TAK banyak dokter yang berani melangkah sejauh dr Andi Shita Anggraini. Setelah 15 tahun menekuni dunia medis, perempuan 45 tahun itu kini sukses mewujudkan mimpinya. Mendirikan rumah sakit sendiri yang diberi nama Bambang Shita Hospital.
Rumah sakit tersebut kini menjadi salah satu rujukan baru layanan kesehatan di Kota Malang. Perjalanan Shita tidak dimulai dari fasilitas besar.
Awalnya, pada 2019 ia membuka Apotek Shita Farma di Kelurahan Merjosari.
Dua tahun kemudian, usaha kecil itu berkembang menjadi klinik rawat inap dengan nama Shita Medical Clinic.
Perlahan tapi pasti, klinik tersebut terus diperluas dan direnovasi hingga akhirnya resmi naik kelas menjadi rumah sakit penuh pada Desember 2024.
”Perjalanan ini tidak mudah. Tapi saya percaya kalau dijalani dengan tekun dan niat membantu banyak orang, hasilnya akan mengikuti,” ujar Shita.
Sebagai dokter umum sekaligus ibu dua anak, Shita dikenal gigih dan visioner. Ia memadukan ketelatenan seorang tenaga medis dengan naluri wirausaha yang kuat.
Hasilnya, Bambang Shita Hospital kini berstatus rumah sakit tipe D dengan fasilitas yang tergolong lengkap untuk ukuran rumah sakit baru.
Di sana, tersedia layanan dokter spesialis mulai dari penyakit dalam, anak, kandungan dan kebidanan, bedah umum, neurologi, paru, kedokteran jiwa, hingga anestesi.
Selain itu, rumah sakit juga memiliki layanan penunjang seperti laboratorium, radiologi, dan unit gawat darurat yang siap 24 jam.
”Kami juga sedang mengembangkan Trauma Center agar pelayanan darurat bisa lebih cepat dan terintegrasi,” tutur Shita.
Tak berhenti di layanan medis, Shita juga memperluas jejaring kerja sama. Bambang Shita Hospital kini telah bermitra dengan sejumlah lembaga besar seperti BPJS Ketenagakerjaan, Jasa Raharja, Taspen, Asabri, Admedika, Halodoc, Lippo Insurance, hingga berbagai perusahaan penyedia asuransi swasta.
Kolaborasi itu menjadi bagian dari upayanya untuk memudahkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang cepat, transparan, dan terjangkau.
”Kami ingin pasien datang tanpa rasa khawatir soal biaya atau proses administrasi yang rumit,” tambahnya.
Ke depan, Shita berkomitmen menjadikan Bambang Shita Hospital sebagai rumah sakit dengan pelayanan berorientasi pada empati. Ia menekankan pentingnya pendekatan personal terhadap pasien.
”Sebagai dokter umum, saya belajar memahami pasien bukan hanya dari sisi medis, tapi juga emosional. Itulah yang membuat pelayanan kami terasa lebih tulus,” katanya.
Perjalanan Shita dari membuka apotek kecil hingga mendirikan rumah sakit menjadi inspirasi banyak tenaga medis muda.
Bahwa dengan ketekunan, inovasi, dan niat memberi manfaat, impian di dunia kesehatan bukan hal mustahil untuk diwujudkan. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho