MALANG KOTA, RADAR MALANG - Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya (FKG UB) mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan gigi berlubang. Pasalnya, kondisi tersebut bisa berujung pada kondisi kehilangan gigi yang dapat mengganggu fungsi pengunyahan dan kesehatan rongga mulut secara keseluruhan.
Hal itu disampaikan drg. Citra Insany Irgananda, M.Med.Ed saat diwawancarai beberapa waktu lalu. Menurut drg. Citra, kehilangan gigi paling sering diawali dari gigi berlubang yang tidak segera ditangani.
Menurutnya, kerusakan gigi bermula dari karies pada jaringan keras gigi yang jika dibiarkan dapat terus berlanjut sampai mencapai saraf hingga merusak jaringan penyangga gigi.
“Awalnya mungkin hanya lubang kecil, yang disebabkan oleh sisa makanan dan ada keterlibatan mikroorganisme, yang kemudian lama kelamaan berkembang, sehingga terjadi kerusakan parah dan akhirnya terjadilah kondisi kehilangan gigi” ujar Wakil Dekan II FKG UB itu.
Selain gigi berlubang, penumpukan karang gigi juga menjadi penyebab gigi goyang dan akhirnya tanggal.
Oleh karena itu, masyarakat diminta lebih disiplin menjaga kebersihan gigi dan mulut. Salah satunya dengan sikat gigi, minimal dua kali sehari. “Terutama setelah sarapan pagi dan sebelum tidur malam,“ imbaunya.
Selain itu, masyarakat direkomendasikan untuk periksa rutin ke dokter gigi setiap enam bulan sekali, baik ada atau tidak ada keluhan. Gunanya untuk mendeteksi adanya kelainan dini dan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih parah.
drg. Citra juga menjelaskan, kehilangan gigi jika terjadinya pada gigi geligi depan akan menjadi persoalan estetika bagi seseorang, yang akan mempengaruhi kepercayaan dirinya.
Selain itu kondisi tersebut juga akan berdampak pada artikulasi bicara dan kesulitan menggigit. Sementara apabila kehilangan gigi terjadi pada gigi belakang yang terganggu adalah fungsi pengunyahan dan berpotensi menyebabkan seseorang hanya mengunyah menggunakan satu sisi mulut, yang lama-kelamaan dapat memicu gangguan pada sendi rahang.
Selain itu, adanya area kosong yang ditinggalkan oleh gigi yang tanggal juga bisa menyebabkan pergeseran gigi sebelah menyebelahnya, sehingga menyebabkan susunan gigi menjadi tidak rapi yang dapat berakibat sulit untuk dibersihkan.
“Gigi yang kehilangan pasangan dapat menyebabkan gigi antagonisnya ekstrusi sehingga posisi gigi menjadi berubah dan berkontak tidak baik satu sama lainnya sehingga mudah terjadi karies atau gigi goyang,” jelasnya.
Oleh karena itu, drg. Citra mengimbau konsekuensi atas tindakan pencabutan gigi pada seseorang sebaiknya diikuti segera dengan perawatan penggantian gigi yang hilang dengan gigi tiruan agar fungsi rongga mulut tetap optimal. Pilihan perawatannya mulai dari gigi tiruan lepasan, bridge atau gigi tiruan cekat, hingga implan gigi.
Dalam kesempatan tersebut, drg. Citra juga menyinggung penanganan khusus pada anak-anak yang kehilangan gigi sulung maupun permanen. Menurutnya, kondisi itu perlu segera ditangani untuk menjaga ruang pertumbuhan rahang dan gigi-geligi lainnya.
Sementara bagi pasien lansia maupun penderita penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi, diperlukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu sebelum dilakukan tindakan pencabutan gigi. Dia juga meluruskan mitos yang berkembang di masyarakat soal pencabutan gigi atas yang disebut dapat menyebabkan kebutaan. “Itu mitos dan tidak benar secara medis,” tegasnya. (*)
Sebagai informasi tambahan, drg. Citra selain mengajar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya juga setiap hari aktif berpraktek di Poli Gigi RSIA Galeri Candra, kawasan Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang.
Editor : A. Nugroho