Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Angka Prevalensi Stunting di Kota Malang Capai 8,1 Persen, Dinkes Catat Risikonya Ada di 5 Kecamatan

Nabila Amelia • Kamis, 23 April 2026 | 14:03 WIB
CEK KONDISI BALITA: Pihak posyandu bersama puskesmas rutin mengecek tinggi dan berat badan anak untuk memastikan para balita bebas stunting. (Foto: Nabila Amelia)
CEK KONDISI BALITA: Pihak posyandu bersama puskesmas rutin mengecek tinggi dan berat badan anak untuk memastikan para balita bebas stunting. (Foto: Nabila Amelia)

 MALANG KOTA-RADAR MALANG - Kota Malang belum sepenuhnya terbebas dari stunting. Satu indikasinya, masih ada anak-anak yang berisiko stunting. Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, jumlahnya sekitar 8,1 persen atau mencapai 3.078 anak.

 Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif menyampaikan, setiap bulan pihaknya rutin melakukan timbang berat badan anak melalui 644 posyandu. Dari hasil pemeriksaan rutin itu, ada sekitar 38.000 anak yang mengikutinya. Dalam pemeriksaan tersebut, tercatat ada 8,1 persen anak yang berisiko stunting.

 ”Untuk anak-anak yang berisiko stunting relatif rata di 5 kecamatan,” ucap Husnul. Dari hasil pemeriksaan yang ada, pihaknya rutin menyampaikan dalam laporan yang disebut e-PPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat).

 Agar angka risiko stunting bisa semakin berkurang, pihaknya juga rutin melakukan penanganan. Terutama terhadap balita usia di bawah dua tahun. Itu karena, termasuk kelompok usia paling rentan.

 Penanganan yang diberikan berupa pemberian makanan tambahan (PMT) hingga bantuan operasional kesehatan yang dikelola oleh puskesmas. ”Semua program kami lakukan secara bersamaan untuk mendukung penurunan angka stunting,” sambung pejabat eselon II B Pemkot Malang tersebut.

 Ditanya terkait intervensi stunting melalui program makan bergizi gratis (MBG), Husnul menyebut bergantung sasarannya. Namun, dia menegaskan pengaruh MBG untuk stunting besar sekali. ”Namun, kami tidak membedakan intervensi melalui MBG atau PMT. Keduanya sama-sama upaya intervensi untuk stunting,” tegas Husnul.

 Kepala Bidang Kesmas Dinkes Kota Malang drg Muhammad Zamroni menambahkan, pengentasan stunting tidak hanya dilakukan melalui penanganan pada anak. Namun juga pada ibu saat masa kehamilan.

 Caranya dengan pemenuhan gizi seimbang hingga pemeriksaan kehamilan secara rutin. ”Dengan penguatan kolaborasi, kami optimistis persoalan stunting bisa segera tuntas. Paling tidak berkurang 50 persen dari capaian SSGI maupun berat bulan timbang di periode sebelumnya,” pungkas Zamroni. (mel/gp)

Editor : Galih R Prasetyo
#stunting di malang #posyandu #dinkes malang