MALANG KOTA – Hari Kanker Anak Sedunia yang diperingati hari ini (15/2) menjadi momentum pas untuk melindungi anak dari ancaman kanker. RSUD Dr Saiful Anwar mengungkap, setiap tahun ada 150 kasus baru. Saat ini masih ada 300 bocah di RS milik Provinsi Jatim yang berjuang melawan kanker.
Jumlah Anak Mengidap Kanker
- Makin banyak anak-anak yang mengidap penyakit kanker
- RSUD dr Saiful Anwar mencatat, per tahun ada 150 kasus baru
- Saat ini ada 300-400 pasien anak yang teridentifikasi mengidap kanker
- Mayoritas atau 30 persen mengidap kanker Leukemia Limfoblastik Akut (LLA)
- Pasien tidak hanya dari Kota Malang, tapi daerah lain yang menjadi wilayah rujukan RSUD Dr Saiful Anwar
Jenis Kanker pada Anak
- Kanker payudara
- Kanker mata langka/retinoblastoma
- Kanker otak
- Kanker kelenjar getah bening
- Kanker darah atau leukimia
Sikap Pemkot Malang
- Dinkes Kota Malang memberikan atensi lebih terhadap tiga jenis kanker, yakni kanker leher rahim (serviks), kanker payudara, dan kanker di usus besar.
- Tahun 2023 menemukan anak berusia 10-14 tahun mengidap kanker payudara
- Dalam dua tahun, 2023-2024 menemukan 7 anak teridentifikasi mengidap penyakit kanker
Kepala Instalasi IRNA IV RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) dr Susanto Nugroho SpA(K) mengatakan, jumlah pasien anak yang menderita kanker semakin banyak. Setiap tahun selalu ditemukan kasus baru. ”Pertambahannya bisa sampai 150 pasien kanker anak baru per tahun,” ujar Susanto kemarin (14/2). ”Ini belum termasuk pasien lama. Jika digabung antara pasien lama dengan pasien baru, mungkin bisa lebih dari 300 pasien anak," tambah dokter spesialis hematologi onkologi tersebut.
Pasien yang ditangani berasal dari rumah sakit tipe B, C, atau D yang ada di Malang Raya. Menurut Susanto, pasien anak yang mengalami kanker saat ini diupayakan untuk dipusatkan ke RSSA (sebutan RSUD Dr Saiful Anwar). "Di RS Lavalette, saya ada dua pasien anak. Dalam waktu dekat akan saya arahkan ke RSSA agar tidak kesulitan mengakses obat," sambung dia.
Susanto melanjutkan, di RSSA dapat ditemukan anak-anak dengan berbagai jenis kasus kanker. Namun yang mendominasi adalah leukimia limfoblastik akut (ALL). Jumlahnya mencapai 30 persen dari total pasien kanker anak yang ditangani di RSSA. ”Sementara sisanya 70 persen mengalami kanker lain seperti kanker otak, kanker tulang (osteosarcoma), kanker kelenjar getah bening, retinoblastoma, dan lainnya," ungkap Susanto.
Penyebab kanker pada anak beragam. Menurut dia, pada dasarnya penyebab belum diketahui. Namun ada dua faktor utama yang memicu kanker pada anak, yakni faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik memberi peran 15-20 persen, sementara lingkungan mencapai 80-85 persen.
Oleh karena itu, dia melanjutkan, kanker tidak bisa timbul jika tidak dipengaruhi dua faktor tersebut. Susanto mencontohkan, pada faktor lingkungan juga belum ditemukan bukti yang kuat. Akan tetapi salah satu faktor lingkungan yang sudah terbukti memicu timbulnya kanker adalah infeksi virus seperti kanker serviks.
Selain infeksi virus, dia menambahkan, ada paparan radiasi. Karena itu, orang yang bekerja di kawasan dengan radiasi memiliki risiko lebih mengidap kanker. Lalu orang-orang yang terpapar kandungan logam berat, asap pabrik, hingga polusi. ”Orangnya tinggal di perkotaan atau pedesaan, tetap memiliki risiko terkena kanker," tegas Susanto.
Meski begitu, dia melanjutkan, teknologi penanganan kanker pada anak juga berkembang pesat. Salah satunya dari sisi diagnosis dini. Waktu yang dibutuhkan untuk diagnosis semakin cepat.
Sebelumnya, antrean untuk diagnosis bisa mencapai 2-3 bulan. Namun sekarang bisa sebulan atau beberapa hari jika dibutuhkan. Hal tersebut seiring adanya bantuan alat dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI seperti CT scan dan MRI.
Kemudian pemeriksaan jaringan atau biopsi untuk kanker. Teknologi yang ada saat ini semakin maju dengan kehadiran Imunohistokimia (IHK) atau teknik laboratorium canggih. "Lewat IHK, menegakkan kanker atau tumor jenis apa pun bisa," tutur Susanto.
Hanya saja, lanjutnya, ada sedikit keterbatasan. Jika ada pasien anak yang membutuhkan 9 jenis pemeriksaan lewat IHK, prosesnya tidak bisa langsung. Melainkan secara bertahap. Proses tersebut membutuhkan waktu dua pekan hingga sebulan. Kondisi seperti ini yang sering kali memperlambat proses penanganan.
Belum lagi jika ada obat yang tidak tersedia. Tahun lalu, sektor kesehatan ikut terdampak efisiensi anggaran. Hal tersebut berimbas ke ketersediaan obat. "Kadang ada obat yang kosong saat kami butuhkan," ucap Susanto.
Kondisi lain yang perlu diwaspadai adalah jika ada pasien anak yang memiliki komorbid atau penyakit penyerta. Risikonya bisa menurunkan angka kesembuhan. Bahkan jika sudah sembuh berpotensi kambuh lagi. Karena penanganan kanker di Indonesia masih harus dikembangkan. ”Yang terpenting adalah deteksi dini,” katanya. "Kalau anak mengalami gejala-gejala seperti pucat, demam, hingga sering mengalami pendarahan berulang dalam waktu lebih dari tiga bulan, sebaiknya segera diperiksakan," tambahnya.(mel/dan)
Disunting kembali oleh: Satya Eka Pangestu
Editor : Aditya Novrian