MALANG KOTA – Upaya menekan angka stunting terus digalakkan. Tim Penggerak PKK Kota Malang misalnya. Para kader melakukannya lewat Kontes Balita Sehat yang melibatkan 57 kelurahan se-Kota Malang kemarin.
Dalam kegiatan itu, tiap posyandu menampilkan balita terbaik untuk dinilai kesehatannya dari berbagai aspek. Mulai dari gizi, tumbuh kembang, hingga riwayat kehamilan ibu. Langkah ini sekaligus menjadi sarana edukasi bagi para orang tua tentang pentingnya asupan bergizi dan perawatan anak di masa golden age.
”Balita itu punya masa emas yang tidak boleh terlewat. Di fase itu, orang tua harus memastikan anak mendapat gizi dan stimulasi yang cukup,” ujar Ketua TP PKK Kota Malang Hanik Andriani Wahyu Hidayat.
Selain lomba, Hanik dan jajaran PKK juga rutin turun ke posyandu untuk memastikan pelayanan pencegahan stunting berjalan optimal. Anak-anak mendapat makanan tambahan bergizi, sementara ibu memperoleh pendampingan terkait pola asuh dan perawatan balita.
”Anak ini penerus bangsa. Jadi, perhatian terhadap gizi dan tumbuh kembang mereka adalah investasi masa depan,” tegas Hanik.
Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat tren penurunan angka stunting yang cukup menggembirakan. Berdasar data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPP-GBM), tingkat stunting pada September lalu mencapai 8,5 persen. Turun dari sekitar 10 persen pada tahun-tahun sebelumnya.
Namun, data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan angka prevalensi stunting di Kota Malang masih di posisi 22,7 persen. Sementara arget nasional pada 2029 mendatang adalah 14 persen.
Kepala Dinkes Kota Malang Husnul Muarif menyebut, penyebaran kasus stunting di Kota Malang cukup merata. ”Kasus terbanyak ada di Kelurahan Balearjosari, Kecamatan Blimbing. Sementara terendah di Rampal Celaket, Kecamatan Klojen,” ujarnya. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho