MALANG KOTA – Wabah campak mulai merebak di sejumlah daerah di Jawa Timur. Bahkan, Sumenep sudah ditetapkan sebagai daerah dengan status kejadian luar biasa (KLB) campak. Namun, Kota Malang hingga akhir awal September masih aman.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Husnul Muarif memastikan baik suspek maupun kasus positif campak belum ditemukan. ”Sampai sekarang nihil laporan,” ujarnya, kemarin. Kondisi itu berbeda dengan tahun lalu, ketika lebih dari 70 kasus campak tercatat di Kota Malang.
Meski begitu, Husnul tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Campak, katanya, bukan penyakit ringan. Gejalanya biasanya berupa demam disertai bintik merah di kulit.
Jika tidak ditangani dengan tepat, campak dapat menimbulkan komplikasi serius. ”Bisa menyebabkan diare, radang paru, radang otak, kebutaan, gizi buruk, hingga kematian,” paparnya.
Selain campak, Kota Malang masih menghadapi penyakit menular lainnya yang masuk kategori Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Di antaranya difteri dan pertusis, dengan jumlah kasus hampir 20 sejak awal tahun.
Husnul menegaskan, pencegahan paling efektif tetap dengan imunisasi lengkap sesuai jadwal. Anak usia 9–18 bulan hingga sekolah dasar wajib mendapatkan vaksin campak-rubela. Jika ada anak yang belum mendapatkan imunisasi sesuai jadwal, dinkes biasanya melakukan jemput bola melalui posyandu atau puskesmas. ”Tujuannya menekan jumlah anak zero dose atau belum pernah diimunisasi sama sekali,” jelasnya.
Selain imunisasi, peran orang tua juga penting. Anak harus mendapat asupan gizi seimbang, rutin diberi vitamin A, serta dijauhkan dari ibu hamil ketika terdeteksi campak agar janin tidak ikut terpapar. Dengan langkah itu, risiko penyebaran campak di Kota Malang bisa tetap ditekan meski kasus di daerah lain mulai meningkat. (mel/adn)
Editor : A. Nugroho