Di Malang, 400 Orang Positif Kanker Serviks

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Sabtu, 11 April 2026 | 09:30 WIB
Ilustrasi kanker serviks. (Mayapada Hospital)
Ilustrasi kanker serviks. (Mayapada Hospital)

KEPANJEN – Angka penderita kanker serviks di Bumi Kanjuruhan masih tinggi. Dari 35 ribu perempuan yang menjalani skrining, 400 di antaranya positif menderita kanker serviks. Jumlahnya bisa bertambah jika yang menjalani skrining lebih banyak.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang dr Titis Ari Respatilatsih mengungkapkan, tahun ini ada 700.000 perempuan yang masuk sasaran. Namun sementara ini baru 5 persen atau 35 ribu yang terskrining.

”(Kalau diskrining semua) bisa jadi penderitanya akan lebih banyak,” ujar Titis kemarin (10/4). Dia mengatakan, rata-rata yang teridentifikasi kanker serviks berusia 30-69 tahun. Tahun ini pihaknya menarget dapat melakukan skrining terhadap 490.000 orang atau 70 persen dari keseluruhan sasaran skrining.

Menurut dia, masih ada masyarakat yang memiliki gejala kanker serviks tapi tidak teridentifikasi lantaran tidak memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan (faskes). ”Misalnya ada keluhan keluar darah dari kemaluan, tetapi dianggap penyakit lain dan berobat ke pengobatan tradisional, kan tidak terdeteksi,” katanya. 

Dia memaparkan, saat stadium awal, biasanya penderita tidak merasakan keluhan. Namun seiring berjalannya waktu, lanjutnya, kemaluan akan berdarah ketika berhubungan seksual. Oleh karena itu, dia menyarankan agar pemeriksaan dilakukan tanpa menunggu keluhan. Bagi perempuan yang sudah menikah, setiap tahun harus periksa ada atau tidaknya lesi (sel abnormal) di leher rahimnya.

“Kalau ada (lesi), misalnya masih dalam tahap dini, itu lebih mudah diobati karena belum menjalar ke mana-mana,” kata dia. Sedangkan jika sudah stadium tinggi, sel kanker bisa menyebar ke organ lain. 

Risiko kematian kanker serviks beragam sesuai stadium. Dia menyebut, 50 persen pasien yang positif kanker rahim tidak bisa diselamatkan meski sudah menjalani pengobatan. Sebab, banyak pasien yang datang berobat dalam kondisi sel kankernya sudah menyebar. 

Sementara itu, Wakil Bupati (Wabup) Malang Lathifah Shohib mengatakan, pemkab terus mendukung skrining kanker rahim sebagai deteksi dini supaya penyakit tidak menyebar. 

“Kami berdiskusi dengan dokter dari pemerintah pusat. Salah satu penyebabnya adalah minimnya masyarakat yang mengikuti skrining karena takut. Ini kan organ dalam perempuan,” kata dia.

Menurut dia, kurangnya informasi membuat masyarakat keberatan melakukan pemeriksaan dini. Untuk memaksimalkan skrining, pihaknya menganjurkan ASN mengawali untuk pemeriksaan.

 

Dia mengatakan, Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki pendidikan lebih tinggi dibanding masyarakat pada umumnya.

“Harapannya, dengan pengetahuan yang lebih tinggi, mereka lebih mudah menerima sosialisasi dan edukasi. Bahkan bisa membantu memberi edukasi kepada keluarga dan masyarakat di lingkungannya masing-masing,” pungkasnya. (yun/dan)

Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang
kanker serviks faskes P2P Dinkes Kota Batu malang