MALANG KOTA - Tiap 22 Desember rutin diperingati sebagai hari ibu. Tahun ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) sudah menetapkan tema utamanya. Yakni 'Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045'. Untuk menjadi perempuan yang berdaya, ibu perlu bebas dari masalah kesehatan.
Sayangnya, masih ada berbagai masalah kesehatan yang kerap dijumpai pada ibu. Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, sedikitnya ada tiga jenis masalah kesehatan yang sering terdengar.
Paling banyak adalah ibu yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK). Selama dua tahun terakhir, jumlah ibu dengan KEK hampir menyentuh 1.000 orang (selengkapnya baca grafis).
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kota Malang drg Muhammad Zamroni mengatakan, KEK disebabkan banyak faktor. Salah satunya yakni rendahnya pemahaman ibu soal gizi. Akibatnya, ibu kurang memenuhi asupan makanan yang bergizi.
"Ada ibu-ibu yang memiliki pola makan rendah zat besi. Padahal, konsumsi makanan yang mengandung zat besi seperti daging merah, hati, ayam, dan ikan sangat penting," kata Zamroni.
Terutama untuk ibu yang sedang dalam masa kehamilan. Selain zat besi, asupan gizi lain juga penting. Misalnya saja makanan-makanan yang mengandung protein, vitamin, dan mineral.
Kemudian, ada pula ibu yang tidak patuh dalam mengonsumsi tablet tambah darah. Beberapa kondisi itu bisa memicu terjadinya KEK. Ditandai dengan gejala seperti rasa lelah berkepanjangan, lemas, lingkar lengan atas kurang dari 23,5 sentimeter, pucat, sering sakit, rambut rontok, hingga penurunan berat badan.
"Jika tidak ditangani, KEK bisa berdampak pada ibu. Jika sedang hamil bisa memicu pendarahan saat persalinan, bayi prematur, dan bayi berat badan lahir rendah," jelas Zamroni. Kondisi KEK bisa semakin parah jika ada penyakit penyerta pada ibu. Seperti infeksi saluran kemih, TBC, HIV, hingga penyakit kronis lainnya.
Masalah kesehatan lain yang penyebabnya karena gizi adalah anemia. Itu merupakan kondisi kekurangan nutrisi. Baik berupa zat besi, folat, hingga vitamin B12. Akibat yang ditimbulkan dari anemia juga hampir sama dengan KEK.
"Salah satunya kalau pada ibu hamil ya pendarahan saat persalinan, cepat lelah, gangguan produksi ASI, serta risiko depresi pasca persalinan," terang pejabat eselon III B Pemkot Malang tersebut.
Selanjutnya adalah hipertensi. Dari data dinkes, jumlah ibu yang mengalami hipertensi ada sekitar 200-an orang. Termasuk ibu hamil juga memiliki risiko hipertensi. Mulai hipertensi ringan sampai berat. "Penyebab hipertensi pada ibu beragam. Meliputi kehamilan risiko tinggi atau ibu yang hamil dengan usia terlalu muda atau terlalu tua," ucap Zamroni.
Untuk kehamilan usia yang terlalu muda di bawah 20 tahun. Sementara yang terlalu tua lebih dari 35 tahun. Penyebab lainnya adalah riwayat hipertensi atau preeklamsia yang dialami ibu sebelumnya. Selain itu, pengukuran tekanan darah yang tidak rutin, rendahnya konsumsi tablet tambah darah dan kalsium, hingga pola makan tinggi garam.
Berbeda dengan anemia dan KEK yang sering ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), hipertensi merupakan penyebab utama kasus rujukan sekaligus kematian pada ibu.
Karena itu selalu muncul sebagai masalah prioritas KIA. Senada dengan Zamroni, Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Medik RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Dr dr I Wayan Agung Indrawan SpOG (K) menjelaskan bahwa hipertensi bisa mempengaruhi kondisi ibu.
Terutama ibu yang sedang mengandung. "Kalau untuk ibu yang tidak hamil, penanganannya lebih fokus pada perubahan gaya hidup seperti menjaga pola makan dan olahraga agar kondisinya tidak memburuk," tutur dokter yang biasa disapa Iwa itu. Sementara ibu hamil dengan hipertensi bergantung kondisi.
Jika ibu mengalami hipertensi ringan atau tekanan darah di bawah 140, cukup ditangani sampai kondisinya pulih. Sebaliknya jika di atas 160, perlu mendapat obat hipertensi. Setelah lahir, hipertensi bisa sembuh. Namun ada pula yang tidak bisa sembuh. Terutama jika ibu memiliki riwayat hipertensi kompleks.
Iwa melanjutkan, kehamilan dengan hipertensi juga memiliki risiko. Kondisi tersebut bisa memengaruhi janin. Janin yang seharusnya mendapat nutrisi cukup, berpotensi kekurangan nutrisi, prematur, memiliki ketuban keruh, bahkan meninggal dalam rahim.
"Karena orang hipertensi itu kan biasanya mengalami penyempitan pada pembuluh darah. Padahal untuk ibu hamil, pembuluh darah berfungsi menyalurkan nutrisi ke janin," ucap Iwa. Ada pula janin yang akhirnya mengalami Intrauterine Growth Restriction (IUGR) atau gangguan pertumbuhan serius.
Menurut Iwa, jika ibu sudah mengalami hipertensi serius, perlu penanganan di rumah sakit tingkat lanjut. Sebab, penanganannya berbeda dengan KEK dan anemia yang sebagian besar sudah bisa ditangani tenaga kesehatan di puskesmas melalui pemberian tablet darah, transfusi darah, atau intervensi gizi.
Iwa menambahkan, masalah kesehatan lain yang kerap ditemui pada ibu atau perempuan adalah kanker. "Terutama kanker serviks, kanker indung telur, dan kanker payudara. Karena itu, ibu perlu menjaga pola hidup sehat," imbuh dia. (mel/by)
Editor : A. Nugroho