MALANG, RADAR MALANG – Generasi Z saat ini lebih sering membuka aplikasi mediasi daripada datang ke psikolog. Bukan tanpa alasan, tiga faktor utamanya adalah biaya, akses, dan rasa aman dari opini negatif masyarakat.
Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey menunjukkan 15,5 juta atau 34,9 persen remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Namun, hanya 2,6 persen yang benar-benar mengakses layanan konseling profesional.
Artinya, sebagian besar remaja mengalami kondisi stres dan depresi yang mengarah pada peningkatan masalah psikologis dan masih enggan berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog.
Baca Juga: Fenomena Doomscrolling Makin Marak, Kebiasaan Ini Diam-Diam Berdampak pada Kesehatan Mental
Konsultasi psikolog tatap muka biasanya mulai dari ratusan ribu sampai jutaan rupiah per sesi. Sementara konsultasi pada aplikasi langganan chat tanpa batas yang harganya hanya puluhan ribu per bulan. Bagi mahasiswa atau pekerja muda, hal ini sangat memudahkan mereka tanpa mengeluarkan biaya yang banyak.
Media sosial memiliki peran besar dalam diskusi kesehatan mental bagi Gen Z. Keterbukaan ini membuat Gen Z lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental dan lebih cepat mencari bantuan jika diperlukan.
Dengan akses informasi yang luas, keterbukaan terhadap diskusi, dan kesadaran akan dampak negatif media sosial, Gen Z justru menunjukkan sikap yang lebih proaktif dan bertanggung jawab dalam menjaga kesehatan mental mereka.
Meski begitu, aplikasi bukan pengganti penuh psikolog. Beberapa kajian mengingatkan bahaya self-diagnosis tanpa bimbingan profesional, apalagi untuk kasus yang butuh penanganan serius. Banyak aplikasi justru dirancang sebagai langkah awal sebelum penggunanya dirujuk ke psikolog atau psikiater jika kondisinya memang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Tren ini diperkirakan makin kuat. Beberapa perusahaan di Indonesia sudah mulai menyediakan program kesehatan mental untuk karyawan, tanda bahwa isu ini semakin dianggap serius, bukan sekadar gaya hidup semata.
Editor : Aditya Novrian