KEPANJEN - Dibanding orang dewasa, demam berdarah dengue (DBD) lebih rentan menyerang anak-anak. Sistem imun yang belum sempurna menyebabkan anak lebih gampang terinfeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, sepanjang 2025 lalu terdapat 463 anak menderita DBD. Usianya 0-10 tahun. Penderita dari kalangan anak-anak sekitar 25,39 persen dari total 1.823 kasus DBD.
”Tahun ini, dari Januari hingga 10 Juni lalu ada 374 kasus DBD. Dari jumlah tersebut, 99 di antaranya menyerang anak-anak,” ujar Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kabupaten Malang Chairiyah beberapa waktu lalu.
Selain karena sistem imun yang lemah, faktor lain yang membuat anak-anak lebih rentan karena sering beraktivitas di luar rumah. Misalnya sekolah dan tempat bermain.
Riwayat infeksi DBD yang berulang juga dapat memicu keparahan (infeksi sekunder). Anak dengan penyakit penyerta lainnya, misalnya diabetes, jantung, dan obesitas dapat mengalami risiko terjadinya komplikasi.
“Status gizi anak yang buruk dapat meningkatkan risiko keparahan infeksi,” kata dia.
Chair menjelaskan, gejala awal DBD pada anak dan dewasa terletak di tingkat keparahan. Gejala DBD pada anak umumnya lebih ringan dibanding dewasa. Pada anak, dia melanjutkan, gejala dapat berupa demam, muncul ruam di tubuh, mudah lelah, dan rewel seperti penyakit flu biasa lainnya. Sedangkan pada dewasa lebih jelas. Ada demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot atau sendi, pendarahan, mual, dan muntah.
Orang yang memiliki gejala tersebut juga harus mengenali tanda bahaya. Misalnya nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, menolak makan atau minum, pucat atau lembap, hingga muncul pendarahan seperti mimisan atau gusi berdarah, hingga penurunan frekuensi buang air kecil selama 4-6 jam.
“Jika terdapat tanda gejala tersebut harus segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat. Apalagi pada anak yang biasanya sulit mengeluh secara spesifik dan hanya menangis. Sehingga orang tuanya harus lebih jeli mengenali tanda bahaya tersebut,” ucap Chair.
Menurutnya, penanganan DBD pada anak dan dewasa tetap sama. Perbedaannya kemungkinan ada di dosis atau obat yang diberikan. Penanganan awal yang dapat dilakukan adalah istirahat total dan fokus pada penurunan demam. Kebutuhan cairan juga harus tercukupi supaya terhidrasi dengan baik. Di samping itu, nutrisi juga harus seimbang dengan pemberian makanan bergizi.(yun/dan).
Editor : Mahmudan