KEPANJEN, RADAR MALANG – Meski prevalensi stunting (pertumbuhan terhambat) turun menjadi 5,85 persen, jumlahnya masih tinggi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mencatat ada 8.198 anak teridentifikasi stunting. Itu diketahui berdasar angka bulan timbang pada Februari lalu (selengkapnya lihat grafis).
Kepala Dinkes Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo menyampaikan, jumlah anak yang diukur ada 140.137 jiwa. Hasilnya, ditemukan sekitar 8.198 anak yang teridentifikasi positif stunting. “Agustus 2025 lalu, prevalensi stunting sebesar 6,52 persen. Sehingga prevalensinya menurun 0,67 persen,” ujar Wiyanto beberapa waktu lalu.
Dia menyebut, pengukuran tersebut merupakan rekapitulasi dari 39 puskesmas di Kabupaten Malang. Namun dari data tersebut, ada beberapa wilayah kerja puskesmas yang prevalensi di atas 10 persen. Di antaranya Puskesmas Sumbermanjing Wetan mencapai 15,9 persen, Puskesmas Pujon berkisar 12,3 persen, Puskesmas Karangploso menyentuh angka 12,0 persen, dan Puskesmas Bululawang 10,6 persen.
”Agustus nanti akan ada bulan timbang lagi. Target kami, untuk prevalensi stunting bisa terus menurun,” terang pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.
Baca Juga: Angka Prevalensi Stunting di Kota Malang Capai 8,1 Persen, Dinkes Catat Risikonya Ada di 5 Kecamatan
Dia juga menjelaskan, pada 2026 ini juga akan ada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Pada program kegiatan SSGI, tim akan mengambil sampel kondisi gizi balita di masingmasing wilayah di Kabupaten Malang.
Berbeda dengan bulan timbang yang mengukur secara keseluruhan. “Kalau hasil SSGI pada dua tahun lalu sekitar 20 persen lebih. Target kami, angka survei stunting melalui SSGI bisa di bawah 20 persen,” kata dia.
Sementara itu, dia menyebut, salah satu upaya menekan stunting yakni dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT). “PMT itu bisa dari puskesmas maupun desa dengan menganggarkan dari ADD (Alokasi Dana Desa). Kami akan memantau pelaksanaannya,” terang dia.
Baca Juga: Peringati Hari Gizi Nasional, BRI Peduli Perkuat Upaya Pencegahan Stunting di Berbagai Wilayah
Biasanya, dia mengatakan, PMT diberikan dalam bentuk makanan ringan bergizi. Sebagai contoh, di Desa Ternyang yang memberikan kue kering berbahan dasar tepung kelor dan tepung lele. Kue kering tersebut dibentuk menarik. Tujuannya agar anak-anak mau memakannya. Seperti kue kering tepung lele yang dibentuk menyerupai karakter monster berwarna kuning atau kue kering kelor yang diberi toping cokelat. Kue diberikan sepekan sekali.
Selain itu, dia menyebut, peran PKK desa dan kader-kader kesehatan juga harus ditingkatkan. Salah satunya melalui rembuk stunting. Baik tingkat kecamatan maupun desa. “Rembuk stunting tersebut juga sebagai wadah bagi kader untuk diskusi terkait temuan dan perawatan stunting,” katanya.
Peran dari posyandu juga sangat penting. Utamanya saat pengukuran berat dan tinggi badan anak. Dia menyebut, penanganan stunting seharusnya tidak berhenti saat penimbangan. Setelah ditemukan anak dengan indikasi stunting, harus dilakukan tindak lanjut. Seperti pemantauan gizi secara berkala.
Hal yang sama juga di sampaikan Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Malang Muslimin. Menurut dia, strategi penurunan stunting dapat dilakukan melalui sinergi antar sektor. “Stunting bukan hanya isu kesehatan, tetapi isu pembangunan SDM yang harus ditangani bersama lintas sektor,” ucapnya.
Sejumlah langkah strategis disiapkan. Mulai dari penyamaan persepsi pimpinan daerah, pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), hingga pembangunan satu data terpadu berbasis by name by address. Peran kader posyandu dan pemerintah desa diperkuat sebagai ujung tombak inter vensi di lapangan. Dengan demikian, data menjadi akurat dan intervensi tepat sasaran.
Selain itu, integrasi program dalam perencanaan dan penganggaran daerah juga menjadi fokus. Sinkronisasi sumber pendanaan, baik dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dana desa, maupun Corporate Social Responsibility (CSR) diharapkan mampu menghindari tumpang tindih program. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho