Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Awas Tertular, 27 Warga Malang Terinfeksi Penyakit Malaria

Indah Mei Yunita • Jumat, 12 Juni 2026 | 16:17 WIB
Nyamuk anopheles betina dapat menularkan parasit plasmodium, penyebab penyakit malaria. (Magnific).
Nyamuk anopheles betina dapat menularkan parasit plasmodium, penyebab penyakit malaria. (Magnific).

 

KEPANJEN - Masyarakat harus tetap waspada terhadap intaian penyakit malaria. Utamanya bagi yang bepergian ke daerah endemis malaria. Oleh karena itu, lonjakan kasusnya tidak dapat diperkirakan karena bergantung jumlah penduduk yang bermigrasi dari daerah endemis.

Sebagai informasi, malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan parasit plasmodium. Malaria ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang terinfeksi.

“Rata-rata penderita malaria di wilayah Kabupaten Malang merupakan usia produktif dengan rentang usia 20-45 tahun,” ujar Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kabupaten Malang Chairiyah kemarin (11/6).

Berdasar data dinkes, pada 2024 lalu tercatat 86 kasus dengan nihil kematian. Jumlah tersebut menurun pada 2025, namun fatalitas bertambah. Yakni 52 kasus dengan satu kematian.

“Tahun ini, dari Januari sampai Mei ini, kami mencatat ada 27 kasus malaria,” katanya.

”Kasus terbanyak berada di wilayah kerja Puskesmas Ardimulyo, Singosari dengan status pekerjaannya TNI,” tambahnya.

Dia menjelaskan, malaria ditandai dengan trias malaria. Berupa fase menggigil hebat, demam tinggi, dan banyak berkeringat saat suhu tubuh turun. Siklus tersebut terus berulang setiap 1-3 hari tergantung infeksi parasitnya.

Tanda fisiknya dapat disertai anemia, pembesaran limpa, nyeri otot, mual, muntah, dan tubuh sangat lemah. Dalam beberapa kasus berat, dia melanjutkan, pasien dapat mengalami halusinasi.

”Malaria dapat disembuhkan dengan pemberian obat anti-malaria spesifik. Misalnya Artemisinin-based Combination Therapy (ACT) bagi penderita positif malaria dan rawat inap,” kata dia.

Pada penderita malaria berat atau sampai tidak sadarkan diri, pasien akan diberi obat injeksi berupa artesunate sampai pasien dapat melanjutkan obat oral. Pasien juga perlu pemantauan ketat dan follow up pengobatan untuk memastikan pasien bebas dari infeksi parasit. Follow up malaria dilakukan pada hari ke 3, 7, 14, 21, 28, hingga tiga bulan dengan pemeriksaan darah mikroskopis.

Dia juga menyebut, waktu waspada malaria yakni pada malam hari. Penyakit tersebut dapat dicegah dengan menggunakan lotion atau obat anti-nyamuk, menggunakan pakaian tertutup pada malam hari, dan menggunakan kelambu berinsektisida.

Selain itu, juga bisa melalui pengendalian habitat malaria. Yakni berupa kegiatan pengangkatan lumut pada lagoon, larvasidasi, modifikasi lingkungan di genangan air yang berhubungan langsung dengan tanah.

Kemudian, upaya notifikasi kasus yang dicurigai sebagai malaria tidak lebih dari 1x24 jam kepada petugas kesehatan harus dilaksanakan agar dapat diidentifikasi. Di samping itu, pemeriksaan mikroskopis terhadap pasien pelaku migrasi dari daerah endemis yang bergejala dan dicurigai sebagai malaria juga harus rutin dilakukan.

Agar dapat melaksanakan pemeriksaan, survei migrasi penduduk perlu dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan dini. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan positif, dilakukan validasi kasus dan analisis sumber maupun asal penularan malaria. Sedangkan pasien akan diberikan pengobatan. Sementara itu, lingkungan pasien pun akan diamati ada atau tidaknya habitat nyamuk. (yun/dan).

Editor : Mahmudan
#kesehatan malang #Malaria Malang #malaria