KEPANJEN, RADAR MALANG – Kasus tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Malang masih menjadi perhatian serius. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mencatat sebanyak 6.296 orang terduga TBC. Dari jumlah tersebut, 735 orang telah terkonfirmasi positif setelah menjalani pemeriksaan lanjutan.
TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru. Salah satu gejala utama adalah batuk berkepanjangan. Namun, tidak semua batuk dapat langsung dikategorikan sebagai TBC. Pemeriksaan lanjutan seperti tes dahak dan sinar X diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Baca Juga: 2.786 Orang Terkena TBC, Dinas Kesehatan Kabupaten Malang Sebut Penularan lewat Droplet
Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kabupaten Malang Chairiyah menjelaskan, gejala TBC umumnya ditandai dengan batuk selama dua pekan atau lebih. Batuk tersebut dapat disertai dahak maupun tidak, serta diikuti gejala lain yang perlu diwaspadai.
”Seperti nafsu makan menurun, berat badan menurun, lemah, letih, lesu, berkeringat pada malam hari tanpa aktivitas fisik, demam meriang yang hilang timbul tanpa sebab, batuk darah, dan sesak napas,” ujar Chair kepada Jawa Pos Radar Kanjuruhan, kemarin (5/4).
Ia menegaskan, setiap orang dewasa yang mengalami gejala tersebut harus segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Pemeriksaan dahak menjadi langkah awal untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi TBC atau tidak.
Baca Juga: 1.698 Orang Terkena Penyakit TBC di Malang
Jika telah terkonfirmasi, pengobatan harus segera dilakukan secara tepat dan teratur. Chairiyah menyebut, terapi utama TBC menggunakan Obat Anti-Tuberkulosis (OAT), yang merupakan kombinasi beberapa jenis antibiotik. ”OAT biasanya terdiri dari empat jenis obat utama, yakni Rifampisin, Isoniazid, Pirazinamid, dan Etambutol,” imbuhnya.
Pengobatan yang tidak sesuai standar berisiko menyebabkan kegagalan terapi. Bahkan, kondisi tersebut dapat memicu resistensi obat atau TBC resisten obat (TBC RO), yang jauh lebih sulit ditangani. Karena itu, kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan menjadi kunci utama kesembuhan sekaligus pencegahan penularan.
”OAT disediakan gratis oleh pemerintah dan dapat diakses di seluruh puskesmas, rumah sakit, serta beberapa klinik maupun tempat praktik mandiri dokter yang sudah bekerja sama dengan puskesmas,” kata dia.
Editor : Aditya Novrian