KEPANJEN –Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang mewaspadai penyebaran penyakit menular, termasuk tuberkulosis(TBC). Oleh karena itu, dinas kesehatan (dinkes) gencar melakukan pelacakan (tracing) penyakit tuberkulosis.
Dalam kurun 11 bulan, Januari-November ini, dinkes memeriksa 27.853 orang terduga mengidap TBC. Setelah pemeriksaan lebih lanjut, hasilnya ditemukan 2.786 orang terkonfirmasi positif TBC.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang drgWiyantoWijoyo menyampaikan, pihaknya sedang fokus penguatan tracing kasus TBC. Tracing tersebut dilakukan dengan cara mengambil sampel dahak atau menggunakan metode pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA).
Namun dalam rangka percepatan penemuan serta penanganan kasus penyakit TBC, dibutuhkan alat periksa X-Ray dan tes cepat molekuler. Kedua alat tersebut diyakini berguna dalam rangka deteksi dini penyakit TBC.
“Untuk menemukan satu kasus TBC, perlu melakukan pemeriksaan kepada puluhan orang,” ujar pejabat yang akrab disapa dokter Wi itu beberapa waktu lalu. ”Prosespencarian penderita TBC membutuhkan tenaga, waktu, serta fasilitas pendukung yang tidak sedikit,” tambah pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.
Sebagai informasi, bakteri TBC menyerang paru-paru.Salah satu ciri penderita TBC adalah batuk-batuk. Dengan demikian, orang yang batuk-batuk dapat dikategorikan sebagai terduga TBC. Kemudian dilakukan pemeriksaan lebih lanjut agar bisa disimpulkan diagnosis terakhir,seperti pemeriksaan dahak dan sinar X.
Selain penguatan tracing, dokter Wi menyampaikan, ada lima strategi lain untuk penanganan kasus TBC. Yakni penguatan komitmen daerah, peningkatan promotif–preventif, pelibatan mitra kerja, intensifikasi layanan kesehatan, serta pemanfaatan teknologi seperti X-Ray dan alat tes cepat molekuler.
“Lebih mudah mengobati orang yang sudah positif menderita TBC daripada menemukan orang yang menderita TBC,” ucap dia. Sebab, dia mengatakan, begitu kasus ditemukan, penanganan akan fokus pada pengawasan ketat pasien untuk rutin mengonsumsi obat serta makanan bergizi tanpa berinteraksi langsung dengan orang lain.
Pengawasan ketat tersebut menjadi kunci utama untuk penyembuhan pasien TBC. Menurutnya, jika tidak disiplin mengonsumsi obat khusus pasien TBC, proses penyembuhan memakan waktu lama. Sebab selain memperpanjang tahapan penyembuhan, resistansi obat juga meningkatkan risiko penularan TBC.
Di samping itu, dokter Wi melanjutkan, penularan TBC dapat melalui cairan atau cipratan liur (droplet) yang terinfeksi melalui udara. Begitu tetesan tersebut memasuki udara, siapa pun di dekatnya dapat menghirup. Seseorang dengan penyakit TBC dapat menularkan bakteri melalui bersin, batuk, berbicara, dan nyanyian.
Sehingga bagi penderita TBC wajib menggunakan masker ketika berada disekitar orang, terutama selama tiga minggu pertama pengobatan.Upaya tersebut dapat membantu mengurangi risiko penularan. Selain itu, pemberian vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG) juga salah satu upaya pencegahan yang dianggap ampuh. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho