MALANG KOTA - Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya (FKG UB) menjadi salah satu fakultas yang dipertimbangkan oleh mahasiswa dari luar negeri. Tak heran jika keberagaman latar belakang budaya, bahasa, dan pengalaman hidup menjadi warna tersendiri dalam dinamika akademik di lingkungan kampus ini.
Hal tersebut tercermin dari kisah dua mahasiswa internasional, Ahmed Shoaeb dan Manar Rashad Ahmed Shayea, yang menempuh perjalanan panjang hingga akhirnya memilih FKG UB sebagai tempat menggapai impian mereka untuk menjadi dokter gigi.
Ahmed Shoaeb, mahasiswa dengan latar belakang multinasional dibesarkan di Rusia dari ayah asal Mesir dan ibu Swiss-Rusia-memiliki cita-cita besar menjadi ahli bedah mulut dan maksilofasial. Ketertarikannya pada Indonesia bermula dari rekomendasi dosennya yang merupakan alumni Universitas Brawijaya. Rasa ingin mengeksplorasi budaya baru membawanya mencari informasi lebih jauh hingga akhirnya mengikuti program kursus bahasa melalui Kedutaan Besar Indonesia di Swiss. Dari ratusan pendaftar, Ahmed terpilih sebagai salah satu penerima kesempatan tersebut. Perjalanan panjangnya berlanjut hingga ia diterima di beberapa universitas ternama, sebelum akhirnya memilih FKG UB berkat dukungan beasiswa penuh yang memungkinkannya fokus pada studi tanpa beban finansial.
Sementara itu, Manar Rashad Ahmed Shayea, mahasiswa asal Yaman, juga memiliki. perjalanan yang tak kalah inspiratif. la mengenal Universitas Brawijaya melalui riset mengenai universitas terbaik di Asia Tenggara. Dengan prestasi akademik yang gemilang, ia berhasil lolos seleksi Brawijaya International Student Scholarship (BISS). Baginya, FKG UB menawarkan kombinasi ideal antara kualitas akademik, fasilitas modem, serta lingkungan yang mendukung pengembangan keterampilan klinis dan penelitian. Kota Malang yang dikenal sebagai kota pelajar dengan suasana yang nyaman juga menjadi faktor penting dalam keputusannya.
Kesan pertama keduanya terhadap Indonesia dan FKG UB pun penuh cerita menarik. Ahmed merasakan pengalaman budaya yang benar-benar baru, mulai dari makanan, bahasa, hingga kehidupan sehari-hari yang dipenuhi keramahan masyarakat. la bahkan mengaku sempat merasa canggung di awal karena perbedaan budaya dan bahasa. Di sisi lain, Manar langsung merasakan hangatnya sambutan masyarakat Indonesia sejak pertama kali tiba. Lingkungan kampus yang profesional, fasilitas yang lengkap, serta dosen yang suportif semakin memperkuat kesan positifnya terhadap FKG UB.
Dalam hal akademik, keduanya sepakat bahwa sistem pembelajaran di FKG UB mendorong interaksi aktif dan pengembangan berpikir kritis. Metode seperti diskusi kelompok, Problem-Based Learning (PBL), dan Case-Based Learning (CBL) membantu mahasiswa memahami materi secara lebih mendalam. Ahmed menyoroti pentingnya diskusi antar mahasiswa sebagai cara efektif memahami materi, sementara Manar menilai sistem yang terstruktur dan progresif sangat mendukung perkembangan akademiknya.
Namun, perjalanan sebagai mahasiswa internasional tentu tidak lepas dari tantangan. Bahasa menjadi hambatan utama yang dirasakan, terutama di awal masa studi. Ahmed mengatasinya dengan metode sederhana namun efektif: banyak mendengar dan langsung berlatih percakapan sehari-hari. Sementara Manar memilih pendekatan yang lebih terstruktur dengan mengikuti kursus bahasa, belajar mandiri, serta aktif berinteraksi dengan teman lokal. Seiring waktu, keduanya berhasil beradaptasi dan bahkan menjadikan kemampuan bahasa sebagai jembatan untuk memperluas relasi sosial dan akademik.
Interaksi dengan mahasiswa lokal juga menjadi bagian penting dalam proses adaptasi mereka. Meskipun Ahmed sempat merasakan adanya jarak di awal, seiring waktu hubungan tersebut berubah menjadi keakraban layaknya keluarga. Manar pun merasakan hal serupa, di mana teman-teman lokal tidak hanya membantu dalam akademik tetapi juga memperkenalkannya pada budaya Indonesia melalui berbagai aktivitas bersama.
Pengalaman paling berkesan bagi keduanya datang dari kegiatan pengabdian masyarakat (Penmas). Bagi Ahmed, kegiatan tersebut menjadi momen penuh tantangan sekaligus kebersamaan yang mempererat hubungan antar mahasiswa. Sementara Manar melihat Penmas sebagai kesempatan nyata untuk menerapkan ilmu kedokteran gigi sekaligus memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Di balik semua pengalaman tersebut, keduanya memiliki harapan besar untuk masa depan. Ahmed bercita-cita melanjutkan studi menjadi spesialis bedah mulut dan maksilofasial serta menghasilkan publikasi ilmiah yang go Internasional. Manar berharap dapat menjadi dokter gigi profesional yang kompeten dan berkontribusi bagi masyarakat global.
Sebagai penutup, mereka memberikan pesan bagi calon mahasiswa internasional yang ingin menempuh studi di FKG UB yakni kuasai bahasa, terbuka terhadap budaya baru, dan nikmati setiap proses yang dijalani. Studi di luar negeri bukan sekadar perjalanan akademik, tetapi juga pengalaman hidup yang membentuk karakter dan perspektif seseorang. Dengan lingkungan yang suportif dan penuh keberagaman, FKG UB menjadi tempat yang tepat untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi lebih besar.
Editor : A. Nugroho