MALANG KOTA - Besok (14/11) bakal diperingati sebagai Hari Diabetes Sedunia. Tujuan peringatan tahunan itu untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya penyakit diabetes. Sebab, dari tahun ke tahun, ada tren peningkatan jumlah kasus yang baru.
Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, temuan baru tahun 2023 mencapai 6.619 kasus. Jumlah tersebut mengalami peningkatan pada 2024. Dan, berpotensi meningkat kembali pada tahun ini. Sebab, selama 10 bulan terakhir, dinkes mencatat ada 9.693 kasus baru (selengkapnya baca grafis).
Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif mengatakan, peningkatan kasus diabetes itu dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya yakni gaya hidup. ”Masih ada masyarakat yang kurang menjaga pola makan, olahraga, dan pengelolaan stres,” kata dia.
Gaya hidup yang kurang sehat berpengaruh terhadap meningkatnya kadar gula darah. Itu bisa memicu timbulnya penyakit seperti diabetes. Kondisi itu, lanjut Husnul, harus diwaspadai. Sebab, diabetes tidak hanya menyasar kelompok usia dewasa.
Dari pemeriksaan rutin yang digelar puskesmas, pihaknya juga menemukan penderita diabetes yang masih anak-anak. Pada 2023, Husnul menyebut ada 14 penderita diabetes usia anak-anak. Tahun 2024, sempat menurun menjadi sebanyak 13 kasus. Namun, meningkat kembali tahun ini menjadi 22 kasus pada anak-anak.
”Kalau untuk anak-anak didominasi diabetes mellitus tipe 1,” sebut Husnul. Secara berturut-turut mulai 2023 sampai 2025, penderita diabetes mellitus sebanyak 7 anak, 12 anak, dan 14 anak. Diabetes yang terjadi pada anak tidak hanya dipengaruhi gaya hidup. Ada pula yang disebabkan autoimun, genetik, hingga lingkungan.
Untuk mencegah penyakit itu, dinkes rutin melakukan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Baik melalui puskesmas maupun kegiatan-kegiatan di masyarakat. Salah satunya CKG yang dilakukan di lingkungan Pemkot Malang.
Pada momentum CKG, biasanya terdapat pemeriksaan diabetes, pengukuran tinggi badan, pengukuran berat badan, tekanan darah, dan lingkar perut.
Umumnya, kadar gula darah untuk penderita diabetes sebelum makan antara 80-130 mg/dL. Lalu dua jam setelah makan menjadi 180 mg/dL. Selain kadar gula, ada pula gejala lain yang perlu diwaspadai. Seperti seringnya lapar dan haus.
Jika menunjukkan beberapa gejala, orang dengan diabetes bisa mendapat pengobatan dari puskesmas. Obat yang diberikan salah satunya adalah metformin. Obat itu berfungsi mengendalikan kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus tipe 2.
”Selain pemberian obat, ada pula pengecekan setiap sebulan sekali untuk orang yang kadar gulanya tinggi,” sambung pejabat eselon II B Pemkot Malang tersebut.
Husnul menambahkan, beberapa penderita juga tidak cukup ditangani di puskesmas saja. Pada penderita yang mengalami komplikasi, akan dirujuk ke rumah sakit untuk mendapat penanganan tingkat lanjut.
Sementara itu, salah satu penderita diabetes bernama Syaharani Dewi Fortuna mengungkapkan, dia termasuk yang mengalami diabetes mellitus tipe 1. ”Saya terdiagnosa sejak tahun 2013 atau saat masih kelas 4 SD,” ucapnya.
Menurut Syaharani, sampai sekarang belum diketahui penyebab diabetes yang dialaminya. Namun, kemungkinan mengarah pada diabetes idiopatik, atau diabetes tipe 1 yang langka dan tidak disebabkan oleh proses autoimun.
Sebelum mengalami diabetes, Syaharani pernah menderita DBD. Sehingga, sempat ada kemungkinan terjadi infeksi yang menyebabkan pankreas miliknya tidak bisa menghasilkan sel beta pankreas.
”Karena di keluarga juga tidak ada yang memiliki riwayat penyakit gula atau penyakit kronis lainnya,” cerita perempuan yang sekarang berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) itu.
Saat awal tahu terdiagnosa diabetes, Syaharani sempat bingung. Sebab, setelah dirujuk ke rumah sakit, dia masih harus disuntik setiap hendak makan. ”Oleh dokter saya diberi penjelasan. Itu membuat saya sedih dan marah,” ucapnya.
Namun, berkat dukungan dari pihak keluarga, Syaharani mulai menerima kondisinya. Dokter yang memeriksa dirinya di RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang juga mengajaknya bergabung ke komunitas anak-anak sesama penderita diabetes.
Untuk pengobatan, Syaharani menggunakan dua jenis terapi insulin. Yang pertama terapi short acting (pengobatan cepat) berupa novorapid dosis 12 IU sebanyak tiga kali sehari. Selanjutnya long acting (pengobatan yang efeknya bertahan lama), berupa lantus XR dosis 20 IU sebanyak satu kali yang diberikan pada malam hari.
”Sempat takut setiap harus memeriksa gula darah dan menyuntik insulin. Tapi, karena tidak bisa bergantung terus menerus dengan orang tua, saya belajar,” terang Syaharani. Dia berlatih menyuntikkan insulin sendiri. Sehingga setiap istirahat, dia bisa melakukan suntik mandiri di UKS. Proses pengobatan itu terus dia lakukan sampai saat ini. (mel/by)
Editor : A. Nugroho