Jika Skor di Atas 8, Pengguna Disarankan ke Dokter
DI RUANG praktik rumah sakit yang tak pernah benar-benar sepi, dr Syifa Mustika terbiasa mendengar satu kalimat yang berulang dari pasiennya. ”Dok, saya kena GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersimpan persoalan besar tentang bagaimana masyarakat membaca sinyal tubuhnya sendiri.
Setiap hari, dokter spesialis penyakit dalam itu berpindah dari satu ruang praktik ke ruang praktik lain di RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA), RS Hermina Tangkubanprahu, dan RS Lavalette. Sejak pagi hingga larut malam, ia menangani pasien dengan beragam keluhan.
Namun, tren swadiagnosis asam lambung menjadi fenomena yang paling sering ia temui. Banyak pasien datang dengan keyakinan sudah memahami penyakitnya. Padahal, menurut dr Syifa, kesimpulan yang terburu-buru bisa berujung pada salah penanganan.
Dari kegelisahan itulah ia mengembangkan sebuah website pendeteksi dini GERD yang dapat diakses gratis oleh masyarakat. Platform yang dinamai SmartGerdX itu dirancang sebagai alat bantu awal agar orang awam dapat mengenali apakah keluhan yang dirasakan benar mengarah pada GERD atau justru penyakit lain.
Gejala yang kerap disalahartikan cukup beragam, mulai sensasi terbakar di dada, batuk berkepanjangan, hingga kesulitan menelan. Ia menyoroti kemiripan gejala GERD dengan gangguan jantung yang bisa berbahaya jika diabaikan.
”Kalau ada orang langsung yakin gejala yang dialaminya cuma asam lambung, padahal kena jantung bisa berbahaya karena terlambat ditangani,” ujar dokter yang juga dosen di Universitas Brawijaya (UB) tersebut.
Melalui website yang dikembangkannya, pengunjung diminta menjawab enam pertanyaan sederhana yang diadaptasi dari kuesioner internasional GERD-Q, instrumen skrining yang telah tervalidasi secara klinis.
Setelah kuesioner diisi, sistem menampilkan skor risiko. Jika nilainya di atas angka 8, pengguna memiliki kemungkinan kuat mengalami GERD dan disarankan berkonsultasi ke dokter. Situs itu juga menyediakan edukasi tentang pola makan serta perubahan gaya hidup sehat.
Pengembangan platform tersebut memakan waktu sekitar enam bulan bersama lima anggota tim. Seluruh konten medis disusun langsung oleh dr Syifa agar tetap akurat sekaligus mudah dipahami. Website itu diluncurkan pada 2024 dan mendapat sambutan luas, terutama dari kalangan muda seperti mahasiswa dan pekerja awal karier.
Dari data awal pengguna, ia menemukan temuan yang cukup mengejutkan. ”Ternyata dari keseluruhan pengunjung website, sekitar 60 persen yang terdiagnosis GERD,” cerita Syifa. Angka itu menunjukkan bahwa gangguan asam lambung kini banyak dialami kelompok usia produktif.
Jika dulu pemicu utama GERD sering dikaitkan dengan makanan pedas atau pola makan tak teratur, kini faktor mental ikut berperan besar. Stres dan overthinking menjadi pemicu yang kian dominan. Fenomena ini berkaitan dengan konsep gut-brain axis, yakni hubungan dua arah antara otak dan sistem pencernaan yang saling memengaruhi melalui mekanisme hormonal.
Menurut dr Syifa, GERD sendiri tidak menyebabkan kematian mendadak. Bahaya muncul ketika gejala penyakit lain, terutama gangguan jantung, keliru dianggap sekadar asam lambung. Karena itu, edukasi menjadi kunci agar masyarakat lebih cermat mengenali tanda-tanda tubuh.
Sejak aktif digunakan pada 2025, website tersebut terus dikembangkan. Data anonim pengguna dimanfaatkan untuk analisis dan riset, yang sementara menunjukkan rentang usia penderita banyak berada di kisaran 20 hingga 40 tahun.
Ke depan, ia berencana menyempurnakan tampilan platform sekaligus membuka peluang integrasi dengan layanan konsultasi dokter daring dan sistem resep elektronik. Di tengah jadwal praktik yang padat, proyek digital itu menjadi perpanjangan tangannya dalam mengedukasi publik.
Dari ruang tunggu rumah sakit hingga layar gawai di tangan pengguna, dr Syifa berusaha memastikan satu hal, masyarakat memiliki akses pada informasi kesehatan yang lebih akurat sebelum mengambil kesimpulan tentang tubuhnya sendiri. (*/adn)
Editor : A. Nugroho