MALANG KOTA-RADAR MALANG-Saluran irigasi di RT 8 RW 5 Perumahan Emerald Garden, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang dipenuhi limbah medis pada Rabu (12/5). Limbah medis yang ditemukan berupa alat suntik berukuran kecil. Hal itu membuat warga khawatir.
Dwi Frananto, driver ojek online yang kebetulan melintas dan melihat limbah medis itu langsung melakukan dokumentasi. Setelah itu, lantas mengirimnya ke grup warga. ”Saya pas kebetulan melintas pukul 08.00. Lalu saya foto dan video untuk dilaporkan melalui grup warga,” ucap Dwi.
Setelah itu, sekitar pukul 11.00, pihak kelurahan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang mendatangi lokasi. Lurah Bumiayu Mutho Sobirin menjelaskan, dirinya sudah berkoordinasi agar limbah medis di saluran irigasi bisa segera dievakuasi sesuai prosedur.
”Karena limbah medis treatment-nya berbeda. Harus ada pemilahan dengan sampah lainnya,” tutur Mutho. Sampai sekarang, pihaknya masih belum mengetahui asal muasal limbah medis tersebut.
Mutho menyebut, fasilitas kesehatan (faskes) yang dekat dengan lokasi hanya RSUD Kota Malang. Jaraknya sekitar 2 kilometer. Namun, dia menduga limbah bukan dari RSUD Kota Malang. Sebab rumah sakit sudah memiliki prosedur khusus dalam menangani limbah medis. ”Alat suntik yang dibuang itu juga kelihatannya masih baru. Sekilas tidak ada darah atau bekas tertentu,” pungkasnya.
Sementara itu, Plh Kepala DLH Kota Malang Gamaliel Raymomd Hatigoran Matondang menjelaskan, pihaknya sudah melakukan pengecekan bersama Puskesmas Arjowinangun. Berdasar keterangan awal, limbah medis yang ditemukan masih banyak yang berada dalam kemasan atau tersegel. ”Barangnya belum terpakai, tapi sudah expired pada 2023 dan 2024,” beber Raymond.
Namun, tidak ada label yang menunjukkan pemilik limbah medis. Menurutnya, limbah medis yang dibuang berjenis jarum abocath. Itu adalah jarum suntik yang biasanya dimasukkan ke dalam pembuluh darah vena untuk memasukkan cairan infus atau nutrisi. Jumlahnya sebanyak 2 kantong plastik. ”Saat ini disimpan di TPS Limbah B3 Puskesmas Arjowinangun,” pungkasnya. (mel/gp)
Editor : Galih R Prasetyo