Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sebulan Rumah Sakit di Surabaya Tangani 3-5 Anak Depresi, Tekanan Masalah Keluarga Jadi Pemicu Utama

Aditya Novrian • Senin, 5 Januari 2026 | 10:45 WIB
Ilustrasi anak depresi
Ilustrasi anak depresi

SURABAYA – Rumah sakit di Surabaya setiap bulan menangani rata-rata tiga sampai lima pasien anak dan remaja dengan gangguan depresi. Masalah keluarga, khususnya konflik orang tua yang berujung perceraian atau kondisi rumah tangga yang tidak harmonis menjadi pemicu utama.

Tekanan psikologis yang dialami anak berdampak pada perilaku, prestasi sekolah, hingga berisiko menjerumuskan ke masalah hukum. Psikiater Konsultan Anak dan Remaja Ciputra Hospital dr Ivana Sajogo menjelaskan, banyak pasien datang dengan keluhan awal yang terlihat berkaitan dengan sekolah atau pergaulan.

Namun setelah ditelusuri lebih dalam, akar persoalannya justru berasal dari rumah. Konflik orang tua yang disembunyikan, ancaman perceraian, atau kondisi bertahan demi anak kerap menjadi tekanan berat bagi anak.

KASUS DEPRESI PADA ANAK DI SURABAYA
KASUS DEPRESI PADA ANAK DI SURABAYA

”Anak sering merasa menjadi sumber penderitaan orang tuanya. Mereka menyalahkan diri sendiri, merasa bersalah, dan memendam emosi,” ujarnya.

Tekanan tersebut memicu berbagai perilaku bermasalah. Mulai dari menarik diri, menolak sekolah, kecanduan gim daring, hingga enggan pulang ke rumah. Dalam beberapa kasus, anak mencari pelarian ke lingkungan yang dianggap aman, meski berisiko.

Tidak sedikit yang berkembang menjadi gangguan tingkah laku, manipulatif, bahkan melakukan tindakan kriminal ringan seperti menjual barang milik keluarga tanpa izin.

Jika tidak ditangani, masalah ini merembet ke lingkungan sekolah. Anak menjadi mudah depresi, kehilangan kepercayaan diri, prestasi menurun, sering izin sakit, hingga berulang kali masuk UKS. Ivana menyebut, usia 12–15 tahun menjadi kelompok paling rentan.

Dalam sebulan, ia menerima tiga sampai lima pasien baru dengan latar belakang serupa. Bahkan, pasien usia 15 tahun ke atas ada yang datang sendiri karena sudah muncul pikiran untuk mengakhiri hidup.

Dokter Spesialis Jiwa RSUD BDH dr Riko Lazuardi menambahkan, kasus depresi anak dan remaja ibarat fenomena gunung es. Banyak yang baru terungkap seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental. Mayoritas pasien berusia 12–17 tahun dengan keluhan awal penurunan prestasi, enggan sekolah, sering sakit, dan konflik di lingkungan pendidikan.

Menurut Riko, anak kerap dijadikan tempat curhat orang tua yang bermasalah. Ayah dan ibu saling mengeluh tentang pasangannya, sehingga anak berada di posisi tertekan dan bingung harus memihak siapa.

”Kalimat ”kami bertahan demi kamu” jika diulang terus justru menekan mental anak,” jelasnya.

RSUD BDH mencatat, rata-rata tiga sampai lima pasien baru per bulan datang dengan latar konflik keluarga. Sebagian remaja usia SMA datang sendiri, sementara anak yang lebih kecil umumnya dibawa orang tua dengan keluhan akademik sebelum terdeteksi depresi. (omy/aph/adn)

Editor : Aditya Novrian
#Surabaya #anak #Depresi #Psikiater