KEPANJEN - Pelayanan untuk warga yang mengidap penyakit jantung di Kabupaten Malang perlu diperbaiki. Sebab, sampai saat ini belum semua rumah sakit (RS) memiliki pelayanan khusus untuk jantung. Tindakan kateterisasi atau pemeriksaan gangguan pembuluh darah dan jantung juga belum bisa dilakukan semua RS.
Hanya ada dua RS saja yang bisa melakukannya (selengkapnya baca grafis). Untuk diketahui, kateterisasi adalah pemeriksaan menggunakan kateter atau selang tipis yang dimasukkan ke pembuluh darah. Dari pemeriksaan itu lah dokter bisa menentukan proses penanganannya.
Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang Gunawan Djoko Untoro, SKM MSi menyebut, sampai saat ini pelayanan kateterisasi di RSUD Kanjuruhan juga belum bisa menjangkau pasien BPJS. Itu disebabkan belum adanya kesepakatan dengan BPJS Kesehatan. Gunawan memastikan bahwa kesepakatan itu sedang diproses.
”MoU sudah diajukan oleh RSUD Kanjurhan hingga di tingkat (BPJS) pusat, tinggal menunggu disetujui,” beber Gunawan. Saat ini, dari 17 RS di Kabupaten Malang, hanya ada dua rumah sakit yang memiliki catchlab, yaitu RSUD Kanjuruhan dan RS UMM. Untuk diketahui, catchlab merupakan ruang khusus di RS untuk pemeriksaan dan tindakan medis pada jantung serta pembuluh darah.
Meski begitu, Gunawan memastikan bahwa pelayan atau teknologi penanganan jantung lainnya sudah terpenuhi. Seperti CT scan jantung untuk mengetahui detail struktur jantung dan pembuluh darah koroner. Juga Magnetic Resonance Imaging (MRI) Jantung.
Selain itu, pihaknya juga melakukan beberapa tindakan untuk menurunkan angka penderita penyakit jantung. Pelayanan promotif dengan pola hidup sehat, melakukan deteksi dini atau skrini pada cek kesehatan gratis posyandu lansua, dan posyandu institusi. ”Termasuk Perlindungan khusus dengan regulasi Perbup Nomor 31 tahun 2021 tentang pengendalian Penyakit jantung di Kabupaten Malang,” imbuh Gunawan
Sementara itu, RSUD Kanjuruhan mencatat tahun ini ada 1.535 pasien penyakit jantung yang menjalani rawat jalan. Namun, sebagian besar harus melaksanakan perawatan lebih lanjut di luar Kabupaten Malang.
Dokter Spesialis Jantung RSUD Kanjuruhan Fahmy Rusnanta SpJP menjelaskan, dari 1.535 pasien sampai Oktober ini, 30 persennya atau 460 pasien harus mendapatkan rujukan kateterisasi.
Rujukan tersebut ditujukan ke RSUD dr Syaiful Anwar (RSSA) Malang atau rumah sakit swasta bertaraf A di Kota Malang. ”Karena rumah sakit tersebut menerima layanan kateterisasi untuk pemegang JKN (Jaminan Kesehatan Nasional),” jelas Fahmy. Dia menyebut bahwa RSUD Kanjuruhan belum bisa menggunakan fasilitas catchlab untuk pasien JKN. ”Masih terbatas untuk pasien reguler saja,” jelas dia.
Fahmy juga membenarkan bahwa pihaknya sudah mengajukan kepada BPJS pusat agar catchlab tersebut bisa digunakan pemegang JKN. Terlebih, menurut dia pelaksanaan kateterisasi itu penting. Pasalnya RSUD Kanjuruhan adalah rumah sakit rujukan, khususnya untuk warga Kabupaten Malang bagian selatan.
Tindakan kateterisasi diperlukan untuk pasien-pasien penderita penyakit jantung koroner, rematik jantung, dan kelainan jantung. Seperti diberitakan sebelumnya, ada 429 kunjungan pasien yang menderita jantung koroner sepanjang tahun ini. Sedangkan untuk pasien reumatik jantung ada 59 kunjungan pasien, dan 38 kunjungan pasien penyakit kelainan jantung.
Tindakan kateterisasi lazimnya dilakukan kepada penderita jantung koroner. Sebab, pasiennya menderita penyempitan di jalur darah dari atau ke jantung akibat lemak atau timbunan lainnya. Sehingga memerlukan pemasangan ring atau alat untuk memperlebar aliran.
Selain itu juga dilakukan kepada pengidap rematik jantung.
Sebab, pasiennya menderita infeksi bakteri yang menyerang kepada katup jantung. ”Katup itu suatu struktur yang memisahkan bilik dan serambi jantung kanan dan kiri. Fungsinya untuk memperlancar aliran darah di antara ruang-ruang jantung,” beber Fahmy,
Ada dua kasus rematik jantung yang sering ditemukan. Yakni katup yang tersumbat dan bocor. Saat katup tersumbat, aliran darah tidak lancar. Itu membuat jantung harus memompa lebih keras. Sementara ketika bocor, darah yang harusnya mengalir dari ruang-ruang jantung tidak normal atau tidak berjalan semestinya.
Fasilitas catchlab juga dibutuhkan pasien penyakit Atrial Septal Defect (ASD) atau pasien penderita kebocoran jantung. ”Penyakit ini adalah bawaan atau turunan, jadi ada kebocoran atau kecatatan di sekat serambi jantung,” jelas Fahmy.
Kebocoran atau kecacatan di sekat antar-ruang jantung itu membuat darah kotor dan bersih tercampur. Itu membuat gangguan serius pada sistem sirkulasi darah. Salah satunya penurunan kadar oksigen tubuh, dan gangguan organ lainnya. ”Pencampuran tersebut sebenarnya tidak boleh terjadi,” sebut dia. (yad/by)
Editor : A. Nugroho