JAKARTA, RADAR MALANG – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memastikan wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius bukan awal pandemi baru, meski telah menelan tiga korban jiwa hingga Rabu (6/5).
Hingga 4 Mei 2026, tercatat delapan kasus teridentifikasi dalam klaster tersebut, namun WHO menilai risiko penyebaran global masih rendah karena pola penularannya yang memerlukan kontak fisik sangat dekat.
Baca Juga: Waspada Hantavirus! Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Pencegahannya
"Ini bukan next COVID, tapi ini adalah penyakit menular serius," tegas Maria Van Kerkhove, ahli epidemiologi WHO, terkait evakuasi pasien yang dilakukan di Tanjung Verde, pesisir barat Afrika.
Kronologi Ditemukannya Hanavirus di MV Hondius
Evakuasi medis besar-besaran dilakukan pada Rabu, 6 Mei 2026, terhadap penumpang kapal MV Hondius yang terdeteksi terinfeksi Hantavirus.
Kapal yang dikelola oleh Oceanwide Expeditions ini memulai perjalanan dari Usuaya, Argentina, pada 1 April 2026 dan dijadwalkan tiba di Spanyol pada 10 Mei mendatang.
Dari delapan kasus yang diselidiki hingga saat ini, lima di antaranya telah dipastikan positif, termasuk tiga kematian yang melibatkan warga negara Belanda dan Jerman.
Investigasi menunjukkan adanya potensi penularan antar-manusia melalui kontak sangat dekat, terutama pada pasangan suami-istri dan dokter yang merawat pasien di atas kapal.
Baca Juga: Viral Sepatu Sekolah Rakyat Rp700 Ribu, Mensos Pastikan Itu Hanya Batas Atas Anggaran
Fenomena ini menjadi perhatian khusus karena Hantavirus biasanya hanya menular melalui paparan kotoran atau urin hewan pengerat yang terinfeksi.
Gejala yang Dirasakan Penderita dan Kasusnya di Indonesia
Infeksi Hantavirus dapat berkembang menjadi kondisi fatal seperti Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dengan gejala demam, lemas, dan nyeri otot hebat.
Baca Juga: Perempuan Wajib Tahu! Ini Tanda-Tanda Menstruasi Tidak Normal
Penyakit ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, berkisar antara 38% hingga 50% pada kasus yang menyerang paru-paru dan ginjal.
Di Indonesia, pemerintah melalui Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin telah berkoordinasi dengan WHO untuk memperkuat pedoman deteksi dini.
Hal ini berkaca pada temuan delapan kasus Hantavirus di Indonesia pada Juni 2025 yang tersebar di Jawa Barat, Yogyakarta, NTT, dan Sulawesi Utara.
Meskipun seluruh pasien pada tahun lalu dinyatakan sembuh, kemunculan klaster kapal pesiar ini menjadi pengingat pentingnya pola hidup bersih untuk mencegah kontak dengan hewan penular.
Editor : Aditya Novrian