KEPANJEN, RADAR MALANG – Angka penderita HIV/ AIDS di Kabupaten Malang terbilang tinggi. Jumlahnya juga terus bertambah, meski tidak sedikit yang meninggal dunia. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mengungkap tahun ini ada 1.141 penderita HIV/AIDS. Mayoritas berasal dari kalangan penyuka sesama jenis alias gay.
“Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari 2024 lalu,” ujar Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kabupaten Malang Chairiyah kemarin.
Dari 1.141 penderita, 671 orang di antaranya berjenis kelamin laki-laki, kemudian sisanya 470 perempuan. Angka tersebut mengalami perubahan karena tidak sedikit penderita HIV/AIDS yang meninggal dunia.
Terhitung Januari-Agustus 2025, jumlah penderita yang masih hidup mencapai 1.278 jiwa. Lokasinya tersebar di 33 kecamatan se-Kabupaten Malang. Kebanyakan dari mereka tergolong berada di usia produktif, 25-49 tahun. Sedangkan dalam setahun, 2024-2025, 137 penderita meninggal dunia.
Untuk penularannya, Chairiyah menyebut ada beberapa kelompok. “Semua dari hubungan seksual,” kata aparatur sipil negara (ASN) Pemkab Malang itu.
Baca Juga: Dua Tahun, Dinkes Kota Malang Catat 101 Pengidap HIV/AIDS Putus Berobat
Ada kelompok yang berhubungan seks berisiko tinggi seperti tidak pakai kondom tapi berganti pasangan maupun riwayat penyakit kelamin seperti sifilis dan gonore. Lalu, dia melanjutkan, ada Lelaki seks Lelaki (LSL) atau homoseksual, wanita yang bekerja sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK), lelaki pelanggan PSK, pasangan yang menderita HIV/ AIDS (OD HIV), dan penggunaan jarum suntik bergantian untuk konsumsi narkotika. Tidak ketinggalan, transgender.
Dari kelompok tersebut, kelompok gay atau homo seksual yang tertinggi. “Kalau melihat populasi total dari 2024 sampai sekarang yang berjumlah 1.141 orang itu, angka LSL itu mencapai 16 persen,” ungkap dia.
Sementara kelompok lain angkanya masih di bawah. Pelanggan PSK dan pasangan risiko tinggi berada di angka 10 persen, wanita PSK 8 persen, dan pasang an ODHIV 7 persen. Terakhir, transgender dan pemakaian jarum bergantian masing-masing 1 persen.
Baca Juga: Kasus HIV Meningkat, Dinkes Malang Perkuat Pencegahan Lewat Metode ABCDE
Chairiyah menyebut bahwa tren lelaki yang berhubungan seks dengan sesama jenis kian tahun kian meningkat. Tapi kebanyakan semua kelompok itu teridentifikasi menderita HIV sejak masih fase awal. “Sebanyak 70 persen diperiksa di puskesmas. Sisanya itu yang sudah mulai parah dirawat di Rumah Sakit (RS),” kata dia.
Mengingat penyakit ini belum bisa disembuhkan, Chairiyah mengatakan, penurunan jumlah penderita disebabkan dua kemungkinan. Yakni meninggal dunia atau pindah ke lain daerah.
Dia menyebut empat program untuk penanganan HIV/ AIDS. Pertama adalah pencegahan. Dalam pencegahan ada empat hal yang dia lakukan. Yakni kombinasi pencegahan berupa penyediaan kondom dan pelicin, skrining, pengobatan IMS (infeksi menular seksual) jenis lain seperti gonore dan sifilis, lalu alat suntik steril dan terapi rumatan metadon.
“Ini khusus diberikan pada populasi kunci. Dalam hal ini transgender, homo seksual, PSK perempuan, para pengguna narkoba suntik, dan warga binaan pemasyarakatan (WBP),” sebut Kadinkes Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo.
Kedua, dia melanjutkan, pengawasan atau surveilans HIV. Dengan melakukan testing, termasuk skrining mandiri di fasyankes serta Early Infant Diagnosys pada bayi lahir dari ibu positif HIV. Lalu, tracing dengan melakukan notifikasi pada pasangan dan anak. Dilanjutkan pengamatan epidemiologi HIV mulai dari pengumpulan, pengolahan, analisis, interpretasi dan diseminasi.
Ketiga adalah penindakan saat ditemukannya kasus dengan pengobatan ARV, IMS dan infeksi oportunistik. Juga pemberian terapi pencegahan tuberkolosis (TBC), multi month dispensing atau pemberian obat HIV sekaligus lebih dari satu bulan bagi yang pengobatannya teratur, melakukan upaya eliminasi penularan HIV, sifilis dan hepatitis B dari ibu ke anak, serta menyediakan akses pemantauan pengobatan dengan pemeriksaan viral load HIV.
Keempat adalah promo si kesehatan. “Melakukan edukasi pencegahan dengan tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah, penggunaan kondom saat berhubungan seks, dan lain sebagainya,” tandasnya.(biy/dan)
Editor : A. Nugroho