KOTA BATU, RADAR MALANG - Upaya pencegahan stunting terus didorong melalui pemanfaatan pangan lokal yang bergizi dan mudah dikembangkan masyarakat. Salah satunya dilakukan melalui pemberdayaan kader Posyandu di Desa Beji, Kota Batu, melalui inovasi pangan tambahan SOYROBITE (Soya Carrot Bite) berbahan dasar kedelai dan wortel.
Kegiatan tersebut dikemas dalam pelatihan inovasi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal bagi kader Posyandu sebagai bagian dari program pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim dari Politeknik Kesehatan Wira Husada Nusantara Malang dengan melibatkan kader Posyandu Desa Beji, Kota Batu.
SOYROBITE dikembangkan sebagai alternatif makanan tambahan yang memanfaatkan bahan pangan yang mudah diperoleh sekaligus memiliki nilai gizi yang mendukung kebutuhan balita. Kombinasi kedelai sebagai sumber protein nabati dan wortel sebagai sumber vitamin serta zat gizi lainnya diolah menjadi camilan yang lebih menarik dan mudah diterima anak.
Ketua tim pelaksana kegiatan, Mufida Annisa Rahmawati, S.Tr.Keb., M.Tr.Keb., mengatakan bahwa inovasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat menjadi keterampilan yang dimiliki kader dan dikembangkan secara mandiri di lingkungan Posyandu.
“Kami ingin mendorong kader agar tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi mampu menghasilkan PMT lokal secara mandiri dengan memanfaatkan bahan pangan yang ada di sekitar. Harapannya, inovasi sederhana seperti SOYROBITE dapat menjadi salah satu upaya mendukung pemenuhan gizi balita dan pencegahan stunting,” ujarnya.
Dalam pelatihan, para kader mendapatkan pengetahuan mengenai pemilihan bahan, pengolahan, hingga praktik pembuatan SOYROBITE. Dibantu oleh tim yakni Eti Kuswandari.,S.Tr.Keb, M.K.M dan Fitria Aisyah., S.Tr.Keb, M.Kes Kader juga diperkenalkan dengan penggunaan peralatan pendukung produksi sehingga proses pembuatan produk dapat dilakukan secara lebih efektif dan konsisten.
Selain pelatihan, kegiatan tersebut juga memberikan dukungan berupa hibah alat dan teknologi yang dapat dimanfaatkan kader untuk menunjang keberlanjutan produksi PMT lokal di Desa Beji. Kehadiran peralatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kemandirian kader dalam mengembangkan produk pangan bergizi.
Kegiatan ini juga sejalan dengan perkembangan layanan Posyandu yang saat ini mengarah pada penerapan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP). Peran kader semakin strategis dalam mendukung upaya promotif dan preventif, termasuk dalam edukasi serta pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.
Menurut Mufida, keterlibatan kader menjadi penting karena kader merupakan salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa.
“Kader memiliki kedekatan langsung dengan keluarga dan balita di wilayahnya. Karena itu, peningkatan kapasitas kader dalam pengolahan pangan bergizi diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih berkelanjutan,” tambahnya.
Melalui kegiatan tersebut, kader tidak hanya memperoleh keterampilan baru dalam mengolah PMT, tetapi juga didorong untuk memiliki kemampuan memproduksi SOYROBITE secara mandiri. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif PMT lokal yang menarik, bergizi, dan sesuai dengan potensi bahan pangan setempat.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil dilaksanakan berkat dukungan pendanaan penuh dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Republik Indonesia melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun Anggaran 2026. Tim pelaksana juga mengucapkan terima kasih kepada LPPM Politeknik Kesehatan Wira Husada Nusantara Malang yang telah memfasilitasi jalannya program sejak awal pengusulan hingga hilirisasi kegiatan di masyarakat.
Ke depan, inovasi SOYROBITE diharapkan tidak hanya menjadi produk hasil pelatihan, tetapi dapat terus dikembangkan oleh kader Posyandu Desa Beji sebagai bagian dari pemanfaatan pangan lokal untuk mendukung pemenuhan gizi balita dan memperkuat gerakan pencegahan stunting dari tingkat keluarga dan desa. (*)