MALANG, RADAR MALANG – Kucing memang menggemaskan dan sering menjadi teman bermain favorit anak di rumah. Namun, di balik itu, orang tua perlu waspada karena anak-anak cenderung lebih sensitif dan mengalami alergi terhadap hewan peliharaan.
Dilansir dari Kemenkes, pemicu alergi sebenarnya adalah protein yang terdapat pada kucing, bukan hanya bulunya, dan ini bisa ditemukan pada kulit mati, air liur, dan urin kucing. Protein ini menempel di bulu saat kucing menjilati tubuhnya, lalu menyebar ke udara dan permukaan benda di rumah.
Tanda paling awal biasanya muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah anak bersentuhan dengan kucing. Anak yang mengalami alergi kucing umumnya bersin dan menggosok mata saat berada di dekat hewan ini.
Gejala lain yang perlu diperhatikan orang tua meliputi hidung berair atau tersumbat, mata merah dan gatal, hingga ruam di kulit setelah kontak langsung seperti dijilat atau dicakar.
Baca Juga: Jangan Anggap Sepele! Sengatan Tawon Ndas Picu Reaksi Alergi hingga Mengancam Nyawa
Kapan orang tua harus benar-benar waspada? Jawabannya ada pada riwayat kesehatan keluarga. Risiko alergi jenis ini lebih tinggi pada anak dengan riwayat asma atau alergi lain dalam keluarga. Bahkan, anak yang sebelumnya tidak pernah menunjukkan reaksi apa pun tetap berisiko mengalami alergi saat dewasa jika ada faktor keturunan tersebut.
Kondisi menjadi lebih serius bila anak memiliki riwayat asma. Anak dengan asma pada umumnya juga memiliki risiko alergi terhadap kucing, sehingga kehadiran hewan ini di rumah bisa memicu serangan asma jika tidak diwaspadai.
Tanda bahaya yang wajib membuat orang tua segera membawa anak ke fasilitas kesehatan adalah sesak napas, suara napas berbunyi atau mengi, dan pembengkakan di area wajah atau tenggorokan yang mengarah pada reaksi anafilaksis
Baca Juga: Sering Disepelekan, Pakai Baju Baru Tanpa Dicuci Bisa Picu Alergi Hingga Iritasi
Jika gejala pada anak tergolong ringan, penanganan di rumah biasanya cukup efektif. Namun, bila gejala semakin parah atau anak menunjukkan tanda kesulitan bernapas, konsultasi ke dokter anak menjadi langkah yang tidak boleh ditunda.
Editor : Aditya Novrian