MALANG, RADAR MALANG – Sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Malang Raya mulai memasuki musim kemarau. Salah satu fenomena yang lazim terjadi ketika musim ini adalah bediding, yaitu turunnya suhu udara secara signifikan ketika malam dan pagi hari.
Menjelaskan terkait fenomena tersebut, Forecaster on Duty atau prakirawan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Karangploso, Retno Wulandari menyebut bahwa periode bediding tahun ini baru saja dimulai.
Baca Juga: Bediding Datang Lebih Awal, Suhu Malam hingga Pagi di Malang Raya Kian Menggigit
"Di wilayah Malang Raya, bediding diprakirakan terjadi selama bulan Juli hingga Agustus mendatang dan suhu minimum akan berangsur meningkat pada bulan selanjutnya. Untuk puncak bediding umumnya terjadi di bulan Juli," katanya.
Fenomena tersebut biasa dialami masyarakat di wilayah selatan garis khatulistiwa, seperti Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Terdapat sejumlah faktor penyebab yang dapat menjelaskan munculnya fenomena alam tersebut.
Baca Juga: 5 Fakta Fenomena Bediding yang Membuat Malang Raya Terasa Sangat Dingin
Posisi Matahari di Utara Garis Khatulistiwa
Saat pertengahan tahun, posisi matahari berada jauh di utara garis khatulistiwa. Akibatnya, belahan bumi bagian selatan khatulistiwa menerima panas yang lebih sedikit.
Musim Dingin di Australia
Saat pertengahan tahun, Australia sedang mengalami musim salju. Musim dingin tersebut membuat tekanan udara di Australia lebih tinggi dibandingkan di wilayah Indonesia. Perbedaan tekanan udara tersebut membentuk angin muson timur yang bergerak dari wilayah Negeri Kanguru menuju Indonesia.
Baca Juga: Kenapa Malang Tiba-Tiba Dingin? Ini Penjelasan Fenomena Bediding
Massa udara yang dibawa angin tersebut memiliki karakteristik yang lebih kering dan dingin. Angin muson timur juga sedikit membawa uap air yang akan menyentuh suhu minimumnya pada malam hari. Hal itulah yang menyebabkan suhu udara lebih dingin di wilayah selatan Indonesia.
Tutupan Awan yang Sedikit
Ciri khas bediding adalah perbedaan suhu yang relatif ekstrem antara siang dan malam hari. Hal itu karena pada musim kemarau, jumlah awan di lapisan atmosfer bumi lebih sedikit. Akibatnya, panas matahari di siang hari yang tersimpan di permukaan bumi akan lebih mudah terlepas kembali ke atmosfer saat malam hari.
Baca Juga: Fenomena Bediding Kembali Terjadi di Malang Raya, Suhu Bisa Turun hingga 17 Derajat
Semakin Dingin karena Badai Tropis
Selain muson timur, wilayah utara Indonesia juga menyumbangkan penyebab suhu dingin saat kemarau. Keberadaan badai tropis tersebut dapat memperkuat aliran udara dari Australia ke Asia. Akibatnya, beberapa wilayah termasuk Jawa Barat akan menerima uap air yang cukup tinggi dan udara semakin dingin.
Editor : Aditya Novrian