Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

RSUD dr Saiful Anwar Malang Catat 30-an Kasus Baru Kusta Setiap Tahun

Bayu Mulya Putra • Kamis, 29 Januari 2026 | 09:55 WIB
Ilustrasi kusta
Ilustrasi kusta

MALANG KOTA – Temuan kasus baru kusta terbanyak dicatatkan RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang. Spesialis Penyakit Kulit dan Kelamin RSSA Dr dr Dhelya Widasmara SpDVE Subsp DT FINSDV FAADV mengungkapkan, jika dirata-rata ada 37 kasus kusta baru yang ditemukan setiap tahun.

Sementara untuk tingkat kunjungan setiap tahun berjumlah 70 sampai 90 kunjungan. Baik dari pasien kusta lama maupun pasien kusta baru. Dhelya melanjutkan, ada beberapa gejala yang perlu diwaspadai dari pasien kusta.

”Antara lain bercak kulit pucat atau lebih terang dari kulit sekitar, area kulit yang mati rasa, lesi yang tidak sembuh-sembuh, saraf yang menjadi besar, hingga kelemahan otot di tangan atau kaki,” beber dia.

Di luar itu, ada gejala lain yang bisa muncul. Seperti di kulit, saraf, hidung, dan mata. Itu karena kusta juga bisa menyerang beberapa jaringan tubuh. Kemudian, kusta juga memiliki tingkat keparahan. Secara klinis, kusta dibagi menjadi dua tipe.

Yakni Paucibacillary (PB) yang gejalanya relatif lebih ringan dan satu lagi Multibacillary (MB) yang gejalanya lebih berat. Karena itu, penanganan kusta pada setiap pasien berbeda-beda. Tergantung jenis kustanya. Untuk kusta jenis PB biasanya membutuhkan pengobatan selama sekitar enam bulan.

Sementara kusta MB selama sekitar 12 bulan. ”Pengobatan utama pasien kusta dengan menggunakan MDT yang merupakan kombinasi obat dapsone, rifampicin, dan clofazimine,” sambung perempuan yang merupakan pemilik eLBe Clinic tersebut.

Seluruh obat untuk kusta itu bisa diakses melalui Puskesmas. Namun, ada pula pasien yang harus ditangani di rumah sakit karena mengalami beberapa kondisi. Seperti komplikasi serius dan perlu operasi saraf atau rekonstruksi.

Untuk mengurangi lonjakan kasus kusta, Dhelya rutin melakukan edukasi. Salah satunya melalui aplikasi KUESTA. Di aplikasi itu, terdapat layanan deteksi penyakit kusta, edukasi, hingga pengingat untuk minum obat.

Selain di Malang, Kota Batu juga mencatat adanya kasus kusta. Kepala Bidang P4B Dinkes Kota Batu dr Susana Indahwati menyampaikan, untuk penemuan kasus kusta, pihaknya melakukan jejaring dengan rumah sakit, klinik, maupun puskesmas.

”Sebagai contoh untuk tahun 2026 ini, kami sudah menemukan satu anak penderita kusta. Yang bersangkutan dalam pantauan pihak Puskesmas Sisir,” tutur Susana. Selain jejaring antar-faskes, pihaknya juga rutin melakukan skrining di sekolah-sekolah.

Jika ada gejala yang mengarah ke kusta, akan dilakukan pengecekan melalui laboratorium. Bila terbukti, akan ditangani sesuai standar. Lalu orang-orang terdekat seperti keluarga diberi profilaksis (obat pencegahan) untuk satu kali minum.

Baca Juga: 3 Tahun, 112 Orang Terjangkit Kusta

Upaya pencegahan pun dilakukan. Seperti melalui sosialisasi rutin di media sosial. Sementara itu, Spesialis Kulit dan Kelamin RSUD Karsa Husada Batu dr Riyana Noor Oktaviyanti MKed Klin SpDVE menambahkan, kusta harus segera ditangani. Jika tidak akan menyerang organ tubuh dan menimbulkan masalah kesehatan lainnya.

”Salah satunya organ reproduksi. Penderita kusta berpotensi sulit mendapatkan keturunan,” sebut Riyana. Selain itu juga bisa menyerang organ kaki, terdapat luka yang dalam, dan jari kaki bisa bengkok. Bisa juga menyerang tangan. (mel/by)

Editor : Aditya Novrian
#kusta #PB #malang #RSSA