kasusnya tidak tinggi, beberapa pemda di Malang Raya punya catatannya. 

Jumlah temuan kasus terbanyak di Kabupaten Malang. Pada 2025 ini, ada 173 anak yang mengidap PD3I. Dengan rincian, 140 anak mengidap campak-rubella, 19 anak mengidap difteri, dan 14 anak mengidap pertussis (selengkapnya baca grafis). Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang drg Ivan Drie menyampaikan, mayoritas kasus itu ditemukan pada anak yang tidak mendapat imunisasi lengkap. 

”Itu terbukti di Karangploso pada 2023 lalu. Ada satu anak yang positif difteri sampai meninggal. Setelah ditelusuri, anak tersebut tidak pernah imunisasi,” ucap dia. Risikonya, anak-anak berusia 0-14 tahun di kecamatan tersebut harus diimunisasi difteri tiga dosis. Tentunya dengan interval tertentu. Yakni dari dosis pertama ke dosis kedua selama satu bulan dan dosis kedua ke dosis ketiga selama enam bulan. 

Pada 2025 ini, sudah ada 19 anak yang terkena difteri. Mayoritas karena belum menjalani imunisasi. Padahal seharusnya nihil kasus difteri. Difteri yakni penyakit menular karena kontaminasi bakteri corynebacterium diphtheria. Seseorang bisa tertular difteri jika tidak sengaja menghirup atau menelan percikan air liur yang dikeluarkan penderita saat batuk atau bersin. 

Penularan juga dapat terjadi jika menyentuh benda yang sudah terkontaminasi air liur penderita. Tahun ini dinkes juga mencatat ada 14 anak penderita pertussis. Anak-anak tersebut juga ada yang belum waktunya untuk imunisasi Difteri-Pertussis-Tetanus (DPT).  Dia menyebut, imunisasi DPT seharusnya diberikan saat anak berusia dua bulan. Namun, saat masih berusia kurang dari dua bulan, anak tersebut sudah terinfeksi pertussis. ”Itu bisa jadi dari lingkungan yang kurang higienis,” tambah Ivan. 

Pertussis atau batuk rejan diakibatkan kontaminasi bakteri bordetella pertussis. Namun juga bisa karena bakteri bordetella parapertussis. Penularannya dapat terjadi melalui droplet (partikel air kecil) dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi. Penyakit tersebut dapat disembuhkan dengan pengobatan. Begitu sembuh, anak tersebut harus diimunisasi untuk mencegah terjadinya pertussis lagi.

Di antara tiga penyakit yang terjadi di Kabupaten Malang, campak memiliki jumlah pengidap yang paling banyak. Campak terjadi karena infeksi virus morbillivirus. Virus tersebut dapat menular dengan mudah melalui droplet, yang keluar ketika batuk, bersin, atau berbicara.

”Selain tiga penyakit tersebut, kami sudah mengirim tujuh orang Acute Flaccid Paralysis (AFP) untuk tes polio dan hasilnya negatif semua. Jadi, sebelum anak dinyatakan positif polio harus diperiksa dulu,” papar Ivan. Polio terjadi karena infeksi virus polio dan dapat menular. Tidak seperti PD3I lainnya, penyakit itu tidak dapat disembuhkan dan berisiko cacat seumur hidup. 

Dari beragam kasus itulah tiga pemda menggiatkan pemberian vaksin pada bulan ini. Seperti diberitakan, ada 125.957 anak-anak yang jadi sasarannya. Semua masuk kategori pelajar SD. Di Kabupaten Malang ada 73.194 anak yang jadi sasarannya. Di Kota Malang ada 37.246 anak. Sementara di Kota Batu ada 15.517 anak. 

Berbeda dengan Kabupaten Malang, Dinkes Kota Malang belum mencatat kasus PD3I. Tahun ini mereka hanya mencatat ada 10 anak yang masuk kategori suspek. Mereka dicurigai karena memiliki gejala yang menjurus ke penyakit seperti campak-rubela, difteri, polio, dan pertussis. Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang Meifta Eti Winindar mengatakan, ada banyak kondisi yang bisa menyebabkan anak-anak terjangkit virus hingga masuk kategori suspek.

Salah satunya karena tidak mengikuti imunisasi dasar lengkap (IDL). ”Padahal, imunisasi perlu diberikan kepada anak-anak sejak usia bayi sampai menginjak usia sekolah dasar,” kata dia. Diawali pada rentang usia 0 sampai 24 bulan. Saat itu, anak-anak harus diberi vaksin bertahap mulai HBO (Hepatitis 0), BCG (Bacillus Calmette Guerin), OPV (vaksin polio oral), dan DPT-HB-Hib (difteri, tetanus, pertussis, hepatitis B). Juga vaksin Haemophilus Influenzae tipe B), MR (Campak-Rubela), serta PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine). Anak-anak usia SD juga mendapat imunisasi tambahan. Salah satunya yakni imunisasi HPV (Human Papilomavirus).

Selain tidak mendapat imunisasi lengkap, penyakit menular juga bisa disebabkan karena kondisi lingkungan yang kurang bersih. Misalnya saja, air yang tercemar tinja hingga percikan cairan tubuh dari penderita. Untuk mencegah penyebaran penyakit, dinkes terus melakukan pemantauan pada anak-anak. Di Kota Malang, tercatat ada 10.0037 bayi baru lahir, 39.073 balita, dan 122.586 anak usia sekolah dasar yang perlu dipantau kondisi kesehatannya. 

Bila sudah ada temuan kasus, penanganannya harus dilakukan sedini mungkin. Sehingga anak-anak tidak sampai mengalami komplikasi. Sebagai contoh, difteri bisa menyebabkan penyakit serius seperti komplikasi jantung. Dikutip dari situs resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, ada berbagai gejala yang perlu diwaspadai orang tua. 

Sebagai contoh, penyakit campak-rubela memiliki gejala seperti demam dan bintik kemerahan. Sementara penyakit difteri gejalanya seperti nyeri saat menelan, demam, muncul selaput putih di tenggorokan, hingga leher yang membengkak. 

Sedangkan polio memiliki gejala lumpuh secara mendadak disertai demam. Sementara pertussis gejalanya seperti anak yang batuk berkepanjangan. Ditambah dengan kondisi tarikan napas yang keluar dari mulut seperti bunyi melengking dan kadang disertai muntah.

Senada dengan Meifta, Adi Koesaini, Staf Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Penyelenggaraan dan Pembinaan (PB) Dinkes Kota Batu juga menekankan pentingnya imunisasi. Dia lantas menjelaskan cara kerja vaksin yang diberikan kepada anak. Itu membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap racun yang dikeluarkan bakteri dan virus. 

Sehingga, saat anak terpapar, tubuhnya sudah siap melawan infeksi. Di Kota Batu selama dua tahun ini tidak ditemukan penyakit pada anak. Tahun ini ada 89 sampel suspek yang diperiksa. ”Hasilnya alhamdulillah nihil. Pada 2024 juga belum ada temuan anak terjangkit penyakit yang sudah dicegah dengan vaksin tadi,” terang Adi.

Dia menambahkan pada kelompok usia lain, hanya ada satu warga yang terjangkit. Yakni seorang laki-laki berusia 22 tahun yang dinyatakan positif rubella. ”Jadi temuannya bukan di kelompok usia anak-anak,” terang Adi. (yun/mel/dia/by) 

Editor : A. Nugroho
#Imunisasi #PD3I #Malang Raya #dinkes