MALANG KOTA, RADAR MALANH - Pasien yang harus melakukan cuci darah karena penyakit ginjal masih sangat banyak. Di Jawa Timur, jumlahnya bahkan mencapai 75 ribu pasien atau setara dengan 0,29 persen dari total populasi.
Sebagai pengingat bahaya dan tingginya jumlah pengidap penyakit ginjal, RS UB menggelar World Kidney Day 2026 pada Minggu (12/4).
Ribuan pasien ginjal di Jawa Timur dirujuk ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk rutin mendapat penanganan. Salah satunya ke RS UB.
Spesialis Ginjal RS UB dr Etik Mertianti SpPD FINASIM mengatakan, RS UB memulai layanan ginjal sejak 2023. Dari yang sebelumnya melayani pasien umum, kini sudah bisa melayani pasien yang menggunakan BPJS.
"Jumlah pasiennya pun semakin meningkat. Total saat ini yang menjalani cuci darah ada 80 orang," sebut Etik. Seluruh pasien menjalani cuci darah yang terbagi dalam jadwal yakni pada Senin dan Kamis, Selasa dan Jumat, serta Rabu dan Sabtu.
Penanganan pasien dilakukan menggunakan 13 mesin cuci darah. Setiap hari pelaksanaannya dalam 2 shift. "Namun, itu juga belum tercukupi. Ada yang dapat slot sebanyak 1 kali setiap minggu," imbuh Etik.
Karena masih banyak yang belum bisa terakomodir, Etik terkadang mengarahkan pasien ke rumah sakit lain seperti RSSA. Termasuk pasien ginjal yang masih anak-anak. Di Kota Malang sejauh ini, pasien anak-anak baru bisa ditangani di RSSA dan RSI Aisyiyah.
Etik pun mengimbau agar ke depan masyarakat waspada terhadap penyakit ginjal. Sebab penyakit ginjal adalah silent killer. Penderita kerap tidak merasakan gejala tertentu sampai memasuki stadium lanjut dan fungsi ginjal menurun.
Beberapa gejala penyakit ginjal yang perlu diwaspadai seperti kencing berbusa, intensitas kencing di malam hari yang meningkat, mual, hingga nafsu makan yang menurun. Jika ditemukan beberapa gejala itu, masyarakat sebaiknya segera memeriksakan diri.
Nutrisionis RS UB Nanda Ari Praseyo SGz menambahkan, pasien ginjal yang sudah sampai tahap cuci darah perlu dijaga secara nutrisi. "Karena banyak protein yang terbuang saat cuci darah," tuturnya.
Untuk itu, asupan gizi pasien harus diatur. Agar tercukupi mulai dari protein, kalori, kalium, hingga natrium dalam tubuhnya. Tujuannya mencegah malnutrisi. Kondisi nutrisi pun harus dicek secara rutin.
Nanda menyampaikan, kebutuhan nutrisi masing-masing pasien ginjal bisa diatur. Sebagai contoh untuk asupan protein antara 1 gram sampai 1,2 gram per kilogram berat badan per hari. (mel)