MALANG KOTA - Masih ada 2.887 anak di Kota Malang yang berisiko stunting (pertumbuhan terhambat). Hal itu diketahui dari data Elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) per Oktober lalu.
Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin mengatakan, pihaknya berupaya melakukan percepatan penanganan stunting. "Untuk stunting, meski ada efisiensi kami jamin tidak akan terlalu terpengaruh," tegasnya.
Sebagai alternatif, pihaknya akan mendorong adanya dana corporate social responsibility (CSR) perusahaan. Oleh karena itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Malang dan akademisi, termasuk akademisi kesehatan.
Kemudian ada pendampingan dari seluruh fakultas kesehatan di Kota Malang. Melalui upaya-upaya itu, dia berharap lima tahun ke depan, ribuan anak yang terdata berisiko stunting sudah tertangani.
Selain itu, sekarang ada program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk ibu hamil. Hal itu diyakini bakal menekan angka stunting. Penyaluran MBG sebesar 10 persen dari kuota setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diarahkan untuk penuntasan stunting.
"Selain CSR, ada dana-dana sosial seperti dari Baznas," sebut Ali. Kemudian pemkot juga sudah menyampaikan ke Kementerian Pendidikan Tinggi, sains dan teknologi (Kemendiktisaintek) agar kegiatan yang berkenaan dengan kelompok mahasiswa bisa dikerjasamakan dengan pemda dengan fokus pada isu stunting.(mel/dan)
Editor : A. Nugroho