Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

5 Fakta Fenomena Bediding yang Membuat Malang Raya Terasa Sangat Dingin

Fasya Mumtahanah • Senin, 15 Juni 2026 | 02:00 WIB
PAGI BERKABUT: Suhu Dingin yang Menyerang saat Musim Bediding (Sumber: Istimewa).
PAGI BERKABUT: Suhu Dingin yang Menyerang saat Musim Bediding (Sumber: Istimewa).

RADAR MALANG - Warga Malang Raya mulai merasakan penurunan suhu udara yang signifikan sejak akhir bulan Mei lalu. Udara yang lebih dingin dibanding biasanya, terutama saat malam hingga pagi hari, menandakan telah dimulainya musim bediding.

Musim bediding merupakan proses alamiah yang biasa terjadi ketika musim kemarau. Fenomena tersebut kerap dialami masyarakat di wilayah selatan garis khatulistiwa, seperti Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Berikut fakta-fakta terkait fenomena tersebut.

Baca Juga: Kenapa Malang Tiba-Tiba Dingin? Ini Penjelasan Fenomena Bediding

Posisi Matahari di Utara Garis Khatulistiwa

Saat pertengahan tahun, posisi matahari berada jauh di utara garis khatulistiwa. Akibatnya, belahan bumi bagian selatan khatulistiwa menerima panas yang lebih sedikit.

Pengaruh Musim Dingin di Australia

Saat pertengahan tahun, Australia sedang diselimuti salju. Musim dingin membuat tekanan udara di Australia lebih tinggi dibandingkan wilayah Indonesia. Perbedaan tekanan udara tersebut membentuk angin muson timur yang bergerak dari wilayah Negeri Kanguru menuju Indonesia.

Massa udara yang dibawa angin tersebut memiliki karakteristik yang lebih kering dan dingin. Angin muson timur juga sedikit membawa uap air yang akan menyentuh suhu minimumnya pada malam hari. Hal itulah yang menyebabkan suhu udara lebih dingin di wilayah selatan Indonesia.

Baca Juga: Warga Malang Mulai Kedinginan, Fenomena Bediding Diprediksi lebih Ekstrem dan Berlangsung hingga Agustus

Disebabkan Minimnya Awan

Salah satu faktor utama bediding adalah tutupan awan sangat sedikit ketika kemarau. Panas matahari yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih mudah terlepas kembali ke atmosfer saat malam hingga dini hari. Hal itu mengakibatkan suhu udara pada malam hingga pagi menjadi lebih rendah dan terasa lebih dingin dari biasanya.

Berdampak pada Kesehatan

Bediding dapat memicu infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) karena mempermudah penyebaran virus influenza dan rhinovirus. Selain itu, udara dingin yang masuk ke organ paru-paru dapat memicu radang dengan risiko lebih besar pada lansia dan anak-anak.

Baca Juga: Fenomena Bediding Kembali Terjadi di Malang Raya, Suhu Bisa Turun hingga 17 Derajat

Bediding juga memperbesar risiko asma kambuh bagi penderitanya karena penyempitan saluran nafas akibat suhu udara dingin.

Bagi masyarakat yang memiliki gangguan sendi, bediding berisiko memperparah nyeri dan rematik karena pembuluh darah menyempit sehingga otot kekurangan aliran darah.

Mengancam Sektor Pertanian dan Peternakan

Suhu yang mendekati titik beku, terutama di wilayah dataran tinggi, berpotensi menyebabkan fenomena embun es atau dikenal dengan embun upas. Kondisi itu bisa mengakibatkan tanaman membusuk dan mati kering atau gagal panen.

Baca Juga: Bediding Melanda Malang Raya, Ini Penyebab Suhu Dini Hari Terasa Sangat Dingin

Selain itu, bediding juga memengaruhi kesehatan hewan ternak. Dampak yang muncul terutama pada penurunan nafsu makan dan daya tahan tubuh. Hewan ternak juga rentan mengalami stres dan berisiko mengalami kematian akibat hipotermia.

Editor : Aditya Novrian
#Kemarau #bediding #suhu dingin